Wednesday, 30 December 2015

Wish List

Yes, wish list 2015 sudah dicoret semua, yang berarti sudah terpenuhi. GUSTI memang Baik banget, semua kebutuhan dipenuhiNYA. Lalu gue mulai ambil pulpen, tulis wish list untuk 2016.

Satu, dua, tiga, dan ini, dan itu, lalu ini, lalu itu, week! Ternyata panjaaang banget yang ingin dicapai! Itu yang ditulis, dan pastinya ada banyak yang ga tertulis, tapi diucap oleh hati. Eh, itu kan gue, mungkin orang lain ga sebanyak gue ya permintaannya, terlintas di otak ini.

"Duh, GUSTI, ampuni aku ya, begitu banyak permintaan, permohonanku, dan GUSTI penuhi semua. Padahal aku masih saja bandel, suka mengecewakanMU." Dalam hati berbisik.

Wish list yang panjang gue pandangi. Sebegitu panjangnya keinginan diri, tapi kenapa masih begitu pendek ketaatan padaNYA? Airmata jadi meleleh, hati mulai merasa ga enak banget ke GUSTI.

"Duh, GUSTI, malu jadinya. Tahun 2016, tetap sertai aku dan tiga anakku, ya? Dan jangan biarkan kami melangkah keluar dari CintaMU." Airmata masih menderas, sambil memandangi Ngka, Esa, dan Pink, yang saat itu tidur nyenyak.

Wish list, ya, wish list, mengingatkan gue bahwa apa yang gue capai bukan karena kekuatan gue sebagai manusia, tapi karena ada Tangan GUSTI yang selalu ada untuk kami.

"Makasih ya GUSTI."


Salam Penuh Senyum,
Nitaninit Kasapink






Saturday, 26 December 2015

Kerinduan Error

Seorang sahabat yang bertahun menjadi warna hidup, menghilang, dan mungkin ga akan kembali. Menyedihkan? Yup! Memang sedih! Seorang sahabat yang amat berarti untuk gue, menghilang. Sahabat yang memberi nama Error untuk gue!

Sesedih itukah? Ya, sesedih ini. Lagu-lagu Iwan Fals berdendang, juga lagu-lagu Naff. Itu potongan kenangan yang melempar ke masa lalu. Dan juga sekeping batu, yang diberikan untuk gue.



"Gue kangen cerita konyol yang selalu ada."

Salam,
Error




Terperangkap Gelap

"Aku ga mau lihat kamu dalam hidupku!"

Tapi dia tetap saja tersenyum manis padaku. Manis? Hmm, bisa jadi itu memang termanis yang dia miliki! Lebih tepat disebut senyum aneh sebenarnya.

"Pergilah. Aku ga mau da kamu di hari-hariku."

Senyumnya semakin manis! Ah, kenapa juga aku menyebutnya manis, padahal jelas kutahu bukan manis!

"Dengarkan aku, sebentar. Jangan berteriak. Suara dalam hatimu sudah bisa kudengar. Jangan mengusirku." Suaranya memohon, tapi seperti menghipnotis.

"Aku sudah tahu. Sejak dulu kumendengarkanmu, dan itu membuatku aneh!"

"Dengarkan aku."

"Ya."

"Biarkan kubersamamu. Aku tak kan mengganggumu. Lupakanlah yang sudah berlalu. Maafkan aku. Biarkan aku bersamamu. Aku menjagamu, aku berjanji."

"Menjaga? Aku tak butuh penjagaanmu."

"Aku butuh teman, sahabat."

"Bukan aku."

"Hanya kamu. Tak ada seorang pun mau menjadi sahabatku!" Mukanya memerah, terlihat sedang memendam amarah yang amat dalam.

"Aku juga tak mau."

"Kamu mau!"

"Tidak!"

"Cuma kamu yang mau melihat keberadaanku tanpa sorot mata takut."

"Lalu kamu pikir, aku mau berteman, bersahabat? Kamu salah!"

"Tolonglah aku. Aku bosan sendirian."

"Ada banyak temanmu."

"Mereka? Mereka siapa?"

"Mereka yang terus menerus berteriak, tertawa, dan berlagak seperti penguasa!"

"Lupakan mereka. Aku membutuhkanmu sebagai sahabat. Dengarkan ceritaku."

Akhirnya kumengalah, mendengar cerita yang menyedihkan, menyeramkan. Tawanya, tangisnya, menggema di telingaku. 

"Err, bangunlah, sadarlah, Err."

Mama! Itu suara mama! Tapi di manakah mama? Kusapu sekeliling, tak kutemukan mama. Hanya makhluk-makhluk dalam gelap yang berkeliaran.

"Err, sadarlah Err. Sudah 3 hari kamu tidur. Bangun, Err. Bangun, sadar!" Mama dan cemas suaranya masuk ke gendang telingaku. 

Kupandang sosok gelap di hadapan. Senyumnya kian lebar, asyik bercerita dengn suaranya yang menggelegar.

"Tetaplah di sini, jangan pergi. Hanya kamu teman dan sahabatku." Katanya.

Aku berusaha keluar dari gelap, tapi tak bisa, dan tetap di sini bersamanya, mendengarkan ceritanya yang menyayat sekaligus menyeramkan. Sedangkan di dunia luar sana, masih tetp kudengar suara mama berusaha membangunkanku.

"Bangun, Err. Sebulan sudah kamu tidur..."



*Nitaninit Kasapink, 26 Desember 2015 

   

Tuesday, 22 December 2015

SEBUAH BUKU PENUH PUISI: TANAH SILAM, KARYA FENDI KACHONK

Berjanji pada si Bung FENDI KACHONK untuk menulis, mengomentari buku kumpulan puisinya yang berjudul TANAH SILAM, jadi tertunda lama. Karena buku ini menarik, hingga lumayan lama juga pindah dari tangan ke tangan.

Buku yang berisi 83 puisi karya Bung Fendi (aku menyebutnya Bung. Jangan tanya kenapa, tapi rasanya kok klik aja memanggilnya Bung.) membuatku bersuara. Yup, bersuara dalam arti sebenarnya, karena kubaca puisi-puisinya dengan suara yang jelas bisa didengarkan oleh orang lain. Aku suka puisi-puisi si Bung, dan dengan suka cita mengatakan,"Hey Bung, aku salah satu penggemar puisimu!" Semoga aku ga salah dalam mencerna puisi-puisi indahmu, Bung.



Puisi ke-45, yang berjudul PEREMPUAN KECIL, mengajak untuk menikmati hidup. Hidup bukan hanya melulu tentang nikmat tanpa luka, karena luka pun adalah bagian hidup yang harus dinikmati. Tuhan selalu ada, dan menyertai.

Puisi ke-54, NYANYIAN PEREMPUANKU, melangitkanku sebagai seorang perempuan. Perempuan sebagai sosok ibu yang penuh kasih, mencintai anak-anak tanpa berharap dicintai kembali. Juga sebagai istri. Perempuan yang mampu menanam cemburu pada suami, karena kasih pada anak yang tak berbatas. Duh, ternyata cinta seorang perempuan bernama ibu bisa membuat lelaki bernama bapak menyimpan cemburu.

Puisi ke-3, INGIN PULANG, lagi-lagi menyangkut ibu. Seorang anank yang ingin kembali ke masa-masa bersama sang ibu yang selalu menentramkan dengan kidung-kidungnya, menyelimuti dengan kasih. Anak yang rindu karena doa-doa sang ibu melekat dalam jiwa, dan belaian lembutnya. Mengingatkanku akan mama. Bung, tadi aku membaca puisi ini di rumah, dan merekamnya dengan cara sederhana.

Masih ada 80 puisi lagi di dalam buku kumpulan puisi TANAH SILAM karya FENDI KACHONK, dan buktikan aja sendiri, semua puisinya bisa membuat bersuara.

Salam Puisi,
Nitaninit Kasapink


Monday, 21 December 2015

Malam Melo

Malam ini gue ga bisa tidur. Mata terus aja on, ga bisa dan ga ingin menutup. Besok Pink, ulang tahun ke-15. Putri kecil sudah remaja! Dan ini ulang tahun yang ke-9 tanpa Henk, papa mereka. Yup, Henk meninggal 3 bulan sebelum ulang tahun Pink yang ke-7 tahun. Bukan menginginkan Henk kembali ada di sini merayakan bersama.

Setiap salah satu dari Ngka, Esa, Pink, berulang tahun, setiap kali itu juga gue penuh dengan airmata. Lebay banget, ya? Ya, gue selalu melo saat menjelang ulang tahun mereka. Ada rasa bersalah karena hingga saat ini belum juga bisa memberikan hal-hal indah untuk anak-anak, untuk Ngka, Esa, dan Pink. Hanya bisa memberi senyum, dan mencintai dengan segenap kasih yang ada.

Malam ini jadi malam full melo untuk gue. Sejak tadi lagu-lagu Iwan Fals ada di telinga. Berusaha menepis segala melo, gundah, galau, yang masuk dan merajai hati. Tapi tetap aja gue berairmata. Tangan gue sibuk mengusap mata karena ga ingin menyaingi hujan yang deras.

Doa mengalir untuk Pink. Sehat, dan bahagia selalu, Nduknya mama. Maaf, tanpa kado. Tapi cinta ini selalu ada untukmu.


Salam Penuh Kasih,
Mama

Thursday, 17 December 2015

Aku Menemukan Mama Kembali

Mama dan aku

Ga terbayang sama sekali kakak kandungku menyembunyikan keberadaan mama dariku dan anak-anakku, berusaha memutus hubungan mama dengan kami, tanpa alasan. Berbulan mencari, hingga akhirnya bisa menemukan mama, pada hari ke-2 Idul Fitri yang lalu, 15 Juli 2015. 

Mama ada di kamar, di tempat tidur, karena lumpuh sejak Februari 2011, akibat stroke.

"Kenapa Nit ga dikasih tahu alamat baru ini?"

"Mama ga tahu," sambil menggeleng lemah mama menjawab.

"Nit telepon, ga diangkat sama Mas. Nit sms juga ga dijawab."

"Mama berdoa setiap hari supaya Mama bisa ketemu Ninit."

Itu sepenggal percakapan dengan mama.

