Tuesday, 13 January 2015

error,"Monas (bagian III)".

Di depan terowongan bawah tanah yang merupakan pintu masuk menuju Tugu Monas, banyak penjual souvenir. Ada penjual topi, kaus, gantungan kunci, aksesoris, dan layang-layang. Aku menawarkan pada Pink, mungkin ada yang ingin dibelinya. Tapi ternyata Pink menolak. Dalam hati, gue berkata,"Pinteeerrnya anak gueee...! Ga borooosss...!", Hahaha!

Masuk turun ke bawah, lewati anak tangga. Loket tiket ada 2, yang sebelah kiri untuk pengunjung yang masuk sampai ke puncak Monas, sedangkan yang satunya untuk pengunjung yang hanya sampai di pelatarannya saja. Gue memilih hanya sampai di pelatarannya saja, karena gue pikir, teman-teman Pedas-Penulis dan Sastra, berkumpul di sana. Tiketnya murah, Rp. 5.000,- untuk dewasa, dan Rp. 2.000,- untuk anak sekolah/anak-anak. Jadi untuk masuk ke sana, gue membayar tiket Rp. 7.000,-, karena gue berdua Pink, ditambah asuransi Rp. 1000,-.

Masuk terus ke dalam lorong, lalu sampai di ujung, harus naik tangga lagi. Haduh, banyak anak tangga yang harus dilewati selama di sini. Lalu gue dan Pink mengelilingi pelataran tugu Monas. Tapi kok di antara begitu banyak orang, gue ga lihat kumpulan orang yang berbaju merah dan biru, ya? Masuk melihat diorama sejarah Indonesia, juga ga ada teman-teman Pedas! Banyak pelajar SD, SMP, yang datang berkunjung dengan pendampingan guru, dan ada juga pendampingnya kakak Pramuka. Ramai banget!

"Ma, teman-teman Mama, mana? Ga jadi kali, Ma. Diundur kali. Masa sih dari banyak orang gini, ga ada satu pun", kata Pink, dengan nada sedih. Gue tahu, Pink kasihan sama gue.

"Ga diundur, kok. Cuma memang Mama ga ngerti mereka ada di mana. Mama kan ga WA, ga BBM, ga buka medsos juga", jawab gue.

"Mama sih, kenapa ga beli hp lagi? Harusnya Mama beli lagi", ujar Pink.

"Ga ah, biar aja, uangnya untuk sekolah aja, untuk kuliah aja, untuk homeschooling aja. Untuk pendidikan anak-anak Mama aja", jawab gue.

Pink bergelayut di lengan gue, dan mengelus lengan gue. Ah, Nduk, ini memang perjalanan wisata untukmu yang disediakan oleh GUSTI...

Lelah berjalan berkeliling, kami pun mencari tempat untuk duduk selonjor di lantai, dan bersender di dinding Tugu Monas. Rasanya nyamaaaan bangeeet, membiarkan otot kaki santai. Gue pandangi Pink, kok wajahnya bersinar terus, ya? Ga terlihat wajah lelah sedikit pun! Padahal gue aja nih, mulai rontok sedikit-sedikit. Tapi gue ga mau memperlihatkan lelah pada Pink. Pink harus tetap gembira! Semangaaaat, semangaaat!!

Makan lagi sedikit, mengunyah permen, minum, cemil kue, ngobrol berdua, bercanda. Llama-llama bosan hanya duduk-duduk di situ. Di sana gue dan Pink jadi parno kalau melihat merah dan biru. Jangan-jangan itu teman-teman Pedas! Tapi ternyata bukan...

"Nduk, naik ke puncak, yuk!", ajak gue ke Pink.

"Yuk!".

Tapi haduuh, kan tiketnya cuma untuk sampai pelataran aja! Gimana ya? Gue lihat ada petugas di sana.

"Pak, aku mau ke puncak, tapi gimana tiketnya? Beli ke mana? Harus balik lagi ke tempat tadi?", tanya gue.

Eh, si bapak itu berbaik hati membelikan tiket ke loket di bawah nun jauh di sana! Tiket dewasa Rp. 15.000,-, dan anak-anak Rp. 4.000,-. Yihaaa, makasih ya pak, kaki ini ga perlu berlelah lagi untuk beli tiket.

Tapi, weeeh, antrian untuk bisa masuk puncak Monas, panjaaaang bangeeet! Ular naga panjangnyaaa, bukan kepalaaang! Tapi ok deh, harus tetap semangat menuju puncak Monas! Pink santai aja tuh, ga terlihat lelah menyerah! Ajaib banget!!

Berdiri mengantri, membuat gue lelah. Bruk, gue duduk melantai, alis duduk di lantai. Pink pun meniru duduk di lantai. Mengobrol ini, dan itu, tentang ini, dan tentang itu. Di barisan antrian ramai pelajar yang berteriak-teriak. Gue jadi berpikir, dulu gue gitu juga ga ya? Atau malah lebih heboh dari itu? Ibu di depan gue memandangi gue yang santai duduk di lantai, lalu berkata,"Masih lama, ya Bu?". Gue tertawa,"Banget, Bu. Tuh lihat aja, kita termasuk bagian belakang". Si ibu pun tertawa. Akhirnya kami terlibat obrolan serius tentang hidup. Asyik mengobrol, sambil tetap aja celingak-celinguk, dan tetap parno melihat merah dan biru. Ga terasa sudah berada di depan. Untuk ke puncak yang ada di lantai 3, kami menggunakan lift, yang mengangkut per 11 orang.

Yeaaaa, puncak Monas!

"Ma, begini doang?", tanya Pink.


"Ya, begini ini", jawab gue.

Pink gue ajak melihat Jakarta lewat teropong yang disediakan di sana. Angin deras menerpa. Ya namanya aja di ketinggian tinggi-tinggi sekali.
 Hanya sebentar, lalu kami putuskan turun ke cawan, di lantai 2. menggunakan lift lagi, dan mengantri lagi.

Cawan Monas! Lebih nyaman, karena lebih luas tentunya. Mengelilingi cawan, celingak-celinguk, siapa tahu bertemu dengan teman-teman Pedas. Tapi masih sama, kami ga bertemu satu pun dari mereka. Duduk-duduklagi, santai, meluruskan kaki.

