Sunday, 13 July 2014

error,"Sebuah cerita"

"Puasa?"

"Ya, tapi aku butuh kopi", jawabnya ringan.


"Loh, katanya puasa".

"Ya, tadi. Sekarang aku mau cari warung kopi", dia menjawab ringan seperti tadi.

Aku tertawa mendengarnya.

"Di mana ada warung kopi?", tanyanya sambil menoleh kanan dan kiri, mencari warung kopi.

"Ga ada, tutup semua di sini. Di luar sana adanya", jawabku sambil menunjuk ke arah luar area perkantoran.

"Yuk cari", ajaknya.

"Yuk. Serius mau batal puasa?"

"Aku cape. Ga kuat kalau diteruskan", tanpa menoleh padaku, dia menjawab sambil terus menyetir.

"Ok, ga apa-apa".

"Memangnya kamu puasa?", tanyanya.

"Ya. Tadi puasa".

"Lah, mau ikutan batal?", tanyanya.

"Tadi puasa, sekarang juga masih puasa, weee...!!", jawabku sambil tertawa.

"Yee, kirain mau batal juga", terkekeh dia menoleh padaku.

Tiba-tiba saja kenangan itu muncul lagi. Aku tersenyum mengingatnya.

"Rambutku terlalu pendek.. Potongannya terlalu pendek. Aku ga bisa ke tempatmu".

Aku tersenyum mengingatnya, tak perduli dia mengingat semua ini atau tidak. "Ah, mungkin saat ini dia sudah bisa menyanggul rambutnya sendiri", desahku dalam hati. Terbayang rambutnya yang memutih dengan potongan terlalu pendek, lalu membayangkan dia dengan sanggul yang anggun, sedangkan rambutku sendiri pendek. Aku tersenyum sendiri.

Waktu bergulir begitu cepat. Tapi cerita yang disimpan dalam hidup, akan tetap ada, tak digilas olleh waktu. Aku bersyukur bisa menyimpan kenangan dengan indah, jadi aku bisa tersenyum mengenangnya.

"Sudah selesai melamunnya?"

Aku tersenyum, dan mengangguk.

"Jangan suka melamun, Err", katanya lagi, sambil menjawil lenganku, lalu dilanjutkan dengan pertanyaan,"Sudah pesan? Sebentar lagi buka puasa".

Aku tertawa melihat mimik mukanya yang serius,"Sudah. Aku sudah pesan kopi".

"Loh, kok kopi? Mulai ngopi lagi?", tanyanya. 

"Hahaha, itu untukmu", jawabku.

"Maksudku untukmu. Sudah pesan?".

"Sudah. Mau makan apa?".

"Aku mau makan apa pun yang ada di sini", jawabnya sambil memegang kepalanya. Hmm, ternyata masih juga kepalanya bermasalah. Sejak dulu dia sering sakit kepala.

"Pusing?".

"Sedikit".

"Dokter?".

"Ufh, aku benci dokter. Ga apa-apa, nanti juga sembuh sendiri".

"Okelah, masih sama seperti dulu", jawabku.

Ya, dia masih sama seperti dulu, dengan keseriusan yang sama, dengan senyum yang sama. Sama seperti dulu, sama dengan yang kubayangkan, hanya tanpa sanggul tentunya.

"Bagaimana novelmu?".

"Peti es".

"Hmm...", dia bergumam sendiri.

"Apalagi yang dipeti eskan?".

"Banyak. seluruh mimpiku, semua mimpiku".

"Apa mimpimu?".

"Ada banyak mimpi. Memangnya kamu ga punya mimpi?", tanyaku padanya. Dia tersenyum memandangku.

Ya, ada banyak mimpi yang kupunya, dan cuma aku yang tau... Apakah dia juga ada dalam rangkaian mimpi milikku, hmm.., biarkan saja cuma aku yang tau, bisikku dalam hati. Lalu kulihat dia sibuk dengan kopi yang sudah siap di meja...

*****

error, 13 Juli 14, hi



























error,"Undangan kosong"

"Undangan? Itu undangan apa?", tanyanya dengan nada heran saat kutunjukkan padanya sebuah undangan.

"Undangan pernikahanku", jawabku ringan.