Sebelum pulang, kuucap,"Nit sayang Mama." Lalu kami kembali berpelukan.

Aku percaya kasih Tuhan yang mempertemukan kami kembali.
























Thursday, 10 December 2015

Hantu Happy

"Kamu iseng banget sih, pensil dimasukkin ke binder clip gini," kataku pada Ngka, anak sulung yang sejak beberapa bulan lalu ikutan kerja di kantor.

"Ga, bukan Ngka." Jawabnya dengan muka serius sedikit manyun.

"Siapa dong?"

"Ga tau."

Aku memandang pensil yang seperti meriam di atas meja.


Mengingat-ingat kemarin sebelum pulang kerja, sebelum menutup pintu ruangan. Rasanya ga ada yang aneh. Kami pulang terakhir. Dan pensil ada di laci meja. Dan tiba di ruangan pun kami yang pertama kali. Aku yang membuka pintu dengan kunci. Jadi, bagaimana bisa pensil ada di atas meja dengan posisi seperti ini? 

"Mbak, kemarin kembali lagi ke sini?" Tanyaku pada teman satu ruangan.

"Ga. Mulih langsung. Cape banget kemarin."

"Iya, kemarin memang melelahkan banget. Banyak kerjaan," 

"Kenapa, Mbak?" Tanyanya.

"Ga apa-apa. Nanya aja."

Kembali kupandang lagi pensil di atas meja. 

Kriiing! Telepon di atas meja berdering. Ok, kerja, kerja. Data yang dibutuhkan untuk tender harus cepat dikirim. 

Pensil masih tetap di atas meja, ga disentuh, ga tersentuh, ga digubris lagi. Pensil terlupakan, dilupakan. Hingga akhirnya sebelum pulang, pensil bergerak sendiri, lalu terasa ada yang menyentuh jemariku. 

"Kenapa?"

"Apa, Ma?"

"Nyenggol-nyenggol."

"Ga nyenggol."

"Tadi."

"Ga. Pengen banget disenggol."

"Yeee!"

"Lah Ngka ga nyenggol."

"Ya wis."

"Ngka ke toilet, ya?"

"Sana gih."

Ruangan terasa dingin. Teh tawar dalam gelas besar di atas meja pun sudah tak hangat lagi, padahal belum lama dibuat. Tak lama kemudian, Ngka masuk kembali ke ruangan.

"Ma, kok ga terasa udah jam segini sih?" 

Kutengok jam dinding di dinding depan. 

"Weh, makan siang. Yuk."

Tiba-tiba pensil di atas meja bergerak sendiri, lalu meluncur jatuh!

"Ambil, Ka. Jatuh tuh pensil."

"Kok bisa jatuh?"

"Ga tau."

Ngka mengambilnya, lalu meletakkan di meja. Saat diletakkan itulah aku melihat sepasang tangan sedang melambai ke arahku.

"Ka!"

"Kenapa sih Ma? Alay teriak-teriak." Ngka menggerutu mendengar teriakan tertahanku.

"Tangan melambai-lambai!"

"Ya elaaah, Ngka udah lihat dari tadi itu, Mamaaa. Udah, biarin aja, dia lagi happy kali." Santai Ngka menjawab.

Hmm, benar kata Ngka, biarkan saja! Tapi rasanya ingin bertanya pada si tangan yang melambai,"Kamukah yang memasukkan pensil ke binder clip?" 

Hihi, cuma jadi sebuah keinginan. Ga akan menanyakan pada si tangan. Biar saja, seperti kata Ngka, biarkan saja dia melambai, mungkin sedang happy.


-Nitaninit Kasapink (Error)-







Tuesday, 8 December 2015

Desember Melo

Desember 2015 ini membuat gue menghitung hari. Pink berusia 15 tahun di tanggal 22 Desember nanti. Putri kecil menjadi remaja.

Di bulan Desember ini gue juga menghitung hari. Desember ke Januari 2016. Hitungan panjang tapi sebenarnya amat pendek untuk dihitung oleh kami. Penghujung Januari 2016 nanti, Ngka, Esa, Pink, dn gue, akan pergi ke Semarang, nyekar makam almarhum papa mereka, almarhum Henk, suami gue. 

Desember berhasil membuat gue melo! Melo, ya, bukan melon. Kenapa juga jadi melo, gitu ya, cuma karena Pink akan berulang tahun, dan karena Januari akan berangkat nyekar?

Kondisi kesehatan Pink selalu naik dan turun. Belum stabil. Hey, no, no, no, no, gue ga menyesali yang terjadi. Autoimun yang ada di tubuh Pink, bukan sebuah kondisi yang harus disesali. Gue jadi melo karena tau semangatnya besar, jauh lebih besar dibanding tubuhnya yang langsing, malah cenderung amat kurus untuk remaja seusianya.

22 Desember 2015 masih 14 hari lagi. Banyak doa dan harapan gue ucap pada GUSTI tentang Pink. Kebahagiaan, kesehatan, dan segala hal terbaik untuknya dari GUSTI.

Penghujung Januari 2016 masih 52 hari lagi. Sehat, sehat, sehat, bahagia, terbaik dari GUSTI untuk Pink.

Desember berhasil memelokan hati gue.

Semangat sehatmu, menyehatkanmu, Nduk, amin.


-Nitaninit Kasapink-

Friday, 4 December 2015

SABAR SESABAR DEODORANT

"Ma, kita diklaksonin terus sama motor. Yang mana sih Ma, yang nglaksonin terus tuh?"

"Itu deh kayaknya."

"Ugh! Kalau Ngka digituin, Ngka klaksonin balik tuh! Enak aja dia klakson kayak gitu!"

"Ga perlu."

"Ih Mama, kalau Ngka sih gitu! Gantian Ngka kakson!"

"Ga, ah. Mama sih pengen jadi orang yang sabar kayak Rex*na. Sabar setiap saat."

"Mamaaa, salah! Bukan sabar setiap saat! Tapi setia setiap saat!"

"Ga. Mama maunya sabar setiap saat."

"Kok bisa? Terserah dah!"

"Iya, sabar, Ka. Deodorant itu sabar banget. Tiap saat mampir di ketiak, tapi ga protes. Malah bikin wangi. Sabar banget, kan? Wanginya setiap saat pula! Tuh, sabar banget, kan?"

Dan Ngka pun tertawa.

Ngka, anak sulung gue, sudah bisa berperan sebagai pelindung emak. Di usia  akhir belasan, emosinya terkadang meletup-letup. Gue berusaha meredam, menenangkan, dengan cara obrolan santai. Karena menurut gue sih malah lebih efektif lewat obrolan santai dibanding 'manteng' serius. Ngka menerima santai, dan ga merasa dinasehati. Padahal emaknya ini sedang memenuhi dengan petuah-petuah yang dikemas santai.

Apakah langsung 'Abrakadabra' Ngka berubah? Ya ga. Tetap saja gue memberitahu berulang kali. Tapi setidaknya  itu akan menempel, nyangkut, dan  bisa membuatnya jadi deodoran. Eh, sabar kayak deodorant.

Sebuah harapan seorang emak untuk anak lelakinya yang beranjak jadi dewasa.


Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink (Error)





Di Gedung Yang Sama

Kalian terlalu sopan. Memperkenalkan diri dengan gaya yang unik waktu pertama kali menginjak gedung ini! Senyum manis, panggilan lirih, tawa menggelegar, mengajak bermain, dan ada pula yang hanya diam tanpa suara, tanpa senyum, hanya ujung matanya saja yang setia mengikuti.

"Selamat datang!"

Ya, terimakasih.

"Untuk apa ke sini?"

Bukan urusanmu, bukan?

"Sedang apa di sini?"

Terlalu banyak bicara.

"Mari main bersama kami!"

Hah, aneh jika kubermain bersamamu!

"Hahhahaha! Anak ingusan ke sini!"

Hah! Anak ingusan! Aku sudah tidak muda lagi! Dasar tua renta!

"Jangan ke sini! Ini tempatku!"

What? Arogansi? Aku tak takut!

"Kemarilah. Aku butuh bantuanmu."

Tidak, aku tak bisa membantumu.

"Aku ingin bicara panjang lebar."

Cukup, bicara saja pada teman-temanmu yang ain.

"Haiiii, di sini enak, asyiik! Bisa melihat pemandangan dari atas!"

Tak perlu. Menyenangkan tetap di tempatku.

"Mana senyummu? Lihat senyumku! Hiiii!"

Tak perlu beramah tamah, bukan? Lagipula senyummu aneh!

"Maukah bersalaman denganku?"

Tidak. Aku tak ingin menyentuh siapa pun di sini!

"Kutemani berkeliling, agar kamu lebih mengenal tempat ini."

Aku tak ingin berkeliling.

"Jangan angkuh!"

Jangan sok akrab.

"Mukamu pucat!"

Kalian lebih pucat.

"Kujaga kamu."

Cukup untuk tidak menggangguku.

"Ini gelasmu?"

Aku bisa mengambilnya sendiri, jangan sentuh.

"Mau kemana?"

Bukan urusanmu.

"Heei, sst, ini aku."

Sudah melihatmu sejak tadi.

"Ruangan ini menyenangkan, sunyi, dan dingin."

Akan kupenuhi dengan nyanyian, doa.

"Hihihi, dasar manusia!"

Dasar setan!

Hampir dua tahun, dan hingga saat ini pun masih saja kalian berperilaku sama.

Sudah hampir dua tahun! Hey, kita ada di gedung yang sama, tapi dunia kita berbeda! Mengertikah kalian?



-Nitaninit Kasapink (Error)-

Thursday, 3 December 2015

Siapa Si Cewek Baju Putih Bebercak Kemerahan?

"Siapa minum kopiku?"

"Ga tau!"

"Plis deh ya, tadi masih setengah gelas."

"Lupa kali, tadi udah dihabiskan, kali." Jawab Ge santai. Rambutnya yang panjang terurai menari dihembus angin dari jendela.

"Ga, gue ga lupa. Tadi kan pas listrik mati, gue kan turun ke lantai 1. Lo minum kopi gue?"