"Ga ada, ya Ma, teman-teman Mama?", tanya Pink.

"Ga apa-apa, ini perjalananmu, Nduk".

"Udah yuk, Ma. Turun yuk", ajaknya.

Lalu kami pun turun, dan menuruni banyak anak tangga! Haduh, ini bkan lagi anak tangga, tapi udah jadi cucu tangga! Sampai di bawah, kami masuk ke ruang diorama sejarah lagi, melihat-lihat.

"Ma, siapa tahu teman Mama ada di sini".

Tapi yang ada adalah kelompok pelajar, dan kelompok lainnya. Teman-teman Pedas, di manakah kalian?

Berkeliling diorama, kami berniat keluar, tapiii...

"Lewat mana ya keluarnya?", tanya gue.

"Sini, Ma", jawab Pink.

Salah!

"Mas, kami mau keluar, lewatnya mana ya?", gue bertanya pada petugas yang ada di sana. Petugas pun memberitahu, lalu... tralalala...!! Itu dia terowongan bawah tanah menuju keluar tugu Monas! Anak tangga lagiiiiiiiiii...!

Udara bebas! Pink dan gue sudah ada di luar.

"Yuk naik kereta aja, Pink. Mama cape kalau mesti jalan lagi".

Naik kereta api, tut tut tuuuuut...! Gratis, tapi kalau dari sini, harus menunjukkan tiket masuk ke Tugu Monas.
"Ma, mau ke mana sekarang?".

"Pulang, Nduk".

"Teman-teman Mama udah pada pulang juga kali ya?".

"Mama ga tahu, Nduk".

Melaju, melaju, terus melaju kereta...

Yea, tibalah kami di tempat awal tadi tiba.

"Mama, itu yang cowok pakai merah, yang cewek pakai biru. Itu kali teman-teman Mama".
Gue sebenarnya udah cape, dan udah hopeless bisa bertemu teman-teman Pedas. Gue pikir, ya sudahlah, ga apa-apa ga bertemu dengan teman-teman, yang penting Pink sudah bisa sampai di Monas, dan menemui banyak keajaiban, khususnya mengenai kondisi Pink. Tapi Pink memaksa. Oke Nduk, Mama nurut apa yang kamu mau.

Haaai, benar loh, di sana gue lihat kumpulan merah dan biru! Dan ada sesosok perempuan yang gue kenal betul, berkaus biru, berambut pendek! Itu kaaaan.... Hai hai haiiii...!!


Salam senyum,
error







Monday, 12 January 2015

error,"Monas (Bagian II)".

Sudah pagi! Sabtu, 10 Januari 2015, hari H untuk pergi ke Monas . Pukul 3.30 bangun dari tidur. Ngka, Esa, dan Pink, masih lelap. Gue pandangi tiga kekasih jiwa tercinta, mengucap syukur, diberi indahnya kebersamaan selama ini oleh GUSTI, dan berserah atas hidup juga mati kami, gue, dan 3 anak gue, Ngka, Esa, Pink. Ga lupa berdoa untuk perlindungan bagi mereka, walau gue juga sudah tahu, GUSTI selalu melindungi. Gue sudah ga khawatir lagi. Ajaib banget!

Lalu mulai sibuk dengan laptop, browsing, juga on di medsos. Chatting dengan seorang sahabat mengenai acara pagi ini, acara di hari ini. Hingga ga terasa gue belum membangunkan Esa, yang hari Sabtu pun masuk sekolah. Tapi Esa ga terlambat berangkat sekolah, kok. Juga tetap sempat sarapan sebelum diantar oleh Ngka.

Pink bangun, mandi, bersiap. Gue? Sudah siap, lah! Sekitar pukul 07.45, Pink, dan gue, diantar Ngka. Mampir dulu membeli konsumsi untuk Pink. Lalu pukul 08.00, sudah berada di dalam angkot. Duduk di depan.

Seperti biasa, macet. Sepanjang perjalanan gue mengobrol dengan Pink. Tiba-tiba ada pengamen 2 orang masuk, dan mulai bernyanyi. Gue tersentak mendengar nyanyiannya! Lagu yang dibawakan oleh mereka, benar-benar menyentak gue. Lagu tentang berserah pada Tuhan, tentang Tuhan yang Amat Baik, Tuhan dengan rencanaNYA yang indah untuk kita. "GUSTI, ini pengingatMU, ini menandakan penyertaanMU dalam perjalanan kami. Terimakasih", bisik gue. Pink bertanya pada gue,"Apa, Ma?". Dan gue menjawab bahwa lagu itu adalah tanda GUSTI ada beserta kita, GUSTI ikut serta dalam perjalanan ini.

Tiba di depan Pulo Gadung, gue membayar ke supir, dan bertanya,"Naik bussway, turunnya di mana, Pak?". Dan dijawab,"Nanti di dalam aja. Jangan di depan sini, jauh". Yup, waktunya turun angkot.

Jalan menuju halte bussway, gue berkata pada Pink,"Pink, kalau lemas, kasih tahu Mama, ya?".

Pink,"Ya. Ini ga lemas, kok".

Ini pertama kalinya Pink akan naik Trans Jakarta. Dan gue lihat wajahnya bercahaya! Ya, GUSTI, ini pasti karenaMU...

Di loket, membeli tiket. sambil bertanya, ke Monas naik jurusan mana, pada petugas yang ada.

"Dukuh Atas. Itu mau berangkat!", jawab petugas loket.

Petugas yang berada di luar berteriak,"Dua lagiiii..!!".

Yea, berangkat! Oops, penuh! Pink dan gue, berdiri! Gue berkata pada Pink,"Lemas, kasih tahu Mama". Pink tersenyum. Berdiri sambil memeluk Pink dengan 1 tangan, membuat gue lebih merasa tenang. Dekat halte Lia, Pink berkesempatan duduk. Leganya gue! Sehabis itu, gue juga berkesempatan duduk. Hihihi, ini lebih melegakan lagiiii... Hahaha! Ah, GUSTI benar-benar sedang menunjukkan pada gue, bahwa DIA menjaga Pink dengan baik, amat baik! Sungguh ajaib menurut gue, karena berdiri cukup lama, dengan tempat yang sesak, bergoyang, itu pasti melelahkan untuk Pink, tapi ternyata Pink kuat! GUSTI, ah...