"WHAAAT?? Dengan siapa?", dia berteriak, lalu merenggut undangan dari tanganku, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Mengapa tertawa?", tanyaku.

"Ga ada nama pengantin pria! Cuma ada namamu. Ga ada tempat resepsi, tanggal pernikahanmu juga ga ada. So, undangan ini untuk apa?", tergelak dia sampai airmatanya mengalir.

"Undangan pernikahanku dengan orang yang tidak pernah ada, di tempat yang tak pernah dicipta, pada tanggal yang tak pernah datang. Sebuah undangan untuk diriku sendiri, karena orang yang hendak diundang pun tak pernah ada", jawabku tenang.

"Wong edan!", rutuknya.

Aku cuma tersenyum. Dalam hati, aku berharap namanya akan tertulis di sana, hari, juga tempat pernikahan itu, kuharap akan dicipta dengan cepat. Dia tak pernah tau, sebuah harap dan doa ada untuknya, dalam hati.

*****
error, 12 Juli 14, hi








Friday, 4 July 2014

error,"GUSTI, liburan dong..."

GUSTI,
aku yakin semua ini terindah dariMU
tapi boleh ga
aku mohon
liburan dong GUSTI...
untuk
aku dan tiga kekasih jiwaku
untuk
aku dan tiga nyawa kecilku

GUSTI,
aku yakin semua ini terbaik dariMU
tapi boleh ga
aku mohon
liburan penuh tawa
tanpa airmata
untuk
aku dan tiga sahabat kecilku
untuk aku dan tiga cintaku

GUSTI,
boleh ya?

# error, 04 Juli 2014, harapan indah

error,"GUSTI, dan atm"

GUSTI,
kartu atm udah ada lagi
tapi kok terkuras?
ah,
aku jadi nasabahMU aja deh ya...
jadi ga ada yang bisa curi kuras isi atm ku...

GUSTI,
bank MU aman kan?

# error, 03 Juli 14, harapan indah

GUSTI, akhirnya aku menangis juga...

GUSTI,
menangis
itu 
ga dosa kan?
ga lama kok,
cuma mau hilangkan sesak
ga apa-apa kan?

GUSTI,
tapi aku ga punya tissue
boleh pinjam saputanganMU?

# error, 03 Juli 14, harapan indah...

Wednesday, 2 July 2014

error,"Bi Irah?"

"Nanti akan ada orang yang bertugas membersihkan rumah, mbak. Sekarang mbak sendirian saja, ga takut kan? Lingkungan di sini aman kok. Tetangga juga ga usil. Tenang saja, mbak. Tapi orangnya ga datang besok, ya. Dia masih pulang kampung", ujar pemilik tempat kost yang baru saja kutempati. Aku tersenyum. Bukan masalah untukku tinggal sendirian di rumah. Aku sudah terbiasa sendiri. Pemilik kost tidak tinggal di sini, jauh dari sini.

Hari pertama di sini kuisi dengan kegiatan membereskan kamar yang kutempati. Memasang sprei tempat tidur, memasukkan baju-baju ke dalam lemari, menyapu dan mengepelnya, walau pun sudah terlihat bersih. Lalu mandi. Segar rasanya. Sambil mendengarkan suara musik dari laptop, aku merebahkan diri di tempat tidur. Sunyi membawaku lelap karena lelah...

Suara gemericik air membangunkanku. Ufh, suara air keran mengalir. Rasanya aku sudah menutup keran, tapi kenapa ada suara air keran mengalir? Rasa takut dan penasaran menjadi raja di hati saat ini. Suasana hening dipecah oleh suara air keran, dan ada aktivitas di bagian belakang rumah. Haduh, GUSTI, apa yang harus kulakukan? Jam dinding menunjukkan pukul 5 pagi. Ah, aku harus berani, untuk apa takut? Perlahan aku bangkit dari tidur, duduk, mengenakan sandal karet yang kuletakkan di bawah sisi tempat tidur. Perlahan menuju pintu kamar, memutar kunci, membuka pintu.

"Selamat pagi"

"AAAARRRGGGHHH!!!", aku menjerit sekeras yang kubisa! Seorang perempuan usia sekitar 40 tahunan ada di depanku, tersenyum ramah.