"Ya elaaaah, Err! Kopi banyak, bisa minta tolong sama Mbak Sa untuk bikinin. Minum kopi lo, bisa ketularan manyun dong gue!" Ge berteriak lalu terbahak-bahak, hingga bakwan dalam mulutnya muncrat.

"Jorok, lo! Bersihkan tuh bakwan di meja! Trus siapa dong yang minum kopi gue, Ge?"

"Gue ga tau. Dari tadi ga ada orang selain gue deh Err."

"Ufh, pasti dia lagi," keluhku pelan.

"Heh, siapa? Lo jangan nakut-nakutin gue, dong! Dia siapa? Temen setan lo?"

Ge berlari ke mejaku, dan matanya melotot karena takut.

"Err, jangan gitu, dong. Gue takuuuut!"

"Laaah, gue ga bilang setan yang minum, Geeee!"

"Tapi kan dari tadi cuma ada gue, Err! Gue ga utak-atik gelas lo. Emang sih gue suka asal aja minum, tapi sumpaaah, kali ini gue ga minum!"

"Ya udah, gue lupa kali, ya? Dah ah, gue mau ke depan aja. Gerah banget di sini, AC masih mati."

"Eeeeerrr, jangan tinggal gue!"

"Ya hayuk!"

"Kaki gue lemas, Err. Kagak bisa jalan. Gimana nih? Gue kebelet pipiiiis!" Ge dengan gaya centil, alay, tapi lemah tak berdaya, duduk seperti tak bertulang.

Aku mendekatinya, membantu berdiri, lalu memapah keluar ruangan.

"Err, lo ga takut setiap kali lo ngerti dan lihat setan-setan usil, jelek, menakutkan?"

"Ge, lo jangan ngomong sembarangan. Ntar setannya ngambek ke lo, rasain aja!"

"Eh ga, ga! Just a joke, ya setaaaan, just a joke!"

"Ge, lo berat banget! Turun tangga gini sambil memapah lo, bisa jatuh nih!" Sambil tetap memapahnya, aku memprotes.

"Hihihi, sorry, gue udah kuat, kok. Cuma enak aja dipapah gini."

Langsung melepas Ge yang ngelendot manja,"Enak aje lo. Lo kate gue pacar lo? Ngelendot manja bener!"

Ge terbahak-bahak.

Di depan kantor masih ramai karyawan bersantai gegara listrik mati. Aku dan Ge mengambil tempat di pojok dekat gudang.

"Err, gue mau nanya nih."

"Nanya aja, belum tentu gue jawab."

"Err, sejak kapan lo lihat setan?"

"Sejak kecil."

"Setan tuh kayak apa?"

"Kayak lo."

"Sumpe lo, setannya cantik kayak gue?"

Tawa kami merusak acara karyawan lain yang sedang asyik bersantai. Beberapa dari mereka melihat kami dengan mata terlihat ga suka.

"Err, setan tuh gimana?"

"Ya ga gimana-gimana, Ge. Biasa aja. Cuma ada yang serem."

Ge sibuk bertanya tentang setan, setan, dan setan! Dia ga tau, di belakangnya ada sesosok perempuan berbaju putih bebercak kemerahan, yang mungkin bercak darah, memandang ke arahnya. Aku bergidik. Siapa bilang aku ga takut setan? Tetap aja setan menakutkan!

"Ge, udah on lagi tuh listrik. Gue ke ruangan, ah."

"Ya udah Err, gue juga ke ruangan. Tapi ogah ke ruangan lo. Serem bangeeet!"

Ge bergegas menuju ruangan. Aku terkesiap melihat sosok perempuan yang tadi memandanginya mengikuti dari belakang.

"Ge!"

Ge tetap melangkah cepat.

***

Setiba di ruangan, terasa panas karena ac baru saja on. Gelas kopi masih ada di atas meja. Tiba-tiba sreeet, kertas di meja bergerak! 

"Hush, jangan ganggu." Ucapku.

Kertas berhenti, malah ada angin pelan menghembus ke kepala.

"Ga takut."

Telepon berdering.

"Err, ruangan gue kok jadi serem? Tadi pintu rak buku bergeser sendiri!" Ge menelepon.

"Berdoa, Ge."

"Lo tahu ga siapa yang ganggu?"

"Tadi sih ada yang ngikutin lo. Cewek baju putih kemerahan gitu."

Bruk! Telepon dibanting.

"Eeeerr!"

Ge berlari terengah-engah masuk ruangan.

"Apa?"

"Gue takut. Lo sih cerita setan."

"Lo nanya, ya gue jawab."

"Err, gue di sini, ya?"

"Iya, katanya serem di sini?"

"Ga napa dah, kan ada lo."

Sreeet, pintu lemari di pojok ruangan bergeser sendiri. Kertas di meja pun bergeser.

"Eeeerr!" Ge berteriak, mukanya pucat pasi.

Doa pada Gusti kuucap, lalu berkata,"Jangan ganggu."

Ge terisak,"Err, gue pipis di celana. Dikit sih, tapi kan judulnya gue ngompol."

Rasanya ingin tertawa ngakak, tapi ga tega melihatnya lemah di kursi.

"Ya udah, ga apa-apa. Ntar gue minta office boy cuci tuh kursi."

"Jangan bilang gue ngompol, ya?" Ge dengan suara tertahan, dan senyum jelek memohon.

Akhirnya kursi kugotong ke toilet, dan meninggalkannya di sana. Sedangkan Ge mengikuti dari belakang, lalu masuk toilet membersihkan diri.

"Err, jangan tinggalin gue!"

"Iyeh."

Tak lama kemudian Ge keluar sambil meringis.

"Err, gegara tadi gue ngomong sembarang tentang setan, ya?" Tanya Ge.

"Ga, udah, ga apa-apa. Yuk, pulang. Udah 16.30, nih."

Ge mengiyakan, lalu kami menuju ruangan masing-masing. Beberes meja, mematikan komputer, ac, dispenser, lalu mematikan lampu. Sip, siap pulang! Tapi saat mengunci pintu dari luar, ada yang mengetuk pintu dari dalam. 

Tuk, tuk!

Si cewek baju putih bebercak kemerahan ada di dalam! Matanya yang cekung hitam memandang kosong ke arahku. Siapa dia sebenarnya? Bergidik bulu kuduk.

Bye, aku pulang, kataku dalam hati. Semoga besok dia sudah menghilang. 



-Nitaninit Kasapink (Error)-

























Tuesday, 1 December 2015

Masih Misteri

"Bu, saya masih harus menunggu Pak Jie?" Tanya Raf di telepon. Dia karyawan muda tempatku bekerja.

"Kamu di mana, Raf?"

"Saya tadi pagi mengantar Pak Jie ke site, Bu."

"Kamu?"

"Ya, Bu. Tapi sejak tadi Pak Jie belum kembali ke mobil, Bu."

"Kamu antar Pak Jie?"

"Ya, Bu."

"Sejak pukul berapa kamu pergi?"

"Tadi pukul 8.00 pagi, Bu."

Tiba-tiba aku merasa takut, sambil mencuri pandang orang yang sedang duduk di hadapanku.

"Raf, kamu kembali saja ke kantor."

"Baik, Bu. Pak Jie gimana, Bu?"

"Biar saja, ga apa-apa. Nanti biar pulang naik taksi."

Gagang telepon kuletakkan perlahan, lalu berkata,"Pak, jadwal ke site pukul berapa?"

"Pukul 13.00, Mbak. Seharusnya saya berangkat sekarang, tapi ga ada supir kantor yang mengantar."

"Ini tadi Raf, dia bilang mengantar Pak Jie ke site sejak tadi pagi."

"Loh, saya kan di sini."

"Jadi, siapa yang bersama Raf?"

"Wah, saya ga tau. Saya di kantor sejak tadi."

Kupandangi dia lekat-lekat. 

"Kenapa, Mbak?"

Aku masih memandanginya. 

"Ini benar Pak Jie, atau bukan?"

"Maksudnya?"

Kulirik sepatunya menginjak lantai. Hantu ga menapak lantai. Ah, tapi kan itu sepatu! Bingung, dan takut, mulai menjalar di hati. 

"Gimana, Mbak?" Suaranya memecah hening. 

Sambil menenangkan hati, aku menjawab,"Sebentar, aku coba cari supir yang bisa antar. Nanti aku kabari."

Dia pun berlalu setelah mengucapkan terimakasih. Melenggang keluar sambil tersenyum. 

Sepeninggalnya, aku diam di depan monitor. Siapa yang benar, dan siapa yang salah, di sini? Raf, atau aku? Raf mengatakan dia mengantar Pak Jie, sedangkan orang yang tadi datang ke ruanganku adalah Pak Jie!

Ah sudahlah, daripada bingung, lebih baik menelepon ruang supir, mencari yang bisa mengantar Pak Jie.

"Halo, aku Err, ini siapa?"

"Ya, Bu. Ini Raf."

"Raf,  kamu barusan kembali?"

"Kembali dari mana, Bu? Saya sejak tadi di sini menunggu Pak Jie, katanya Pak Jie minta diantar pukul 11.00."

"Lah, kan tadi kamu menelepon dari site. Kamu bilang, Pak Jie ga keluar-keluar, lalu kamu tanya, apakah kamu harus menunggunya, atau pulang saja."

"Ga, Bu. Saya ga menelepon. Kapan ya, Bu?"

Aku menggaruk kepala yang ga gatal.

"Tadi saya terima telepon dari kamu."

"Ga, Bu. Sumpah, ga."

"Oh, jadi? Ya sudahlah. Kamu ke depan saja sekarang. Pak Jie nanti aku beritahu."

"Baik, Bu."

Makin bingung aku menghadapi permasalahan ini. Siapa yang meneleponku tadi? Raf? Bukan? 

"Mbak, sudah ada supir untuk saya?"

Terhenyak aku! Tetiba saja Pak Jie ada di hadapanku!

"Eh, loh, kok tau-tau ada di sini? Raf ada di depan. Bapak bisa pergi dengan Raf."

"Terimakasih." Pak Ji berlalu sambil menyungging senyum.

"Eh, Pak Jie, maaf, tunggu!"

"Ya?" Pak Jie menoleh ke arahku, wajahnya berubah menjadi Raf, lalu berubah lagi menjadi pak Jie, kemudian berubah menjadi Raf! Senyumnya menyeringai!