Di Dukuh Atas, turun, transit, dan bikin gue
 agak shock waktu pertanyaan gue pada petugas,"Mau ke Monas, lewat yang mana, ya?", dijawab,"Naik terus aja, ikut jalurnya aja". Ugh! Gue memandang Pink, dan bertanya,"Naik, kuat?". Pink menjawab,"Ya, kuat". Gue terbengong-bengong mendengar jawaban ajaib dari Pink!

Gerimis! Duh, gue ga bawa payung! Pink memang memakai topi, tapi kan ga bisa melindunginya dri hujan! Gue mengadu pada GUSTI dalam hati,"GUSTI, ini gerimis. Pink bisa kehujanan. Aku ga bawa payung. Tolong jangan hujan di Monas, ya GUSTI". Gue lihat Pink tenang-tenang saja. Ah, Nduk...

Trans Jakarta menuju Monsa datang, dan Pink juga gue, berdiri lagi. Gue pandangi Pink, dia terlihat tenang, dan bercahaya. GUSTI, ini ajaib...

Monas! Turun, dan waaah, terang benderang! GUSTI, Makasih, terang benderang di sini. Ajaib untuk gue...

Ternyata gerbang masuk Monas tuh jauuuuh...! Pink sempat meminta untuk beristirahat di bangku-bangku yang disediakan di pinggir jalan. Gue betanya lagi,"Pink, kuat?". Dan jawabannya adalah,"Yuk, jalan lagi".

Masuk Monas! Pukul 10.30, sudah terlambat, karena acara dimulai pukul 10.00. Tapi ga apa-apa lah, lebih baik terlambat, daripada ga datang. Lagipula perjalanan ini bukan semata-mata untuk gue aja, tapi juga untuk Pink. Ah, gue bahagiaaaa bangeeeet!! Lah kok bahagia? Cuma sampai Monas aja bahagia! Hai hai, jelas banget ya gue bahagia. Mau tahu kenapa? Gue berhasil membawa Pink ke Monas! Hal yang ga mungkin dilakukan dulu... Perjalanan ini perjalan yang amat jauh, dan melelahkan, tapi Pink terlihat bercahaya! Ajaib bangeeeet...!

"Toilet, Nduk? Daripada nanti kebelet pipis, mending sekarang aja, yuk". Dan jadilah itu sebagai suara sambutan di toilet... Haha!

Di luar, gue dan Pink, celingak-celinguk.

"Teman-teman Mama, mana?", tanya Pink.

"Ga tahu. Mama ga tahu, Nduk. Cuma tahu di Monas, gitu. Pelataran Monas, tapi ga tahu di mana".

"Mbak, naik kereta aja tuh. Gratis kok, daripada jallan, cape", ujar penjaga toilet, sambil menunjuk kereta yang sedang parkir. Tapi ternyata Pink menolak. Dia memilih berjalan kaki,"Supaya lebih gampang cari teman-teman Mama". Gue terkaget-kaget.

Mengelilingi Monas adalah sebuah tindakan hebat Pink! Sesekali Pink minta istirahat, dan jadilah kami berdua duduk santai di pinggiran trotoir Monas. Sambil tetap celingak-celinguk, dan bertanya pada orang yang lewat,"Lihat kumpulan orang baju biru dan merah, ga?". Sayangnya ga ada satu pun yang melihat.

Satu kelilingan Monas sudah dijalani. Di depan gue patung lima orang berdiri.

Pink bertanya,"Ma, gimana kalau ga ketemu sama teman-teman Mama?".

Gue menjawab,"Ga apa-apa. Ini perjalananmu, Pink. Perjalananmu, Nduk. Piknik ke Monas".

Eh, ada pemotret bayaran. Untungnya bukan pembunuh bayaran! Hehehe...

"Pak, lihat orang-orang baju biru dan merah, ga?".

"Saya ga tahu, ga lihatin", jawab si bapak dengan logat medoknya.

"Ya udah, foto aja, Pak. Berapa?".

"Lima belas ribu, Mbak".

"Sepuluh ribu aja", gue menawar. Namanya aja ibu-ibu, negosiasi dulu dong! :D

"Ga bisa, itu saya cuma dapat bonus aja. Ini harga dari koperasi", jawabnya.

Lalu deal, jadilah gue dan Pink bernarsis-ria. Gue pikir, kalau ga ketemu teman-teman Pedas-Penulis dan Sastra, setidaknya ada bukti bahwa gue memang sudah sampai di Monas. Gue bisa laporan besoknya, dan ga hoax, karena ada bukti foto.




"Pak, yang namanya pelataran Monas tuh yang mana? Taman di seputar sini, atau di dalam sana", tanya gue pada si bapak pemotret sambil menunjuk taman, lalu menunjuk tugu Monas.

"Di sana, Mbak", jawabnya sambil menunjuk tugu Monas.

Okelah kalau begituuu... Mungkin jadi terasa aneh ya, kenapa juga gue dan Pink bisa-bisanya ga ketemu dengan teman-teman Pedas-Penulis dan Sastra? WA, dong, BBM, dong, SMS, dong, buka inbox di medsos, dong! Gitu, ya? Eh, gue ga bisa menghubungi teman-teman gue, dan mereka pun ga bisa menghubungi gue! Lah, kok? Hihihi, ya iyalah, gue kan udah 3 bulan ga pegang hp. Jadi wajar aja gue, dan Pink, bingung mencari teman-teman gue.

"Pink, ada suara orang baca puisi deh. Di mana, ya?", tanya gue. Pink menggelengkan kepala. Gue memandang orang-orang di dalam Monas. Jangan-jangan teman-teman ada di sana!

"Masuk ke sana, yuk! Siapa tahu teman-teman Mama ada di sana", ujar gue sambil menunjuk ke arah dalam area Monas. Dijawab dengan anggukan.