"Saya Irah, mbak. Biasa dipanggil bi Irah. Saya yang membantu pekerjaan di rumah kost ini. Maaf, mengejutkan. Tadi saya sampai di sini malam, mbak. Mbak lupa menggembok pagar, dan lupa mengunci pintu belakang. Jadi saya bisa masuk. Maaf ya mbak", ujar sosok perempuan yang ternyata bernama bik Irah.

"Haduh bi, jantungku hampir copot! Ya sudah kalau begitu, aku tadi sudah takut. Aku pikir maling, atau malah setan. Ufh, legaaaa, legaaaa...", kataku padanya sambil mengelus dada.

Bi Irah tersenyum, lalu permisi untuk melanjutkan pekerjaan rumah. Aku mengangguk, kemudian masuk ke dalam kamar, berniat melanjutkan tidur. Rasanya lebih nyaman saat mengetahui bahwa aku tidak sendirian di sini. Tapi ternyata mataku tak bisa lagi diajak tidur. Akhirnya kuambil novel yang berada di samping bantalku. Novel horor yang baru saja kubeli, dan belum sempat kubaca. Tapi ah, kuletakkan kembali, lalu kuputuskan untuk keluar kamar.

Suasana rumah sepi. Aku menuju belakang, mungkin bi Irah sedang di belakang. Tapi tak kutemukan bi Irah di belakang. Hmm, mungkin sedang menyapu di depan, tapi tak ada juga. Ya sudahlah, lebih baik kembali ke kamar, menyelesaikan artikel yang masih ada dalam draf, mumpung hari libur. Terlalu asyik mengetik, aku baru tersadar ternyata hari sudah siang. Mandi, mandi... Sehabis itu rasa lapar memaksa keluar kamar, sambil tak lupa membawa kunci motor. Rencananya akan makan di warung ujung jalan.

Suasana rumah masih sepi juga. Bi Irah kemana? Entahlah, aku tak perduli. Pintu depan masih terkunci, pagar pun dalam keadaan digembok. Aduh, berarti harus kembali ke dalam rumah.

"Hati-hati, mbak"

"Aaargh, bi Iraaaah...! Jangan suka mengejutkan! Bibi di mana tadi? Aku tidak melihat bibi di dalam tadi", ujarku.

"Bibi di belakang, mbak", jawab bik Irah sambil tersenyum.

"Ya sudahlah, aku mau makan di warung depan. Jaga rumah ya bi"

"Bibi masak, mbak. Makan di rumah saja. Bibi masak sayur asem, tempe goreng, ikan asin, sambal terasi".

"Serius bi?".

"Ya, mbak".

Dan ternyata masakan bi Irah benar-benar lezaaaat..!! Sehabis makan dan mengucap terimakasih, aku pamit kembali ke kamar. Mata tak tahan dengan kantuk yang menggelayut. Mungkin karena kelelahan, tidur menjadi amat pulas. Dan saat terbangun, ternyata jam dinding menunjukkan waktu tengah malam. terdengar suara gemericik air, tapi mataku mengatup lagi, dan nyenyak membawa diri terbang jauh, jauh ke alam mimpi...

Tok tok tok... Hmm, suara ketukan pintu kamar membangunkanku.

"Ya, biiii. Sebentar", aku menjawab suara ketukan tersebut. Perlahan bangun, berjalan, membuka pintu, tapi tak ada siapa-siapa. Uh, tadi berarti hanya mimpi...

"Mbak...".

"Aaargh, bibi...!! Jangan suka mengejutkanku!", teriakku.

"Makan, mbak. Sudah bi Irah siapkan".

Seperti anak kecil, aku menurut saja saat tangan dinginnya menggandengku menuju meja makan. Masakan bi Irah lezat, amat lezat! Sedang menikmati sarapan pagi, teeet... Teeet... Teeet..!

Bel rumah berbunyi. Siapa pagi-pagi bertamu? Bi Irah entah sedang ada di mana, tak terlihat di dalam rumah. Dari kaca ruang tamu terlihat ibu pemilik rumah kost berdua bersama seorang perempuan usia 40 an.