Aaaargh! Pandanganku kabur, menggelap. 

******


Nitaninit Kasapink (Error)











Sunday, 8 November 2015

Namanya, Gong

"Eeerr!"

Sesosok hitam berkelebat melewatinya!

"Eeerr!"

"Apa? Ada apa mengganggu? Bosan melihatmu!"

Wajah hitam terbakar terlihat menyeringai. Rupa yang mengerikan!

"Sayapku rusak."

"Mana mungkin?"

"Lihat, Err! Lihat!" Sambil menunjukan sayap yang koyak di bagian ujung.

"Kenapa rusak?"

"Berkelahi dengan yang di sana!" Ujarnya sambil menunjuk ke ujung jalan.

"Ya sudah. Derita lo!"

"Sekarang kamu ga peduli lagi, Err!"

"Plis ya, hidup kita berbeda! Bisa ga sih, ga memanggil, ga menampakan diri, ga usah akrab gini. Orang yang ga tau, aku dikira gila!"

"Tapi aku harus bagaimana?"

"Bisa ga sih kamu berubah, ga jadi makhluk begini lagi?"

"Ga tau."

"Ya sudah, aku mau masak."

"Err, aku ikut."

"Ga! Sana main ke mana gitu! Juga ingat, jangan ganggu siapa pun!"

Lalu sosok itu menghilang.

Sudah lebih dari dua puluh tahun Err mengenalnya. Sosok hitam yang gosong terbakar, dengan wajah seperti anjing, dan memiliki sayap besar.

"Err"

"Siapa kamu?"

"Aku, Gong!"

"Ada apa?"

"Hanya ingin memanggil namamu."

Itu awal mula mengenal Gong. Makhluk astral yang tinggal dalam ruang gelap. Muncul saat Err mulai tertidur. Tapi kemudian malah muncul setiap saat di kehidupannya!

"Kamu hanya ada dalam mimpi."

"Err, kamu tau, kamu ga sedang tidur! Kamu tau, kamu bukan bermimpi."

Ya, saat tidur, Err selalu melayang pergi ke tempat gelap di bawah bumi. Ga bisa ditangkap logika, tapi itu yang selalu terjadi.  Kadang seperti masuk dalam goa, kadang berada di tempat lain. Tapi sama gelap, dan pengapnya. Juga sama dihuni makhluk aneh, dan mengerikan.

"Err."

"Jangan ganggu aku."

"Err."

"Jangan ganggu aku. Tau ga sih, kamu tuh menyeramkan!"

"Ya." Taringnya mencuat.

"Pergi sana."

"Ya. Nanti aku datang lagi."

"Gaaaaa!"

"Err, ada apa?" Mama memeluk.

"Eh, ga ada apa-apa, Ma."

"Mama pikir kamu kenapa."

Dan di sudut dapur Gong berjongkok memandangnya. Tak ada satu orang pun melihat, hanya Err yang tau.

******


  

Tuesday, 8 September 2015

Wajah Bergizi, Wajah GIZI SUPER CREAM

Pasti sudah pernah mendengar tentang Gizi Super Cream, atau pernah melihat di toko kosmetik, di minimarket, di supermarket. Aku malah memakai Gizi Super Cream ini dulu sewaktu masih SMP, 29 tahun yang lalu, loh. Ketahuan deh kalau sudah tuwir, hehe. Iya, dulu tuh pertama kali menggunakannya sewaktu ada ekstra kurikuler berenang. Mamaku membelikan Gizi Super Cream untuk kugunakan sebagai pelindung kulit yang terpapar sinar matahari. Menurut mama, produk Gizi Super Cream ada sudah sejak mama lama, sejak 1972, hanya beda 1 tahun dengan tahun kelahiranku! Tapi karena dulu aku masih kecil, dan memang belum begitu perduli dengan masalah kulit, aku sih ikut aja apa kata mama. Setiap akan berenang, kuoleskan di seluruh tubuh, juga untuk wajah. Teman-teman banyak yang berkomentar,"Kok mukamu ga gosong? Mukaku kok gosong sehabis berenang, ya? Kok tetap lembut" Aku cuma tertawa, sambil menggelengkan kepala. Kemudian penggunaan Gizi Super Cream berhenti setelah kegiatan berenang terhenti.

Beberapa waktu lalu ada tawaran mencoba sebuah produk kosmetika, dan aku sungguh terkejut karena produk itu ternyata Gizi Super Cream, produk yang dulu kugunakan! Lalu terbayanglah masa lalu, saat aku menggunakannya, dan hasil yang kudapat setelah penggunaan. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan untuk menggunakannya. Bukan untuk mencoba, karena aku sudah tahu produk Gizi Super Cream bagus! Mau tahu ga penyebabnya apa? Karena Gizi Super Cream mengandung kelebihan 4H. Eh, mau tahu juga apa sih 4H? 4H itu adalah: i. Herbal: 7 ingredients (bahan alami). ii. Hitech Nano, fungsi nano untuk memperlembut sehingga sehingga gampang meresap di kulit. iii. Heritage: Berdiri sejak 1972 (40 tahun lebih). iv. Halal.

Aku menggunakan kembali produk Gizi Super Cream sebagai perawatan kulit dan wajahku. Kemarin sebelum menjalani perawatan ini, wajahku terlihat lelah, dan kusam. Teratur kugunakan, dan hasilnya setelah 14 hari, cling-cling, wajahku segar, bercahaya! Mau tau lebih jelas tentang Gizi Super Cream? Klik http://www.giziindonesia.co.id 


********

Saturday, 18 July 2015

Mencari Mama (Bagian I)

Hampir setahun gue ga ketemu mama, ga juga bisa menghubungi. Ga ada no telepon yang bisa gue hubungi untuk menanyakan kabar mama di rumah yang baru. Gue juga ga berani cuma mengirim helaian surat ke alamat yang gue dapat. Gue membeli daster untuk mama, dan gue bungkus, tapi gue ga punya keberanian mengirimkannya, padahal gue ingin tau paket bakal sampai di mama, atau ga. Jadi kalau mau mencari rumah mama, setidaknya gue tau, alamat yang gue punya itu benar. Ya, mama pindah tanpa kejelasan yang pasti alamat, dan kakak gue satu-satunya pun ga memberitahu gue. Kakak gue beserta keluarganya pindah ikut mama, setelah rumah mama dijual. Sedangkan gue mengontrak berempat bersama Ngka, Esa, Pink. Terkesan memang ga ingin gue tau alamat yang baru. Gue hanya tau rumah sudah dijual, sudah membeli rumah baru. Cuma itu.

Kangen yang gue punya semakin lama semakin mendesak untuk mencari mama! Ingin sekali mencari rumah mama! Tapi ga bisa. Motor cuma 1, dan digunakan bergantian dengan Ngka. Senin hingga Jumat, gue kerja. Sabtu dan Minggu, Ngka kuliah. Naik kendaraan umum untuk ke daerah sana dari tempat gue, ga ada. Apalagi ini mencari, bukan pergi ke tempat yang sudah jelas. Dan gue sering sakit, karena cape. Gue semakin kangen mama, dan semakin berkali lipat kangen yang ada.

Lebaran semakin dekat, gue sakit lagi. Kali ini gue sakit typhus, dan infeksi kelenjar getah bening. Seharusnya gue dirawat inap, tapi gue ga mau, karena memikirkan anak-anak gue. Ngka berkata bahwa dia akan menjaga gue di rumah sakit. Lalu bagaimana dengan Esa, dan Pink, di rumah? Gue putuskan rawat jalan.

Kondisi mulai membaik, gue memaksakan diri pergi membeli baju untuk mama. Membongkar lagi bungkusan paket yang sudah lama gue akan kirim, tapi meragu, hingga akhirnya menghiasi kamar. Khawatir ga diterima, karena tadinya isinya cuma 2 lembar daster. Dalam paket gue tulis surat untuk mama, menanyakan kondisi mama, dan memberitahu bahwa gue belum bisa ke sana karena gue pun sakit. Paket pun dikirim lewat jasa pengiriman barang. Lega rasanya.

Seorang sahabat yang sudah seperti saudara sendiri, memberitahu,"Cek lewat internet, paket nyampe ato ga ke alamat yang dituju." Gue cek keesokan harinya, cihui banget, paket dah diterima! Berarti alamat yang mama beri ke gue, bukan alamat palsu kayak lagu dangdut. Gue bahagia banget! "Siapa yang terima paketnya?" Tanya sahabat. Gue bingung. "Lihat lagi, ada nama penerimanya." Lagi-lagi sahabat yang baik memberitahu. Gue cek, dan,"Huwaaaa, pa RT 01!" Kok pak RT yang nerima? Mengejutkan, Esa berkata ke gue bahwa ada no hp alm. bapak yang digunakan oleh kakak gue! Gue sms ke no tersebut, memberitahu bahwa gue mengirim paket untuk mama. Ga ada balasan, padahal sms terkirim. Gue ulang lagi, sms ke no itu. Masih sama, ga ada balasan. Rasanya nyesek banget! Yea, ini saatnya untuk mencari mama! Sebelum Lebaran, gue sudah harus bisa ketemu mama. Seorang sahabat yang mengerti jelas apa yang sebenarnya terjadi sebelum mama pindah, mengatakan ke gue,"Rasanya kamu memang sudah dibuang." Wuaaaaa...!!! Airmata gue turun ga bisa berhenti! Doa yang bisa meredam tangis gue.

Rabu, 15 Juli 2015, pagi-pagi gue dan Ngka berdua naik motor menuju alamat yang gue dapat dari mama, alamat yang sulit banget gue dapat. Mama ga pernah mau menjawab pertanyaan gue mengenai alamat rumah yang baru, setiap gue menjenguk mama sebelum pindah. Entah kenapa, jangan tanya ke gue, gue juga ga ngerti kenapa bisa begitu.

Kondisi gue masih belum fit, tapi gue merasa sanggup untuk perjalanan mencari mama. Kondisi Ngka pun sedang kurang bagus. Tapi tekad mencari mama, tebal di hati. Gue mendapat patokan menuju daerah rumah mama, dari seorang sahabat.

"Jauh, ya Ma?" Tanya Ngka.