"Naik kereta aja, yuk. Mama cape", kata gue. Ya sih, gue memang cape, tapi sebenarnya lebih karena menjaga Pink, jangan sampai kelelahan.

"Yuk".

Berjalanlah Pink, dan gue menuju kereta yang akan mengantar kami menuju pintu masuk tugu Monas. Di kereta asyik mengobrol, dan Pink makan sedikit.

Naik kereta api, tut tut tuuut...!! Hihihi, padahal ga bunyi tut tut tut, kan keretanya tuh kereta model odong-odong yang lewat depan rumah gue :D .

Tralala, trilili, perjalanan ini menyenangkan sekali...

Cerita masuk ke dalam tugu Monas, ada di bagian III :D.


Salam senyum,
error












error,"Baju Dan Celana Yang Menciut".

Di satu pagi yang cerah,"Aargh!", gue berteriak sekeras-kerasnya. Ayam tetangga yang tidur pun bangun karena kaget! Oh noooo! Celana serta baju gue menciut! Panik! Coba baju yang ini, yang itu, celana ini, dan itu. Semua jadi menciut! Celana sempit, begitu pun baju! Teriak lagi,"Aaaaargh!!". Gue pandangi tumpukan baju dan celana yang menciut. Bagaimana mungkin ini terjadi?

Ugh, patut direnungkan, kenapa baju dan celana menciut. Bahan baju dan bahan celana bukan model bahan yang bisa menciut. Bahan biasa, tapi kenapa jadi begini? Oh, kenapaaa? Lalu mulailah perenungan ini...

Gue perempuan bekerja, yang mempunyai bos amat baik hati, suka membawa oleh-oleh makanan cemilan untuk dikeroyok bersama. Dan gue bukan orang yang suka menyakiti orang lain. Gue ga mau menyakiti hatinya dengan tidak memakan oleh-olehnya. Dibawakan, ya gue makan. begitu pula saat ada yang balik dari pulang kampung, dan menggeletakkan korban makanan untuk gue habiskan. Ga mungkin gue cuek aja. Bisa nangis nanti th makanannya gegara ga dilirik sama gue. Bisa nangis tuh kue-kue gegara gue pura-pura ga ingin menghabiskan mereka! Ah, gue orang yang baik, ga ingin mengecewakan mereka... Lalu gue teringat juga akan fasilitas prasmanan di kantor yang disediakan setiap makan siang, dengan menu berganti setiap hari. Sungguh menyakitkan melihat menu makan siang yang nikmat, tapi ga disentuh! Oh, tidak, gue bukan orang seperti itu! Gue makan dengan porsi yang memang sudah sepantasnya. Pantas untuk kenyaaaang!

Akhirnya gue sadar, ternyata memang baju dan celana ini menciut karena makanan yang gue makan! Oh, bukan, bukan gue tambah gendut! Salah, bukan itu! Tapi baju dan celana gue yang memang menciut karena mereka ga makan! Lalu, apa yang harus gue perbuat? Haruskah gue berhenti makan cemilan di kantor? Atau mengurangi porsi kenyang gue? Oh, tidaaak! Hmm, gini aja kali yaaa, pandangi terus baju dan celana, membujuk mereka agar mau melar, membesar, jadi gue ga harus membeli celana dan baju baru yang berarti memensiunkan mereka.

Renungan pun berakhir, dan gue tetap pada berusaha membujuk celana, baju, agar ga menciut lagi, kalau mau tetap berguna.

Gue tersenyum saat ini, bahagia merasakan celana dan baju yang ga menciut... Bukan karena gue berhasil membujuk mereka jadi mau untuk melar membesar, tapi ya iyalah, gue kan sedang mengenakan celana pendek boxer yang keliling pinggangnya berkaret, dan mengenakan kaus oblong besar! Hahaha, ternyata sudah waktunya gue diet...

Salam senyum,
error







error,"Ngambek".

Ngambek. Siapa yang ga pernah ngambek? Jujur, gue pernah ngambek, tapi sekarang ini sih bukan mau cerita gue ngambek. Gue mau cerita si Cucing, kucing peliharaan di rumah, ngambek.

Sudah seminggu Cucing belum mandi. Badannya sudah mulai terlihat agak dekil.

"Ma, Cucing dekil", kata Pink.

"Iya, nanti siang Mama mandiin deh si Cucing. Jangan pagi-pagi gini, kasihan dingin, ga ada panas matahari", jawab gue.

Si Cucing yang lagi jadi bahan omongan, santai, tidur pulas di depan tv.

Siang-siang, Cucing asyik bermain sendiri, lompat-lompat sendiri, dan sibuk memburu plastik guntingan botol air mineral, yang memang khusus jadi mainannya. Lucu!

Sesudah Cucing selesai bermain, gue gendong, dan bawa ke kamar mandi,"Mandi, Cucing. Udah dekil", dan Cucing ga berkata apa-apa ke gue. Ya iyalaaah, cucing kan kucing! :D

Masuk kamar mandi, Cucing curiga deh kayaknya. Dia mulai bergerak di gendongan. Waktu turun dari gendongan, dia agak berontak. Tetap aja lah gue mandikan. Cucing harus bersih, karena dia peliharaan di rumah, dan kontak fisik dengan Ngka, Esa, terutama Pink. Cucing makin berontak sewaktu mulai diguyur air, dan diam saat gue kasih shampo. Mungkin nyaman karena dipijit, ya? Ga lama kemudian, selesailah mandi-mandinya Cucing.

Pink sigap menggendong Cucing dalam handuk. Cucing diam, ga berontak lagi. Hangat, karena dibalut handuk. Lalu, Cucing minta turun dari gendongan, berjalan ke sudut ruang tamu, ga mau gue dekati, dan mulai menjilat-jilat tubuhnya.

"Mama, Cucing mandi lagi", kata Pink.

Gue tertawa, dan mulai menjawab asal,"Iya, kan maksudnya tuh supaya kering".

Gue mendekati Cucing lagi, maksud hati sih mau menghandukinya. Eeeh Cucing masih tetap ga mau. Dia bangun, lalu pergi ke luar. Ditinggalkannya gue.

