Saturday, 15 November 2014

error,"Gadis berkaus cokelat".

Ada banyak teman yang menganggap bahwa gue berani untuk melihat sosok-sosok ga nyata, sosok-sosok dari dunia yang berbeda. Itu karena mereka tahu tentang gue yang memang kebetulan bisa melihat dan merasakan kehadiran sosok-sosok tersebut. Tapi sesungguhnya, gue takut, ga berani untuk melihatnya, cuma mau bagaimana lagi, kenyataannya gue melihat, tanpa bisa menghindar.

Semalam gue sedang di luar pagar rumah. Gue merasa ada Pink di sebelah gue. Sama-sama diam, sama-sama tanpa kata-kata. Ga aneh kan? Tapi sewaktu gue menoleh ke kanan, Pink ga ada di sebelah gue. Ga aneh juga kan? Pink ada di ruang tamu, asyik nge-games. Cuma lumayan kaget karena pink sudah mengganti kausnya. Pink mengenavan kaus berwarna pink, sedangkan tadi mengenakan kaus berwarna cokelat.

"Nduk, kamu ganti kaus?", tanya gue pada Pink.

"Ga, Ma", jawab Pink dengan tetap asyik nge-games.

"Tadi kamu pakai kaus cokelat".

"Mama, dari tadi Pink ga ganti kaus".

"Tadi kamu berdiri di sebelah Mama, kan, di luar?".

"Dari tadi Pink di sini, Mama, nge-games".

Oops, jadi, siapa yang tadi menemani gue di luar? Gadis berkaus cokelat. Dan baru gue sadari, gadis tadi berambut pendek, sedangkan Pink berambut panjang!

Siapa bilang gue ga takut? Gue takut, pastinya. Tapi ya sudahlah, berarti 'gadis' tadi berbaik hati menemani gue yang sendirian di depan pagar memandang sawah depan rumah. Siapa si 'gadis' itu? Gue ga tahu. Dia menghilang saat gue menoleh ke kanan, ke arahnya berdiri.

Rasa-rasanya gue ga akan lagi berdiri sendiri di depan pagar saat malam datang. Ngeri juga siapa tahu si 'gadis' berkaus cokelat datang lagi menemani. Iya kalau dia datang sendiri. Lah kalau 'keluarganya' ikut semua menemani gue, gimana? O ow, tidaaak...!


Salam senyum,
error


Friday, 7 November 2014

error,"Ingkar"

Sebenarnya ini cerita tentang 2 tahun yang lalu, setelah beberapa bulan sakit dan pertama kali lumpuh tangan.

Disarankan oleh dokter yang waktu itu memeriksa kondisi Pink, untuk membawa Pink ke seorang psikolog anak, karena khawatir kondisi psikis menjadi kurang baik setelah berbulan-bulan ga sekolah, hanya di rumah, dan bolak-balik kontrol ke rumah sakit. Di taxi, dalam perjalanan menuju rumah, gue teringat seorang teman kuliah dulu, perempuan yang juga seorang psikolog, yang membuka taman kanak-kanak sekaligus jasa konseling, dan kebetulan bertempat tinggal lumayan ga begitu jauh dari perumahan tempat gue tinggal. Saat itu juga gue menghubungi dia. Dia meminta gue datang saat itu juga, karena kebetulan memang sedang kosong jadwal, katanya. Gue bertanya pada Pink, apakah Pink mau untuk konseling dengan teman gue itu yang sudah dikenalnya, dan apakah Pink kuat untuk pergi lagi setelah tiba di rumah. Jawaban Pink adalah ya. Sip, berarti sesampai di rumah, Pink dan gue akan pergi lagi ke tempat teman gue itu, naik motor.

Pink duduk lemah di boncengan motor. Berdua ke tempat teman gue. Semangat untuk menjadi sehat fisik dan psikis! Gue bangga pada Pink yang selalu bersemangat untuk sehat. Ga berapa lama, sampai juga di tempat teman gue. Disambut dengan senyum, rasanya lega banget. Gue bersyukur ada teman yang bisa dihubungi. Setidaknya, ga jauh dari rumah, dan Pink sudah mengenalnya, jadi konseling pasti berlangsung lebih mudah, dan lancar. Gue berharap konseling yang akan dijalani oleh Pink, akan membuat rasa percaya dirinya pulih. Bayangkan saja, berbulan-bulan sakit, ga berangkat ke sekolah, dan jelas ga mempunyai teman.

Semenit, dua menit, sepuluh menit, lima belas menit, setengah jam, ga ada konseling. Teman gue sepertinya menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Gue mulai khawatir dengan kondisi Pink yang terlihat melemah. Tapi gue masih menahan diri, diam, menunggu. Tunggu ditunggu, teman gue malah tambah sibuk. Apakah dia lupa tadi dia yang memberi jadwal konseling untuk Pink? Dua jam sudah Pink menunggu, dan gue ga melihat tanda-tanda teman gue akan jadi konselor untuk Pink, malah semakin terlihat menyibukkan diri.

Akhirnya gue menyadari ternyata teman gue memang ga ingin jadi konselor untuk Pink. Padahal kalau dia terus terang mengatakan,"Ga mau", atau,"Ga bisa", itu ga masalah kok untuk gue. Atau mungkin dia takut ga gue bayar? Gue menghubungi untuk konseling, pastilah gue juga sudah bersiap untuk membayar biaya konseling. Gue pamit pulang, teman gue mengantar ke depan. Gue menyempatkan diri berbisik,"Terimakasih".