"Ya, jauh banget. Ini menurut teman mama, masih jauh banget."

"Ma, nanti gantian ya bawa motornya. Ngka kurang enak badan."

"Ya. Nanti kita gantian."

Dan, kami pun bergantian nyetir motor. Gue bersyukur banget punya anak lelaki yang sudah besar, jadi bisa gantian gini. Kalau anak gu masih kecil, waduh ga bisa gantian gini.

Sampai di depan pasar yang macet total! Sebelah kanan jalan, pedagang sayur.

"Ga bisa lewat, ya Mang?"

"Bisa, Neng. Tapi pelan-pelan. Emang Neng mau ke mana?"

Gue sebutkan daerah yang hendak gue tuju. Si Mamang terburu-buru mendekati gue, padahal lumayan agak jauh. Gue aja agak berteriak supaya bisa terdengar sama si Mamang. Sumpah, si Mamang baiknya banget-banget!!

"Neng, kalau mau ke sana, balik arah. Bukan ke sini. Ke sana, Neng puter arah aja, sekarang, Neng. Belok kiri, teruuus ajaaaa... Itu ke arah sana!" Luarbiasa si Mamang!

Setelah mengucap terimakasih pada si Mamang, gue langsung putar arah. Aneh juga, jalan yang macet berjejal, sewaktu gue putar arah, kok ya lega ya jalannya, jadi gampang banget gue putar arah. Kemudian mengikuti arah yang diberitahu olehnya tadi.

Jalan berlubang, dan parah macetnya! Tapi kemudian lancar, malah bisa dibilang sepi pakai banget. Gue berkata pada Ngka, lumayan khawatir nyasar, karena ga sesuai dengan yang diberitahu oleh sahabat gue. Lalu bertanyalah Ngka pada seorang bapak yang sedang menunggu bus di pinggir jalan. Ga salah, ini memang arah menuju daerah tempat tinggal mama. Jalan yang sepi, dan ga berbelok, melelahkan. Ngka bertanya lagi pada seorang bapak.

"Teruuus aja. Nanti sesudah pom bensin, belok kiri, itu perempatan."

Jalan lagi. Ga lama kemudian terlihat pom bensin! Tapi mana perempatannya? Ga ada perempatan! Yang ada pertigaan.

"Iya, bener ini, belok sini. Nanti kalau ada tanjakan, itu udah nyampe."

Siiip...! Jalanan yang dilewati menanjak. Beberapa kali menanjak, dan terus menanjak. Sudah sampai atau belum?

"Terus aja, nanti kalau tanjakan, itu artinya sudah sampai."

Tanjakan, tanjakan, dan tanjakan. Di sini tanjakan semua. Tapi ternyata ada tanjakan yang tinggi, lebih tinggi dibanding sebelumnya. Apakah sudah sampai?

"Ya, bener. Ini perbatasan RW-nya. Coba tanya ke sebelah sana."

Yeaaa...!!! Balik arah, tanya ke warung.

"Iya, bener. Rumah Pak RT? Itu masuk ke gang kecil itu. Nanti kalau ketemu perempatan, tanya aja sama orang."

Weeeeh..., yeaaaa!!!

Perempatan, perempatan... Ga ada perempatan. Yang ada jalan tanah, dan ga ada jalanan perempatan.

"Ini masuk lewat sini, kalau ketemu jalan cor, ada pos, itu rumah Pak RT."

Yeaaa...!!!

Pos hansip! Rumah Pak RT! Ketok-ketok, ucap salam, ga ada yang jawab, ga ada orang. Rumahnya sepi. Kemudian gue lihat dari seberang, seorang bapak mendatangi gue.

"Pak RT-nya ga ada ya Pak?"

"Wah, iya. Saya ga tau ke mana."

Seorang bapak datang, disusul seorang ibu, dengan remaja putri naik motor.

"Itu Pak RT."

Gue mengenalkan diri pada Pak RT, lalu gue sampaikan bahwa gue mengirim paket beberapa hari lalu, dan Pak RT yang menerima. Gue bertanya di mana rumah mama.

"Iya, saya terima. Sudah saya sampaikan. Katanya, itu adiknya yang kirim. Rumahnya di sebelah sana." Sambil tangannya menunjuk sambil agak muter-muter gitu. Gue lumayan bingung melihat tunjukan tangannya.

"Anter atuh Pak! Ini pake motor!" Ibu RT mengerti kebingungan gue.

Diantarlah gue ke rumah mama! Gue lihat kursi di teras, yeaaaa, itu kursi mama!!!

"Iya, Pak, bener, Pak! Ini rumah mama saya! Bener, Pak! Terimakasih, Pak!"

Pak RT kembali ke rumahnya.

"Mamaaaaa, Mamaaaaa...!!!" Gue buka pagar yang tak dikunci. Lalu gue mendengar suara dari dalam memanggil gue.

"Niniiiit...! Niniiiiit...!!" Itu mama gue!!

Segini dulu, ya ceritanya Nanti dilanjut lagi di bagian ke-2, gue ceritain gimana senenngnya ketemu mama. Sekarang sih gue masih ga kuat duduk ngetik lama. Gue mau istirahat dulu, mau tiduran lagi. Besok pagi gue mau ke rumah mama lagi bareng Ngka, jadi gue harus sehat.

Salam,
Nitaninit Kasapink











Thursday, 11 June 2015

Tawa Riang Tepi Sawah

Sepulang dari kantor, gue ngobrol, bercanda dengan Ngka, Esa, dan Pink. Biasa, sharing cerita sehari yang dijalani. Sekitar tengah malam, gue pun tertidur. Tapi lalu gue terbangun karena suara berisik yang berasal dari depan rumah. Oh ya, depan rumah gue tuh sawah yang luas! Tetangga-tetangga sih penuh kiri dan kanan, karena lokasinya memang di perumahan. Di depan rumah gue persis, biasanya ramai ibu-ibu, anak-anak, malah ada bapak-bapak juga yang berkumpul di sana. Jadi, rumah gue selalu dalam keadaan aman, karena selalu dijaga oleh tetangga-tetangga yang biasa berkumpul di situ. Nah, karena suara berisik anak bermain itulah, gue pikir sudah siang, dan gue terlambat bangun. Hedeeh, padahal Esa sudah berpesan minta dibangunkan pukul 5.00 pagi,"Mau belajar, Ma."

Terburu-buru gue bangun, melihat jam di dinding. Weh, lah kok baru pukul 3.00 pagi! Gue lihat luar, keadaan memang masih gelap. Tap[i suara anak yang riang bermain, jelas di telinga. Suara dua anak perempuan yang riang, suaranya yang bening menggemaskan, mengisi telinga gue. Hanya saja gue ga mengerti apa yang mereka katakan. Samasekali gue ga bisa menangkap apa yang sedang mereka perbincangkan, padahal jelas sekali suara mereka! Tawa mereka pun jelas tertangkap telinga. Gue intip luar, ga ada seorang pun di sana. Tapi kan itu anak-anak kecil, wajar ga terlihat dari rumah gue, karena tembok depan rumah lumayan tinggi. Suara itu tetap terdengar, tapi gue ga ingin melihatnya ke luar. Bukan takut, tapi nyamuknya itu loh.

Gue tetap mendengar suara dua anak perempuan tertawa, riang dengan celotehan yang bersahutan, dan masih juga ga bisa menangkap satu kata pun yang mereka ucapkan. Karena penasaran, gue berusaha berkonsentrasi agar bisa mendengar dengan jelas, agar bisa menangkap pembicaraan mereka. Tapi setelah gue berkonsentrasi, tiba-tiba hening. Tiba-tiba suasana senyap. detik jam dinding pun terdengar, padahal sebelumnya, hanya ada suara dua anak perempuan itu. Jalanan depan rumah tanpa penerangan, sawah yang luas tak tampak, karena diselimuti gelap. Ya, jam 3.00 pagi, siapa pula yang membolehkan anak-anak perempuan mereka bermain di tepi sawah yang gelap gulita? Entahlah...


Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink

Oops, Asap!

Hari Minggu sore, seperti biasa, gue mengajak Esa, dan Pink, pergi jalan-jalan, untuk mengusir jenuh di rumah. Kalau gue sih, jelas pergi terus, kan  gue bekerja. Esa, pergi ke sekolah. Pink, dia homeschooling, dan otomatis lebih banyak berada di rumah, dibanding ada di luar rumah. Ngka, setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, kuliah. Jadi, kegiatan di hari Minggu bermaksud  mengajak Pink jalan-jalan, melihat suasana di luar rumah. Ngka sudah memberitahu gue, bahwa kuliah di hari Minggu dimulai sejak pagi, dan baru selesai malam. Malah sewaktu gue sedang di luar rumah, Ngka mengirim pesan BBM, bahwa di amengerjakan tugas liputan, lalu menginap di rumah temannya. Ga masalah untuk gue, cuma berpikir, di rumah kasihan Cinut, Cimut, dan Cilut, bertiga di rumah. Tiga kucing kecil yang masih manja. Sebenarnya kami punya 4 ekor kucing, tapi sudah sebulan ini hilang. Ufh, Cucing... 

Malam hari setiba di rumah, rumah kontrakan kami yang mungil terlihat ga berubah, masih tetap mungil, dan mamsih biasa-biasa saja, sama seperti sebelum kami tinggal pergi. Tapi saat pintu ruang tamu dibuka, oops, asap putih tebal menyerbu! Asap! Gue berlari ke dapur, kompor ga menyala. Asap apa? Entah! Asap rokok? Bukan. Asap itu ga berbau samasekali. Lalu gue buka pintu kamar yang tertutup. Eiits.., berkabut tebal! Asap penuh mengisi kamar! Jadi, hanya ruang tamu, dan kamar yang jelas dipenuhi asap tebal. Asap dari ruang tamu pun ga menyebar ke ruang lain, hanya berputar di ruang tamu. Aneh rasanya, kok asap ga menyebar, tapi kenyataannya ya begitu itu, cuma berada di ruang tamu, dan ada di kamar.