"Mama, Cucingnya ke luar. Ngambek sama Mama tuh", ujar Pink sambil tertawa. Cucing tetap cuek melangkah, ga berhenti di pintu seperti biasanya. Hmm, Cucing ngambek!

Tunggu punya tunggu, Cucing ga pulang-pulang. Cucing, kemana sih kamu? Malam, Cucing belum pulang. Gue bingung juga. Sekarang kan ga bisa diprediksi bak
al hujan atau ga. Nah kalau hujan, gimana si Cucing? Eh tiba-tiba...

"Mama, Cucing pulang", Pink berkata ke gue.

Gue mau pegang Cucing, eh dia ga mau. Oops, Cucing ternyata ngambek ke gue, gegara dimandikan tadi siang.

Cucing, Cucing... Tapi akhirnya Cucing mau juga bercanda lagi sama gue. Diapa-apain kan gue 'ibunya' :D . Hihihi, gue memang bukan ibu kandung si Cucing, tapi kan gue tuh ibu asuhnya!

"Ada Cucing enak ya, Ma? Seru, kayak punya adik kecil, tapi asyik, ga pernah nangis, juga ga rewel minta jajan", ujar Ngka, yang disepakati oleh Pink, dan Esa.

GUSTI, Makasih ya, sudah menghadirkan Cucing di rumah ini, di dalam keluarga kami... 


Salam senyum,
error


Sunday, 11 January 2015

error,"Monas (bagian I)".

Pada 28 Desember 2014 lalu, ada undangan acara Parade Baca Puisi yang diadakan oleh grup Pedas-Penulis dan Sastra, yang akan diadakan di tanggal 10 Januari 2015, dan jelas gue tertarik mengikutinya. Selain memang gue anggota grup Pedas, ajang tersebut memang menarik banget! Baca puisi, dan kopdar dengan teman-teman. Menambah ilmu, menambah saudara, bagus banget kan? 


Waktunya bagus pula. Sabtu siang, yang berarti Esa pun sudah pulang sekolah. Jadi gue berencana mengajak Pink, dan Esa.

"Pink, Mama mau ke Monas, tanggal 10 Januari tahun depan. Acaranya Pedas-Penulis dan Sastra. Pembacaan puisi", ujarku pada Pink satu hari di Desember 2014.

"Mau, Ma. Ikut aja, ikut! Pink kuat!", Pink merespon kata-kata gue dengan antusias, dan Esa pun mengiyakan dengan antusias.

Gue senang banget Pink dan Esa terlihat antusias untuk ikut pergi. Tapi ga gue pungkiri, ada rasa was-was mengajak Pink ke Monas. Plis deh, Monas tuh jauuuuh dari rumah gue! Dan tahu dong, Monas itu lapangan, yang berarti jalan kaki...! Tapi gue ga mau melihat Pink kecewa. Gue ga mau membunuh semangat yang dimilikinya. Setiap melihat binar-binar di matanya berkilau-kilau, gue merasa harus terus membinarkannya. Dan gue pun mengangguk tanda mengiyakan Pink. Dan untuk persiapan berangkat ke Monas, gue ajak Pink ke kantor di tanggal 2 Januari 2015, naik motor. Jika Pink kuat ke kantor gue naik motor, berarti kondisinya bisa gue bilang bagus. Dan ternyata Pink kuat, sehat, pulang pergi ke kantor gue naik motor!

Belum selesai sampai di situ. Mendekati tanggal 10 Januari 2015, Pink sariawan! Ini ga lebay, cuma gegara sariawan aja kok gue ga ragu mengajak Pink. Sariawan untuk Pink, itu sangat menyiksa. Dari sariawan, bisa ada organ lain yang diserang oleh imunnya. Gue resah. Semakin mendekati hari H, gue semakin resah, khawatir, cemas. Gue mulai stress. Gue ga mau terjadi hal-hal yang ga bagus ke Pink, gegara pergi ke Monas! Gue merasa harus melindungi Pink dari segala hal yang bisa berakibat buruk terhadap kondisi kesehatannya. Larangan dokter sudah gue langgar, pantangan-pantangan yang berjibun banyaknya gue tabrak untuk Pink. Memelihara kucing pun sudah dijalani. Semua karena gue memasrahkan Pink pada GUSTI, menyerahkan segalanya pada GUSTI. Tapi ternyata gue masih belum sanggup mengajak
 untuk bepergian jauh, dan naik fasilitas umum yang berarti ada banyak ketidaknyamanan, duh, gue ga berani! Sesudah Pink diketahui autoimun, gue ajak pergi Pink naik taxi, karena kalau tiba-tiba dia lemas, aman ada di dalam taxi. Tapi naik taxi dari rumah gue sampai Monas? Oh noooo!! Ga sanggup bayar argonyalah gue. Dan gue makin tenggelam dalam resah... Apalagi ternyata jadwal acara dimajukan, jadi pukul 10.00, Esa ga bisa ikut karena belum pulang sekolah.



Gue resah, gelisah, dan benar-benar menyiksa gue. Hingga akhirnya gue menyadari 1 hal, dan ternyata itu adalah hal yang terpenting! Gue ga berpasrah, ga berserah pada GUSTI SANG EMPUNYA HIDUP. Gue terpekur, menangis. Gue lupa bahwa GUSTI selama ini menjaga, melindungi, melebihi siapa pun, dan melebihi apa pun! Gue salah... Saat itu juga gue berdoa, mengadu, pada GUSTI. Hanya padaNYA, seluruh resah, gelisah, gue adukan, tapi ini juga dibarengi dengan pasrah, total berserah padaNYA. Menyerahkan hidup dan mati anak-anak gue padaNYA, juga termasuk Pink. Gue memohon ampunan karena sudah resah gelisah, was-was, atas sehat dan sakitnya Pink. Setelah itu, gue merasa tenang. Gue mantap pergi ke monas bersama Pink. Gue percaya Pink selalu didampingi GUSTI. Sehat dan sakitnya, adalah rencana GUSTI. Tak ada rencana yang lebih indah dari rencanaNYA...