Sampai saat ini gue ga tahu alasan teman gue yang sebenarnya kenapa dia bersikap begitu. Tapi ya sudahlah, itu jadi pelajaran berharga untuk gue dan anak-anak gue, supaya ga bertindak dan bersikap ingkar seperti itu. Membuat janji berarti dituntut konsekuensi. Pelajaran berharga banget yang selalu gue ingat. 



Salam senyum,
error





Saturday, 1 November 2014

error,"Cinta kasih dan bully".

Sebuah lagu dari masa kanak-kanak masih terpatri di ingatan dan kenangan, tentang kasih ibu yang tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Seorang ibu memancarkan kasih yang lembut, melindungi. Ibu tidak akan menyakiti seorang anak, baik fisik mau pun psikis. Begitu mulianya seorang ibu. Begitu damainya bersama ibu. Ibu memberi indah dan kebahagiaan pada anak.

Tapi banyak juga kenyataan kasus per kasus yang berbeda dengan hal itu, tentang seorang ibu yang seharusnya lembut, mengasihi dengan cinta yang luar biasa, mendamaikan hati, menggebyarkan hidup dengan kebahagiaan yang penuh. Seorang ibu memukul anaknya, memaki anaknya, membimbing anak dengan penuh kemarahan, mengajari anak tanpa kasih. Makna seorang ibu menjadi buram, kusam, hilang... Ibu tak lagi mendamaikan, tak lagi penuh cinta kasih. Yang menyedihkan, ibu tak menyadari sedang membentuk pribadi anak, terekam hingga dewasa. Lalu sang anak yang dewasa tak menyadari bahwa dia pun sudah menjadi 'ibu'. Perlakuan dan penyikapan terhadap kejadian yang berhubungan dengan anak, terjadi lagi. Rantai tanpa kasih ini terus menerus menjadi semakin rumit.

Ga cuma sekali gue mendengar seorang ibu membentak anaknya hanya karena sebuah kesalahan kecil, dan malah seringkali bukan karena sebuah kesalahan. Loh kok bisa? Iya, cuma untuk meminta anaknya mandi, diucaplah nada memerintah, berteriak. Mungkin terlihat sepele, padahal yang 'sepele' itu pun membentuk pribadi anak. Menurut gue, itu sebenarnya bentuk pengenalan di-bully pertama pada anak, tapi orangtua ga merasa bahwa sedang mem-bully, alih-alih bahwa itu bagian pengajaran disiplin, pengajaran penuh ketegasan untuk anak.

Ga adil ya, gue cuma menyorot tentang Ibu? Bapak juga banyak kok yang seperti itu. Tapi memang gue cuma ingin menyorot ibu aja, karena lagu masa kecil itu, yang indah banget tentang kasih seorang ibu, dan gue seorang ibu dari Ngka, Esa, dan Pink. Gue bukan seorang yang lembut, tapi gue ga mau mengasari anak, apalagi dengan alih-alih pelajaran disiplin. Semua berpulang pada diri sendiri, hendak membentuk anak seperti apa dengan cara bagaimana.

Mengasihi dan mencintai, adalah hal indah yang semua orang dambakan. Anak, tentunya juga mendambakan itu. Dan kasih, cinta, ga akan menyakiti siapa pun, tapi pasti mendamaikan. Gue rasa, membentak bukan bagian dari pendamaian dalam hati.

Mencintai dengan cinta kasih yang damai, atau membully dengan alih-alih cinta kasih? Silakan pilih, semua kembali pada diri sendiri.

Damai, bahagia selalu, amin...

Salam senyum,
error

































error,"Pohon Nenangga".

Di depan rumah gue ada pohon jambu air, persis di depan tembok pagar rumah yang gue tempati bersama Ngka, Esa, dan Pink. Pohon jambu airnya memang rajin banget berbuah, ga berhenti berbuah. Siapa pun boleh memanjat, memetik, mengambilnya menggunakan galah. Dengan cara apa pun, jambu air boleh diambil, dan disantap siapa pun, tanpa perlu repot-repot minta ijin.

Tadi sewaktu gue sedang mengobrol santai dengan Ngka, dan pink, tiba-tiba,"Woi, Bu! Ayo rujakaaan!". Gue kaget banget! Ibu tetangga sebelah rumah, tiba-tiba nongol kepalanya dari balik tembok pagar. Gue tertawa, lalu berjalan ke teras. Tetangga gue asyik dengan galahnya, mengambil jambu air.

"Saya suka manjat, Bu".

"Bisa manjat?", tanya gue.

"Iya, saya manjat ambil jambu. Tapi saya ga suka rujak. Yang suka rujak tuh anak saya. Saya lebih suka makan jambu gini aja", lanjutnya sambil mengambil sebuah jambu air, memasukkan ke mulutnya.


Pohon jambu depan rumah memang pohon jambu air biasa, tapi menurut gue, pohon jambu air ini adalah pohon jambu air yang baik. Hehe, gimana ga baik, gegara tu pohon, jadi mempermudah bersosialisai dengan tetangga, mudah berkomunikasi dengan tetangga. Yup, pohon jambu air depan rumah gue, patut punya gelar pohon 'nenangga'... 

pohon 'nenangga' di depan rumah



Salam senyum,
error