Gue ga terpikir hal lain, kecuali bahwa Ngka mengajak temannya ke rumah, merokok. Tapi kok merokok di kamar, hingga berkabut? Gue mulai merasa kesal pada Ngka, walau pun gue juga merasa janggal, ga mungkin Ngka membiarkan temannya merokok di rumah, karena Ngka sendiri ga tahan dengan asap rokok. Apalagi asap yang ada di ruang tamu, juga di kamar, ga berbau rokok samasekali. Tapi kesal tetap menjadi kesal, sebelum ada penjelasan dari Ngka, si tersangka. Gue BBM Ngka, dan ga berbalas. Akhirnya gue memutuskan untuk santai saja dengan asap yang menjengkelkan, karena kok ya ga hilang-hilang. Lumayan lama asap itu menjadi kabut di ruang tamu, dan di kamar.

Esok hari saat Ngka pulang, gue tanyakan masalah asap di rumah. Ngka terbengong-bengong, karena dia ga pulang sehabis dari kampus. Jadi, ga ada seorang pun di rumah sewaktu kami pergi. Cuma Cinut, Cilut, dan Cimut, di rumah.

Yang jadi pertanyaan sampai sekarang, asap apa sebenarnya yang menyelimuti ruang tamu, dan kamar, hingga berkabut? Entah... Semoga bukan karena hal-hal aneh, bukan hal di luar nalar lagi...


Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink

Thursday, 30 April 2015

Shopious Belanja Online Yang Membahagiakan

"Sandal siapa itu di teras?" tanya gue pada Esa, anak gue yang nomor 2. Dia tersenyum, lalu tertawa. Gue jadi tambah penasaran, sandal karet siapa yang tergeletak manis itu. Karena ga ada yang memiliki sandal seperti itu di rumah. Akhirnya Esa menjawab,"Sandal teman Ngka, Ma.". Weeh, Ngka meminjam sandal temannya? Kemudian Esa melanjutkan,"Sepatu Ngka rusak waktu dia ke kampus, Ma. Temannya meminjamkan sandal." Esa pun menunjukkan sepatu Ngka yang rusak berat.

Di kepala gue terbayang harus pergi mengantar Ngka membeli sepatu. Haduh, mana sempat? Sebagai single mom yang bekerja, dan terkadang penuh kegiatan (cuit, cuit!), rasanya ga ada waktu deh untuk berkeliling mall cari sepatu yang cocok untuk Ngka. Lalu tuing! Teringatlah pada Shopious, website aggregator toko online instagram. Di sana kita bisa membeli barang-barang terbaik, dan terbaru dari seluruh toko online terpercaya yang ada di Indonesia! Banyak sih toko online saat ini, tapi karena banyak yang cerita kalau toko online ‘x’ barangnya ga sesuai dengan yang ditampilkan, toko online ‘z’ mahal-mahal, dan toko online ‘w’, wah itu tipu-tipu! Wajar dong kalau bikin gue jadi mikir untuk belanja online. Tapi setelah gue lihat, cek sana-sini tentang Shopious, yang ternyata malah sudah pernah diliput salah satu stasiun tv, gue mantap shopping di Shopious! Hari gini masih ribet bin repot untuk shopping? Jalan ke mall sana, ke mall sini, dan belum tentu ada hasil bawa jinjing-jinjing tas isi barang yang diinginkan. Kalau pun ada, kaki nih kaki, capenyaaa..! Belum lagi harga yang alamak mahalnya! Duh, duh, ga deh, lebih baik energi disimpan untuk hal yang lain.

"Ngkaa!" gue memanggil Ngka. Ngka pun menghampiri gue, lalu gue katakan,"Yuk kita beli sepatu untuk kamu!" Ngka melongo. Whaaat?? Emaknya yang paling malas ke mall, bisa-bisanya ngajak beli sepatu! Ga mungkiiin..! Hihihi, lalu gue buka website yang keren itu! Tralala trilili...!! Sibuk-sibuklah gue dan Ngka memilih sepatu yang cocok untuknya. Bingung memilih, karena modelnya keren-keren bingiiits! Esa, dan Pink, dua anakku itu ikut melihat-lihat koleksi barang yang ada di sana. Gue dan Pink, melihat-lihat koleksi fashion wanita, mulai dari sepatu, baju, celana, dress, batik, produk kecantikan, aksesoris, tas. Esa bersama Ngka melihat-lihat koleksi sepatu, gadget, aksesoris, celana, pakaian. Lalu kami bersama-sama asyik melihat ke koleksi rumah dan hadiah. Duh, duh, keren semua!

Hasilnya? Yahuuu, bukan cuma Ngka yang membeli sepatu! Esa, Pink, dan *uhk gue pun membeli barang di Shopious! Siapa juga yang ga mupeng lihat koleksi keren dengan harga terjangkau? Mupenglaaah... Ngka membeli sepatu, Esa membeli tas ransel untuk sekolah, Pink membeli baju, juga aksesoris. Gue? Hihi, inginnya sih membeli semuaaaa...! Hahaha, tapi untuk kali ini cukuplah membeli baju, dan sepatu untuk gue. Belanja yang mudah, murah, dan ga murahan!

Pengalaman itu gue share ke bos gue di kantor. Olala, ternyata bos gue juga jadi berminat shopping setelah melihat koleksi keren, harga oke. Dan seharian itu, bos gue bareng gue sibuk berkomentar tentang barang ini dan itu. Ruangan kita kunci. Off, sedang meeting! Haha, meeting shopping Shopious! Dan karena gue yang memberitahu tentang Shopious, gue pun mendapat hadiah dari bos gue, berupa..,"Mbak mau apa? Pilih aja. Nanti saya yang bayar." Tralala trilili..! Gegara Shopious, bos gue jadi semakin baik hati... Gue jadi semakin berbahagia hari ini.

Salam,
Nitaninit Kasapink, ibu yang berbahagia karena Shopious


Thursday, 23 April 2015

Tidak Ada Hal Yang Sia-Sia

Gue pernah cerita tentang anak tetangga yang sering dapat kekerasan dari ibunya, kan? Dan gue berusaha untuk menarik anak tersebut ke rumah, memberi pendampingan belajar menulis, mewarnai, dan juga gue mendongeng untuknya, dongeng yang berisi ajakan moral menjadi orang yang murah senyum, ceria, dan ga mudah marah. Sang ibu kerap cemberut ke gue, berteriak-teriak ke arah rumah gue, tapi gue sih cuek aja, gue rasa ga perlu membalas dengan perbuatan yang sama. Gue punya keinginan agar anak tetangga gue memiliki rasa kasih sayang, ga meniru ibunya, tapi juga ga marah, apalagi memendam dendam pada sang ibu. Haduh, seram kalau terjadi hal seperti itu! Gue hanya ingin memutus rantai kekerasan yang didapat olehnya. Jangan sampai terjadi karena dia mendapat kekerasan sewaktu kecil, lalu saat dewasa dan memiliki anak, dia pun melakukan hal yang sama seperti sang ibu padanya. Ga cuma gue, 3 anak gue pun ikut serta dalam pendampingan ini.

Hari demi hari dilalui, bulan demi bulan pun lewatlah sudah (glek!), belum ada perubahan juga. Berbulan-bulan gue mendengar teriakan, jerit tangis sang anak memohon agar ibunya stop memukulinya. Itu benar-benar menyedihkan! Banyak teman menganjurkan agar gue melaporkan ke kantor polisi tentang kekerasan ini. Ya, gue pada awalnya setuju, tapi tentunya dengan bukti akurat. Gue ingin menyelamatkannya dari kekerasan sang ibu. Setiap kali mendengar tangisan, jeritannya, gue sedih banget! Tekad melaporkan pada yang berwenang. Tapi lalu gue pikir, bijaksanakah tindakan gue kalau gue melaporkan hal itu? Gue jadi bimbang. Jika gue laporkan kekerasan, otomatis ibu dan anak akan dipisahkan. Nah kalau dipisah, bagaimana sang ibu bisa mengenal kasih sayang, penerapan kasih pada anak? Iya kalau dia menyesali sikap dan perlakuan kasarnya pada si anak, kalau malah jadi semakin marah? Dan bagaimana si anak jika dipisah dari sang ibu? Argh, bimbang semakin menjadi.

Setelah melalui bimbang dan bimbaaaaaang, gue memutuskan untuk mengajarkan, mengenalkan kasih pada sang anak, agar dia mengenal kasih sayang dengan penerapan sikap serta tindakan yang baik. Gue terus menerus mendampinginya. Nakalkah dia? Ga! Sama seperti anak-anak yang lain, penuh rasa ingin tahu, dan pandai mengopi sikap dan perbuatan yang dia lihat, dan yang dia terima. "Uh, sialan!", itu salah satu kata yang suka diucapnya, dan masih banyak lagi kata umpatan yang sebenarnya ga perlu diucap. "Hloh, hayo, itu namanya kasar. Jangan mau jadi orang kasar. Kamu pintar, dan kamu lembut hati," setiap kali gue mengingatkan. Untuk anak usia 4 tahun, gue rasa dia bisa menerimanya dengan baik, karena lama kelamaan kata-kata umpatan ga terdengar lagi diucap olehnya. Lega banget rasanya saat dia ada di rumah, ga terdengar umpatan-umpatan loncat dari bibir mungilnya. Sedangkan jeritan tangisnya sih tetap terdengar dari rumah gue saat dia ada di rumahnya, karena rumah kami berhimpitan.

Seperti biasanya, dia datang ke rumah sejak pagi-pagi sekali. Sudah mandi, dan sudah sarapan. Kalau dia datang belum mandi, biasanya gue ingatkan untruk mandi dulu, begitu juga kalau dia belum sarapan. Gue ingin dia terbiasa mandi pagi, dan sarapan sebelum pergi. Main, mewarnai, belajar menulis, dan bercanda, penuhi hari bersamanya. Hingga ssiang hari, dia pun tertidur di rumah gue. Ibunya berteriak-teriak, lalu gue jawab bahwa anaknya sedang tidur. Kakaknya lalu datang ke rumah menjemput. Tapi karena memang sedang pulas tidur, gue gendong dia ke rumahnya. Ibunya terlihat kaget. Bincang-bincang pun terjadi. Dia bercerita bagaimana sulitnya anak itu diatur. Gue hanya mendengarkan, dan sedikit bercerita bagaimana anaknya di rumah kami. Gue perlihatkan foto-foto anaknya di hp gue. Sang ibu terlihat makin kaget. "Saya heran, kenapa kok dia malah lebih nurut sama orang lain dibanding sama saya, dan sama bapaknya," ujar sang ibu. Gue tersenyum, dan bercerita bagaimana anaknya bersikap di rumah kami, dan bagaimana kami memperlakukan anaknya. Gue ga mau terlihat menggurui, ga juga mau menjudge bahwa dia ga mencintai anaknya. Gue tahu, dia mencintai anaknya, hanya penyikapan dalam mengasuh saja yang kurang lembut hati. Selebihnya tentang cinta seorang ibu terhadap anaknya, gue percaya itu ada.