Tiba tanggal 9 Januari 2015, gue meminta Pink untuk tidur lebih cepat, jangan terlalu malam, dan tidak terlalu lelah beraktifitas, karena besok, Sabtu, 10 Januari 2015, Pink, dan gue, akan keliling dunia! Monas, tunggu kami...!!


Salam,
error






Sunday, 4 January 2015

error,"Namanya Cucing"

Akhirnya kucing kecil yang dipelihara di rumah, fix bernama Cucing. Setelah beberapa lama si kucing tanpa nama. Suka dipanggil dengan sebutan kunyil, kunyilet, cimul, dan masih banyak lagi. Bingung mau memberi nama apa untuk si kucing kecil. Juga mencoba memanggilnya dengan nama pemberian teman-teman, imun, cuwil, dan lagi-lagi banyak nama dari teman dicoba untuknya. Tapi si kucing cuek, ga perduli dengan nama-nama antik, cantik, lucu, dan juga ada nama yang aneh. Ga perduli. Hingga akhirnya gue panggil dia,"Cucing!", eh dia menoleh, lalu mendekati gue! Yup, ok, fix, namanya Cucing!

Cucing bukan kucing ras, tapi kucing kampung, warna kuning putih. Eh, kuning atau orange, atau itu masuk cokelat muda sih? Ga tahu deh, pokoknya warnanya begitu itu deh si Cucing. Cucing juga bukan kucing yang 'nggragas', alias bukan kucing tukang nyolong makanan. Ikan, ayam, belut, udang, dicuekkin kok sama Cucing. Cucing lebih memilih makan krupuk, pisang yang berasal dari isi molen, dan makanan-makanan yang rasa-rasanya bakal dicuekkin oleh kucing lainnya. Cucing memang unik! Mungkin karena Cucing berasal dari jalanan, masih kecil, dan ga terbiasa diberi makanan yang biasa diberi untuk kucing. Jadi, sewaktu gue beri dia kepala udang, Cucing cuek. Suwiran ayam, cuek. Ikan, cuek juga. Ikan asin, yang katanya tuh favoritnya kucing, oleh Cucing ga dianggap. Lewaaaat semuaaa! baru dimakan oleh Cucing setelah gue suapin ke dalam mulutnya, lalu mulutnya erat-erat gue tutup. Setelah beberapa saat, mulutnya gue lepaskan, Cucing melepeh makanannya, lalu pelan-pelan dimakannya! Tapi kalau krupuk, langsung si Cucing makan, tanpa harus disuap ke mulutnya. Cucing oh Cucing...

Cucing bukan kucing yang asyik diajak bermain, bukan kucing yang asyik bila dielus. Cucing main dengan mainannya yang bukan mainan. Plastik yang berasal dari botol mineral, sobekan kertas yang tergeletak di lantai, itu yang jadi obyek mainannya. Dicolak-colek menggunakan kakinya, lalu ditangkap, dimainkan lagi, dan begitu seterusnya. Lalu bosan, Cucing tiduran, mandi. Bola bekel kecil yang gue beli untuk Cucing, entah akhirnya ada di mana, karena Cucing ga tertarik sama sekali. Cucing tertarik dengan jempol kaki milik orang yang sedang tidur. Digigit, lalu ditendang-tendang menggunakan kaki belakangnya. Membelai Cucing amat sulit! Tangan yang hendak membelai, dicakar, dan digigitnya. Cucing memang beda dari kucing-kucing lain. Cucing yang senang tidur di depan kipas angin, tidur di atas gorden yang ditariknya hingga lepas dari tempatnya, lalu dijadikan alas tidur olehnya. Cucing unik, Cucing selalu mengundang tawa Ngka, Esa, Pink, dan gue, dengan tingkahnya yang lucu.

Hari ini hujan terus. Cucing main entah kemana. Tiba-tiba dia pulang dengan punggung basah kotor. Gue bawa ke kamar mandi, gue mandiin. Cucing diam. Setelah mandi, Cucing dikeringkan di handuk miliknya. Cucing diam, ga memberontak. Cucing tahu dia disayang. Si Cucing memang membuat kami jatuh hati. Cucing oh Cucing, Cucing yang unik, beda, dan Cucing pemberi warna di keseharian Ngka, Esa, Pink, dan gue. Cucing yang menambah ceria tawa Ngka, Esa, apalagi Pink.

Cucing, di sini  aja ya, boleh main keluar, tapi jangan kabur...


Salam senyum,
error

error,"Menarik Sehat Si Sakit"

Siapa mau sakit? Semua orang pasti ingin sehat. Sakit tuh ga enak. Ga bisa pergi-pergi, ga bisa nongkrong bareng teman-teman, ga bisa mengerjakan ini dan itu dengan maksimal seperti saat sehat. Sakit itu ga menyenangkan, tapi bukan berarti jadi mengeluh, meratap-ratap, dan malah jadi hilang semangat! Bersyukur bisa merasakan sakit, karena berarti sudah pernah merasakan sehat. Bersyukur ada solusi untuk menjadi sehat.

Semasa Bap, bapak gue, masih hidup, dan diserang kanker rectum, lalu kanker itu menjalar ke organ-oran lainnya, gue melihat Bap tetap bersemangat. Bap memang ga gue beritahu bahwa Bap kanker, karena gue berniat menjaga semangat Beliau, gue khawatir Bap jadi turun semangat hidupnya setelah mengetahui ternyata Bap kanker. Bap sudah merasakan sakit yang amat sangat, jadi biarlah gue saja yang mengetahui penyakitnya, dan berusaha membantu kesembuhannya. Dan gue benar-benar bersukacita melihat Bap selalu bersemangat menjalani perawatan. Setelah menjalani semua perawatan, juga operasi-operasi, Januari 2014, tepatnya tanggal 9, Bap meninggal. Menyisakan bangga, Bap tangguh dalam sakitnya!

Tujuh tahun yang lalu, suami gue, ayah Ngka, Esa, Pink, di usia 39 tahun, juga divonis kanker hati, dan menurut medis sudah ga bisa ditolong lagi. Dirawat di sebuah rumah sakit, dan gue juga ga beritahu tentang kankernya, karena gue ingin dia tetap memiliki semangat untuk menjadi sehat. Dan selama dia sakit, gue berusaha selalu tersenyum padanya, mengajaknya berbincang ringan, bercanda. Hingga di 28 September 2007 meninggal karena kankernya.