"Eh ibu, sebentar", ujarku sambil membuka gembok pagar. "Ada apa bu, pagi-pagi sudah datang ke sini. Bi Irah sudah datang sejak kemarin. Masakannya enak", tambahku.

"Bi Irah? Bi Irah siapa?", tanya ibu pemilik kost.

"Bi Irah yang bertugas membersihkan rumah, Bu", jawabku.

"Loh, ini Irah, bi Irah", ujarnya, dan perempuan di sampingnya tersenyum padaku.

WHAAAT??? Lalu siapa bi Irah yang ada di dalam? Berlari aku menuju dalam rumah. Masuk langsung menuju ruang makan. Di atas meja ada piring yang tadi aku gunakan untuk sarapan, tapi di dalamnya hanya ada daun-daun kering, entah daun apa... Lalu bintang-bintang berjatuhan ke kepalaku, dan aku tak ingat apa-apa...

*****
-error, diselesaikan 02 Julli 2014, r tamu harapan indah, pagi-pagi...













error,"GUSTI dan amin..."

hai
GUSTI...

riang tawanya
pasti
mengisi dengarMU
dan
senyum indahnya
juga
penuhi pandangMU

hai
GUSTI...

senyum itu mencerna senyumMU
tawa itu menjelmakan tawaMU
hiasi hati
tak perduli
mendung dan gelegar
guncang gerak tubuh
obrak-abrik oksigen yang hendak masuk paru-paru
gebrak aliran darah
gangggu detak jantung
lemahkan syaraf-syaraf
halau kekebalan tubuh

GUSTI,
tenang menyelimut ikhlas

indah ya, GUSTI...

mohonku
senyum dan tawaMU
tetap ada
merekat erat...

dan
senyum,
dan
tawa,
melukis kata,"Amin"
berbarengan dengan peluh basahi tubuh kecilnya...


# error, 02 Juli 2014, 00.33, harapan indah, saat menjaga dan memandang Pink yang berpeluh saat lelap


Tuesday, 1 July 2014

error,"GUSTI dan suara"

GUSTI,
selamat pagi... (diam)

GUSTI,
selamat siang... (hening)

GUSTI,
selamat sore... (sunyi)

GUSTI,
selamat malam... (tak berjawab)

GUSTI,
ini aku... (senyap)

GUSTI,
aku datang... (sepi)

tetiba
suara
jawaban
datang
menyisir
ruang
hati

dalam
diam
hening
sunyi

ah,
GUSTI
ada di sini
terhalang gemuruhku sendiri
tersenyum
mendengar ombak amarah hati

ah,
GUSTI
berbisik
lirih
dan
baru
dapat
didengar
saat
hati
siap
mendengarNYA...


#error, 01 Juli 2014, harapan indah, menjaga Pink yang barusan saja nyenyak...

















error,"Catatan untuk nduk..."

nduk, 
kita tidak sedang bertahan dalam autoimun
juga tidak sedang berjuang karena autoimun
tapi 
kita sedang menghadapi, 
menjalani, 
dan menikmati
hidup 
dengan autoimun...

nduk,
kita tidak terpaksa tersenyum dalam susah
juga tidak terpaksa tertawa saat parah
tapi
senyum kita tertancap di sini
karena
kita memang tersenyum
kita memang tertawa
dalam kejadian apa pun yang terjadi

nduk,
airmata memang kadang mengalir
tapi bukan karena menyesali keadaan
juga bukan karena marah pada kehidupan
tapi
karena ada GUSTI yang mengetahui segalanya
ada GUSTI yang mendengar
GUSTI yang membelai
GUSTI yang mengasihi
GUSTI yang mencintai
GUSTI yang setia
dan
kita benar menghadapi
kita benar menjalani
kita benar menghadapi
kita benar tersenyum
kita benar tertawa
kita benar menangis
karena
GUSTI di sini
bersama kita...

nduk,
genggam tangan mama,
mama dekapmu erat
jika kamu lepaskan genggamanmu dari tangan mama,
mama dekapmu lebih erat lagi...

nduk,
ada cinta
bahagia
sukacita
dalam
detik
detak
denyut
hidup
kehidupan
dan
ada kita di dalamnya...

# error, 01Juli14, r tamu harapan indah, pagi-pagi memandang Zita Pinky Godea... luv u nduk