Lalu keesokan harinya gue ga mendengar jeritan tangis dan ga ada teriakan kesakitan.Melegakan, membahagiakan! Begitu juga di hari selanjutnya.Ini menyadarkan gue, bahwa ga ada hal yang sia-sia! Selama berkeyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah untuk kebaikan, dan memang dilakukan dengan niat baik, ada hasil yang didapat. Gue hanya ingin berbagi kasih, membagi pengalaman tentang kasih, berusaha agar mereka mengenal dan menyikapi kasih dengan baik. Hasilnya gue serahkan pada GUSTI, karena hanya GUSTI yang sungguh berkuasa atas hidup dalam kehidupan.

Salam,
Nitaninit Kasapink, seorang ibu sekaligus sahabat dari Ngka, Esa, Pink


Tuesday, 13 January 2015

error,"Monas (bagian III)".

Di depan terowongan bawah tanah yang merupakan pintu masuk menuju Tugu Monas, banyak penjual souvenir. Ada penjual topi, kaus, gantungan kunci, aksesoris, dan layang-layang. Aku menawarkan pada Pink, mungkin ada yang ingin dibelinya. Tapi ternyata Pink menolak. Dalam hati, gue berkata,"Pinteeerrnya anak gueee...! Ga borooosss...!", Hahaha!

Masuk turun ke bawah, lewati anak tangga. Loket tiket ada 2, yang sebelah kiri untuk pengunjung yang masuk sampai ke puncak Monas, sedangkan yang satunya untuk pengunjung yang hanya sampai di pelatarannya saja. Gue memilih hanya sampai di pelatarannya saja, karena gue pikir, teman-teman Pedas-Penulis dan Sastra, berkumpul di sana. Tiketnya murah, Rp. 5.000,- untuk dewasa, dan Rp. 2.000,- untuk anak sekolah/anak-anak. Jadi untuk masuk ke sana, gue membayar tiket Rp. 7.000,-, karena gue berdua Pink, ditambah asuransi Rp. 1000,-.

Masuk terus ke dalam lorong, lalu sampai di ujung, harus naik tangga lagi. Haduh, banyak anak tangga yang harus dilewati selama di sini. Lalu gue dan Pink mengelilingi pelataran tugu Monas. Tapi kok di antara begitu banyak orang, gue ga lihat kumpulan orang yang berbaju merah dan biru, ya? Masuk melihat diorama sejarah Indonesia, juga ga ada teman-teman Pedas! Banyak pelajar SD, SMP, yang datang berkunjung dengan pendampingan guru, dan ada juga pendampingnya kakak Pramuka. Ramai banget!

"Ma, teman-teman Mama, mana? Ga jadi kali, Ma. Diundur kali. Masa sih dari banyak orang gini, ga ada satu pun", kata Pink, dengan nada sedih. Gue tahu, Pink kasihan sama gue.

"Ga diundur, kok. Cuma memang Mama ga ngerti mereka ada di mana. Mama kan ga WA, ga BBM, ga buka medsos juga", jawab gue.

"Mama sih, kenapa ga beli hp lagi? Harusnya Mama beli lagi", ujar Pink.

"Ga ah, biar aja, uangnya untuk sekolah aja, untuk kuliah aja, untuk homeschooling aja. Untuk pendidikan anak-anak Mama aja", jawab gue.

Pink bergelayut di lengan gue, dan mengelus lengan gue. Ah, Nduk, ini memang perjalanan wisata untukmu yang disediakan oleh GUSTI...

Lelah berjalan berkeliling, kami pun mencari tempat untuk duduk selonjor di lantai, dan bersender di dinding Tugu Monas. Rasanya nyamaaaan bangeeet, membiarkan otot kaki santai. Gue pandangi Pink, kok wajahnya bersinar terus, ya? Ga terlihat wajah lelah sedikit pun! Padahal gue aja nih, mulai rontok sedikit-sedikit. Tapi gue ga mau memperlihatkan lelah pada Pink. Pink harus tetap gembira! Semangaaaat, semangaaat!!

Makan lagi sedikit, mengunyah permen, minum, cemil kue, ngobrol berdua, bercanda. Llama-llama bosan hanya duduk-duduk di situ. Di sana gue dan Pink jadi parno kalau melihat merah dan biru. Jangan-jangan itu teman-teman Pedas! Tapi ternyata bukan...

"Nduk, naik ke puncak, yuk!", ajak gue ke Pink.

"Yuk!".

Tapi haduuh, kan tiketnya cuma untuk sampai pelataran aja! Gimana ya? Gue lihat ada petugas di sana.

"Pak, aku mau ke puncak, tapi gimana tiketnya? Beli ke mana? Harus balik lagi ke tempat tadi?", tanya gue.

Eh, si bapak itu berbaik hati membelikan tiket ke loket di bawah nun jauh di sana! Tiket dewasa Rp. 15.000,-, dan anak-anak Rp. 4.000,-. Yihaaa, makasih ya pak, kaki ini ga perlu berlelah lagi untuk beli tiket.

Tapi, weeeh, antrian untuk bisa masuk puncak Monas, panjaaaang bangeeet! Ular naga panjangnyaaa, bukan kepalaaang! Tapi ok deh, harus tetap semangat menuju puncak Monas! Pink santai aja tuh, ga terlihat lelah menyerah! Ajaib banget!!

Berdiri mengantri, membuat gue lelah. Bruk, gue duduk melantai, alis duduk di lantai. Pink pun meniru duduk di lantai. Mengobrol ini, dan itu, tentang ini, dan tentang itu. Di barisan antrian ramai pelajar yang berteriak-teriak. Gue jadi berpikir, dulu gue gitu juga ga ya? Atau malah lebih heboh dari itu? Ibu di depan gue memandangi gue yang santai duduk di lantai, lalu berkata,"Masih lama, ya Bu?". Gue tertawa,"Banget, Bu. Tuh lihat aja, kita termasuk bagian belakang". Si ibu pun tertawa. Akhirnya kami terlibat obrolan serius tentang hidup. Asyik mengobrol, sambil tetap aja celingak-celinguk, dan tetap parno melihat merah dan biru. Ga terasa sudah berada di depan. Untuk ke puncak yang ada di lantai 3, kami menggunakan lift, yang mengangkut per 11 orang.

Yeaaaa, puncak Monas!

"Ma, begini doang?", tanya Pink.


"Ya, begini ini", jawab gue.

Pink gue ajak melihat Jakarta lewat teropong yang disediakan di sana. Angin deras menerpa. Ya namanya aja di ketinggian tinggi-tinggi sekali.
 Hanya sebentar, lalu kami putuskan turun ke cawan, di lantai 2. menggunakan lift lagi, dan mengantri lagi.

Cawan Monas! Lebih nyaman, karena lebih luas tentunya. Mengelilingi cawan, celingak-celinguk, siapa tahu bertemu dengan teman-teman Pedas. Tapi masih sama, kami ga bertemu satu pun dari mereka. Duduk-duduklagi, santai, meluruskan kaki.

"Ga ada, ya Ma, teman-teman Mama?", tanya Pink.

"Ga apa-apa, ini perjalananmu, Nduk".

"Udah yuk, Ma. Turun yuk", ajaknya.

Lalu kami pun turun, dan menuruni banyak anak tangga! Haduh, ini bkan lagi anak tangga, tapi udah jadi cucu tangga! Sampai di bawah, kami masuk ke ruang diorama sejarah lagi, melihat-lihat.

"Ma, siapa tahu teman Mama ada di sini".

Tapi yang ada adalah kelompok pelajar, dan kelompok lainnya. Teman-teman Pedas, di manakah kalian?

Berkeliling diorama, kami berniat keluar, tapiii...

"Lewat mana ya keluarnya?", tanya gue.

"Sini, Ma", jawab Pink.

Salah!

"Mas, kami mau keluar, lewatnya mana ya?", gue bertanya pada petugas yang ada di sana. Petugas pun memberitahu, lalu... tralalala...!! Itu dia terowongan bawah tanah menuju keluar tugu Monas! Anak tangga lagiiiiiiiiii...!

Udara bebas! Pink dan gue sudah ada di luar.

"Yuk naik kereta aja, Pink. Mama cape kalau mesti jalan lagi".

Naik kereta api, tut tut tuuuuut...! Gratis, tapi kalau dari sini, harus menunjukkan tiket masuk ke Tugu Monas.
"Ma, mau ke mana sekarang?".

"Pulang, Nduk".

"Teman-teman Mama udah pada pulang juga kali ya?".

"Mama ga tahu, Nduk".

Melaju, melaju, terus melaju kereta...

Yea, tibalah kami di tempat awal tadi tiba.

"Mama, itu yang cowok pakai merah, yang cewek pakai biru. Itu kali teman-teman Mama".
Gue sebenarnya udah cape, dan udah hopeless bisa bertemu teman-teman Pedas. Gue pikir, ya sudahlah, ga apa-apa ga bertemu dengan teman-teman, yang penting Pink sudah bisa sampai di Monas, dan menemui banyak keajaiban, khususnya mengenai kondisi Pink. Tapi Pink memaksa. Oke Nduk, Mama nurut apa yang kamu mau.

Haaai, benar loh, di sana gue lihat kumpulan merah dan biru! Dan ada sesosok perempuan yang gue kenal betul, berkaus biru, berambut pendek! Itu kaaaan.... Hai hai haiiii...!!


Salam senyum,
error







Monday, 12 January 2015

error,"Monas (Bagian II)".