Di rumah sakit, banyak orang sakit, pasti! Di sana ada banyak penyakit, dan banyak karakter orang yang berbeda. Gue prihatin pada sesama pendamping pasien yang menangis saat mendampingi pasien, dan sedih saat menemui pasien yang terus menangis berputus asa karena penyakitnya. Gue berusaha membangkitkan semangat mereka. Pada pendamping, gue berusaha menularkan pada mereka pikiran bahwa pendamping harus tersenyum! Jangan mendampingi sambil menangisi pasien. Tarik pasien ke dalam aura sehat, dengan cara mengobrol ringan, mengajak bercanda, dan usahakan ga sibuk membahas penyakit yang diderita oleh pasien. Pasien sudah cukup merasakan kesakitan, jangan ditambah lagi dengan obrolan menyakitkan. Jangan dikira gue ga sedih waktu suami sakit, waktu Bap sakit. Sedih banget! Saat suami sakit, Ngka, Esa, Pink, masih kecil-kecil. Dan sewaktu Bap sakit, Mama lumpuh di rumah, Pink autoimun dan diserang imunnya tanpa henti, sedangkan Bap harus menjalani segala macam perawatan. Sedih banget, tapi gue sadar, gue yang sehat, harus mengajak yang sakit untuk tetap bersemangat seperti saat sehat, setidaknya Bap ga meninggalkan senyum. Jangan dikira suami, juga Bap ga marah-marah sewaktu merasakan sakit, juga jangan dikira suami gue dulu, dan Bap tampil senyum, tertawa setiap kali. Disemprot makian saat suami, dan saat Bap sakit, itu biasa banget untuk gue, tapi gue selalu tertawa, dan mengajaknya bercanda. Suami gue dulu ga berhasil gue ajak tersenyum, tapi gue ga hilang semangat mengajaknya tersenyum. Gue ingin dia tenang, hingga bisa mengalahkan keputus asaan karena rasa sakit yang diderita. Dan Bap? Bap terkadang bisa diajak bincang ringan. Setelah itu marah lagi, ya biar aja, gue tersenyum aja, menunjukkan bahwa gue sayang Bap. Setidaknya gue berusaha keras agar Bap keluar dari area 'sakit hati' karena sakit fisik yang dideritanya. Pada Bap juga selalu gue beri semangat untuk menjalani seluruh pengobatan, dan berkata,"Sebelumnya sehat, sehabis sakit pun pasti sehat! Jangan mau kalah sama penyakit. Ubah sakit jadi sehat. Sakit kayak gini ada obatnya, jadi ga sah khawatir. Pink autoimun, dan ga ada obatnya, autoimun itu seumur hidup dibawa Pink, tapi lihat dia, ga pernah ribut khawatir penyakit, padahal usianya tuh usia lincah". Ini juga gue katakan pada pasien-pasien yang kebetulan gue kenal, mengobrol.

Sakit memang ga enak, siapa pun pasti merasakan ga enak kalau sakit, juga ga enak banget kalau anggota keluarga sakit, orang yang kita kasihi menderita sakit. Justru karena rasa yang ga enak itulah, kita yang ga sakit bertugas menarik mereka untuk tetap bersemangat, berpikir 'enak' di dalam ketidakenakan yang mereka rasakan. Menarik yang sakit ke dalam semangat sehat, menjadi tugas yang indah...


Salam senyum,
error






Saturday, 3 January 2015

error,"Catatan Akhir Tahun Pink"

Beberapa waktu lalu, Pink ikut ke kantor gue, dan karena kondisinya masih harus menggunakan kursi roda, kami naik taxi. Setelah itu Pink selalu meminta ikut gue ke kantor, padahal macetnya makin luar biasa, dan gue ga terbayang untuk biaya taxinya. Jadi gue selalu menghiburnya dengan ucapan,"Nanti kalau ga macet, dan kondisimu bagus, pasti diajak ke kantor". Plis deh, gue mengendarai motor ke kantor. Pasti amat melelahkan untuk Pink dengan kondisi yang terkadang lemah.

30 Desember 2014
Ternyata jalanan luar biasa sepi! Di perjalanan gue merasa menyesal ga mengajak Pink. Akhirnya, sewaktu tiba di rumah,"Nduk, besok ikut ke kantor". Pink bersorak, dan matanya bercahaya. Gue bahagia banget melihatnya.

31 Desember 2014
Mendung, tapi gue sudah berjanji untuk mengajak Pink. Semoga ga hujan.

Setelah bersiap-siap, kami pun berangkat. Seperti biasa kalau bepergian, gue selalu berpesan pada pink,"Nduk, kalau lemas, kasih tahu Mama, ya". Pink mengiyakan.

Di perjalanan, mulai turun gerimis halus. Pink tetap bertahan di boncengan motor. Jalanan ternyata juga ga sepi seperti kemarin, walau juga ga macet seperti biasa. Dan akhirnya yihaaaa, sampai juga di kantor! Pink terlihat senang banget!

Pink menikmati teh manis hangat. Gue asyik membuka email kantor.

"Mau makan apa, Nduk? Hari ini catering udah mulai libur, jajdi kita harus pergi cari makan sendiri".

Pink,"Terserah".

"Gue,"Ga ada menu terserah. Hayo mau makan apa?".

Seorang sahabat menimpali,"Ada mie ayam, baso, nasi padang, soto, bubur ayam, fried chicken, bubur ayam, nasi timbel, tongseng, ayam kalasan, dan masih banyak lagi, loh!".

Pink terlihat bingung, dan akhirnya menjawab,"Mie ayam aja deh!".

Gue dan Pink pun menuruni tangga menuju lantai 1, dan bergegas menuju tempat mie ayam. Ga naik motor, mau naik mikrolet aja, menghindari terkena hujan.

Di bawah sebelum kami keluar kantor, bertemu seorang sahabat yang lain,"Neng, eh ikut, ya? Sehat sekarang, neng?", sambil mencium pipi Pink, dan dijawab dengan senyum oleh Pink.