Sudah pagi! Sabtu, 10 Januari 2015, hari H untuk pergi ke Monas . Pukul 3.30 bangun dari tidur. Ngka, Esa, dan Pink, masih lelap. Gue pandangi tiga kekasih jiwa tercinta, mengucap syukur, diberi indahnya kebersamaan selama ini oleh GUSTI, dan berserah atas hidup juga mati kami, gue, dan 3 anak gue, Ngka, Esa, Pink. Ga lupa berdoa untuk perlindungan bagi mereka, walau gue juga sudah tahu, GUSTI selalu melindungi. Gue sudah ga khawatir lagi. Ajaib banget!

Lalu mulai sibuk dengan laptop, browsing, juga on di medsos. Chatting dengan seorang sahabat mengenai acara pagi ini, acara di hari ini. Hingga ga terasa gue belum membangunkan Esa, yang hari Sabtu pun masuk sekolah. Tapi Esa ga terlambat berangkat sekolah, kok. Juga tetap sempat sarapan sebelum diantar oleh Ngka.

Pink bangun, mandi, bersiap. Gue? Sudah siap, lah! Sekitar pukul 07.45, Pink, dan gue, diantar Ngka. Mampir dulu membeli konsumsi untuk Pink. Lalu pukul 08.00, sudah berada di dalam angkot. Duduk di depan.

Seperti biasa, macet. Sepanjang perjalanan gue mengobrol dengan Pink. Tiba-tiba ada pengamen 2 orang masuk, dan mulai bernyanyi. Gue tersentak mendengar nyanyiannya! Lagu yang dibawakan oleh mereka, benar-benar menyentak gue. Lagu tentang berserah pada Tuhan, tentang Tuhan yang Amat Baik, Tuhan dengan rencanaNYA yang indah untuk kita. "GUSTI, ini pengingatMU, ini menandakan penyertaanMU dalam perjalanan kami. Terimakasih", bisik gue. Pink bertanya pada gue,"Apa, Ma?". Dan gue menjawab bahwa lagu itu adalah tanda GUSTI ada beserta kita, GUSTI ikut serta dalam perjalanan ini.

Tiba di depan Pulo Gadung, gue membayar ke supir, dan bertanya,"Naik bussway, turunnya di mana, Pak?". Dan dijawab,"Nanti di dalam aja. Jangan di depan sini, jauh". Yup, waktunya turun angkot.

Jalan menuju halte bussway, gue berkata pada Pink,"Pink, kalau lemas, kasih tahu Mama, ya?".

Pink,"Ya. Ini ga lemas, kok".

Ini pertama kalinya Pink akan naik Trans Jakarta. Dan gue lihat wajahnya bercahaya! Ya, GUSTI, ini pasti karenaMU...

Di loket, membeli tiket. sambil bertanya, ke Monas naik jurusan mana, pada petugas yang ada.

"Dukuh Atas. Itu mau berangkat!", jawab petugas loket.

Petugas yang berada di luar berteriak,"Dua lagiiii..!!".

Yea, berangkat! Oops, penuh! Pink dan gue, berdiri! Gue berkata pada Pink,"Lemas, kasih tahu Mama". Pink tersenyum. Berdiri sambil memeluk Pink dengan 1 tangan, membuat gue lebih merasa tenang. Dekat halte Lia, Pink berkesempatan duduk. Leganya gue! Sehabis itu, gue juga berkesempatan duduk. Hihihi, ini lebih melegakan lagiiii... Hahaha! Ah, GUSTI benar-benar sedang menunjukkan pada gue, bahwa DIA menjaga Pink dengan baik, amat baik! Sungguh ajaib menurut gue, karena berdiri cukup lama, dengan tempat yang sesak, bergoyang, itu pasti melelahkan untuk Pink, tapi ternyata Pink kuat! GUSTI, ah...

Di Dukuh Atas, turun, transit, dan bikin gue
 agak shock waktu pertanyaan gue pada petugas,"Mau ke Monas, lewat yang mana, ya?", dijawab,"Naik terus aja, ikut jalurnya aja". Ugh! Gue memandang Pink, dan bertanya,"Naik, kuat?". Pink menjawab,"Ya, kuat". Gue terbengong-bengong mendengar jawaban ajaib dari Pink!

Gerimis! Duh, gue ga bawa payung! Pink memang memakai topi, tapi kan ga bisa melindunginya dri hujan! Gue mengadu pada GUSTI dalam hati,"GUSTI, ini gerimis. Pink bisa kehujanan. Aku ga bawa payung. Tolong jangan hujan di Monas, ya GUSTI". Gue lihat Pink tenang-tenang saja. Ah, Nduk...

Trans Jakarta menuju Monsa datang, dan Pink juga gue, berdiri lagi. Gue pandangi Pink, dia terlihat tenang, dan bercahaya. GUSTI, ini ajaib...

Monas! Turun, dan waaah, terang benderang! GUSTI, Makasih, terang benderang di sini. Ajaib untuk gue...

Ternyata gerbang masuk Monas tuh jauuuuh...! Pink sempat meminta untuk beristirahat di bangku-bangku yang disediakan di pinggir jalan. Gue betanya lagi,"Pink, kuat?". Dan jawabannya adalah,"Yuk, jalan lagi".

Masuk Monas! Pukul 10.30, sudah terlambat, karena acara dimulai pukul 10.00. Tapi ga apa-apa lah, lebih baik terlambat, daripada ga datang. Lagipula perjalanan ini bukan semata-mata untuk gue aja, tapi juga untuk Pink. Ah, gue bahagiaaaa bangeeeet!! Lah kok bahagia? Cuma sampai Monas aja bahagia! Hai hai, jelas banget ya gue bahagia. Mau tahu kenapa? Gue berhasil membawa Pink ke Monas! Hal yang ga mungkin dilakukan dulu... Perjalanan ini perjalan yang amat jauh, dan melelahkan, tapi Pink terlihat bercahaya! Ajaib bangeeeet...!

"Toilet, Nduk? Daripada nanti kebelet pipis, mending sekarang aja, yuk". Dan jadilah itu sebagai suara sambutan di toilet... Haha!

Di luar, gue dan Pink, celingak-celinguk.

"Teman-teman Mama, mana?", tanya Pink.

"Ga tahu. Mama ga tahu, Nduk. Cuma tahu di Monas, gitu. Pelataran Monas, tapi ga tahu di mana".

"Mbak, naik kereta aja tuh. Gratis kok, daripada jallan, cape", ujar penjaga toilet, sambil menunjuk kereta yang sedang parkir. Tapi ternyata Pink menolak. Dia memilih berjalan kaki,"Supaya lebih gampang cari teman-teman Mama". Gue terkaget-kaget.

Mengelilingi Monas adalah sebuah tindakan hebat Pink! Sesekali Pink minta istirahat, dan jadilah kami berdua duduk santai di pinggiran trotoir Monas. Sambil tetap celingak-celinguk, dan bertanya pada orang yang lewat,"Lihat kumpulan orang baju biru dan merah, ga?". Sayangnya ga ada satu pun yang melihat.

Satu kelilingan Monas sudah dijalani. Di depan gue patung lima orang berdiri.

Pink bertanya,"Ma, gimana kalau ga ketemu sama teman-teman Mama?".

Gue menjawab,"Ga apa-apa. Ini perjalananmu, Pink. Perjalananmu, Nduk. Piknik ke Monas".

Eh, ada pemotret bayaran. Untungnya bukan pembunuh bayaran! Hehehe...

"Pak, lihat orang-orang baju biru dan merah, ga?".

"Saya ga tahu, ga lihatin", jawab si bapak dengan logat medoknya.

"Ya udah, foto aja, Pak. Berapa?".

"Lima belas ribu, Mbak".

"Sepuluh ribu aja", gue menawar. Namanya aja ibu-ibu, negosiasi dulu dong! :D

"Ga bisa, itu saya cuma dapat bonus aja. Ini harga dari koperasi", jawabnya.

Lalu deal, jadilah gue dan Pink bernarsis-ria. Gue pikir, kalau ga ketemu teman-teman Pedas-Penulis dan Sastra, setidaknya ada bukti bahwa gue memang sudah sampai di Monas. Gue bisa laporan besoknya, dan ga hoax, karena ada bukti foto.




"Pak, yang namanya pelataran Monas tuh yang mana? Taman di seputar sini, atau di dalam sana", tanya gue pada si bapak pemotret sambil menunjuk taman, lalu menunjuk tugu Monas.

"Di sana, Mbak", jawabnya sambil menunjuk tugu Monas.

Okelah kalau begituuu... Mungkin jadi terasa aneh ya, kenapa juga gue dan Pink bisa-bisanya ga ketemu dengan teman-teman Pedas-Penulis dan Sastra? WA, dong, BBM, dong, SMS, dong, buka inbox di medsos, dong! Gitu, ya? Eh, gue ga bisa menghubungi teman-teman gue, dan mereka pun ga bisa menghubungi gue! Lah, kok? Hihihi, ya iyalah, gue kan udah 3 bulan ga pegang hp. Jadi wajar aja gue, dan Pink, bingung mencari teman-teman gue.

"Pink, ada suara orang baca puisi deh. Di mana, ya?", tanya gue. Pink menggelengkan kepala. Gue memandang orang-orang di dalam Monas. Jangan-jangan teman-teman ada di sana!

"Masuk ke sana, yuk! Siapa tahu teman-teman Mama ada di sana", ujar gue sambil menunjuk ke arah dalam area Monas. Dijawab dengan anggukan.

"Naik kereta aja, yuk. Mama cape", kata gue. Ya sih, gue memang cape, tapi sebenarnya lebih karena menjaga Pink, jangan sampai kelelahan.

"Yuk".

Berjalanlah Pink, dan gue menuju kereta yang akan mengantar kami menuju pintu masuk tugu Monas. Di kereta asyik mengobrol, dan Pink makan sedikit.

Naik kereta api, tut tut tuuut...!! Hihihi, padahal ga bunyi tut tut tut, kan keretanya tuh kereta model odong-odong yang lewat depan rumah gue :D .

Tralala, trilili, perjalanan ini menyenangkan sekali...

Cerita masuk ke dalam tugu Monas, ada di bagian III :D.


Salam senyum,
error