"Lo mau kemana, Nit?", tanyanya.

"Makan. Nih Pink mintanya mie ayam. Mau ikut, lo?".

"Ikut deh gue. Eh, kenapa jalan? Ga naik motor?", tanyanya lagi.

"Biar ga kehujanan, kalau nanti hujan. Mau naikmikrolet aja", jawabku.

"Naik motor bertiga aja, ya. Nanti kalau pas pulangnya hujan, lo sama Pink, naik mikrolet, ok?".

Akhirnya bertiga naik motor. Bukan cabe-cabean, tapi ini sih cabe beneran! Hahaha, emak-emak, gitu loh! Cuma Pink yang kecil.

Mie ayam tutup, lalu melanjutkan perjalanan menuju warung nasi timbel. Pink makan nasi bakar isi ati ampela plus ayam bakar pedas dan tahu tempe, gue makan nasi timbel plus ayam bakar, tahu tempe, sahabat gue makan nasi timbel isi teri. Enak! Dan terasa amat enak banget sewaktu melihat Pink lahap makan, lalu habis tandas!

Sewaktu akan kembali ke kantor, Pink berkata,"Ma, mau jalan kaki aja ke kantor Mama". Hahaha, gue bahagia, Pink merasa bagus kondisi kesehatannya. Tapi ya tentu saja gue ga mengijinkannya berjalan kaki.

Di kantor, kembali mengerjakan tugas yang ada, sambil ngobrol dengan bos gue, dan bercanda dengan Pink. Setengah hari kerja, asyik banget! Tapi hujan ga berhenti juga, dan memaksa untuk tetap berada di kantor, berdua Pink.

Jam dinding terus bergerak waktunya, dan o ow, sudah 17.30! Gerimis masih menjadi tirai dari langit. Teringat Ngka dan Esa di rumah, akhirnya...,"Yuk pulang, Nduk, kamu pakai jas hujannya". Menerobos hujan berdua Pink di atas motor, adalah hal yang ga bisa diungkap dengan kata-kata!

"Mama, mama basah kuyup", ujar Pink sambil mengeratkan pelukannya ke gue.

"Mama, mama ntar sakit kalau kehujanan begini", kata Pink.

Gue ga merasa kedinginan, ga merasa sakit, karena Pink ga kehujanan, Pink aman di dalam jas hujan. Hangat rasanya ada dalam pelukan Pink, dan bahagia banget karena mengetahui Pink menikmati dengan ceria hari ini!

Ini catatan tentang Pink di akhir 2014, semoga di 2015 kondisi Pink menjadi semakin membaik, amin...

Salam senyum,
error

















error,"Berniat Bunuh Diri?"

Banyak orang berniat bunuh diri. Haaah? Apa iya sih banyak yang berniat bunuh diri? Iya, banyak yang berniat bunuh diri, tapi ga menyadari kalau itu sedang berniat bunuh diri. Bingung ya, apa maksud dari berniat bunuh diri tapi ga menyadari berniat bunuh diri? Yuk deh, bahas dulu tentang si bunuh diri ini. 

Apa sih bunuh diri itu? Bunuh diri mempunyai pengertian membunuh diri sendiri, yaitu tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Tujuan bunuh diri yaitu kematiannya sendiri. Bunuh diri biasanya dikaitkan dengan keputus asaan seseorang, yang ada hubungannya dengan gangguan jiwa, seperti depresi, gangguan bipolar, schizophrenia, ketergantungan alkohol, penyalahgunaan obat. Masalah keuangan, hubungan interpersonal dengan orang lain, juga bisa menjadi penyebab. Ih seram! Biasanya kita langsung bereaksi seperti itu jika dihadapkan pada kasus bunuh diri. Padahal sebenarnya kita juga suka loh melakukan tindakan bunuh diri. Whaaat??? 

Sebenarnya gue menulis tentang bunuh diri ini karena  percakapan antara gue dan Pink di pagi hari kemarin. Percakapan dengan tema sungguh di luar dugaan gue, tentang bunuh diri. 

"Mama, banyak ga sih orang di dunia ini yang bunuh diri? Banyak atau ga?", tanya Pink ke gue.

"Banyak. Dan  lebih banyak lagi mereka yang ga menyadari bahwa sedang membunuh dirinya perlahan", jawab gue.

"Hah? Ga tahu kalo lagi bunuh diri?".

"Yup! Orang yang ga berhati-hati berlalu lintas, orang yang ga berhati-hati mengenai makanan, minuman, main petasan, dan masih banyak lagi hal-hal yang sebenarnya adalah bunuh diri, tapi ga disadari", gue menjelaskan pada Pink.

"Jadi bunuh diri itu bukan cuma yang meloncat dari gedung, gantung diri, dan yang begitu-gitu?".

Hnah itu sedikit dari percakapan gue dan Pink tentang bunuh diri. Ini membuat gue tercenung tentang bagaimana menjalani keseharian selama ini. Gue yang suka ngebut naik motor di jalan raya, gue yang sembarangan makan tanpa perduli kandungan makanan bisa menyebabkan sakit, dan banyak lagi hal-hal yang sebenarnya ga bagus, tapi masih aja dilakukan. Iya sih, ga bertujuan bunuh diri, ga bermaksud bunuh diri, tapi bisa menyebabkan kematian. Ini yang gue sebut berniat bunuh diri tanpa menyadari bahwa sedang melakukan tindakan bunuh diri. Ga langsung sampai tujuan kematian, tapi perlahan menuju kematian! Ah, ternyata ini lebih menyeramkan dibanding yang menyadari tentang niat bunuh dirinya! Jadi teringat Bap, bapak gue, yang meninggal di 9 Januari 2014, karena kanker, dan bap adalah mantan perokok. Teringat berita-berita kecelakaan yang terjadi di jalan raya karena ketidakpatuhan akan peraturan lalulintas, teringat... Ah, banyak hal yang membuat gue jadi menyadari bahwa hidup ini bukan cuma sekedar hidup...

Gue rasa adalah bijak untuk menyadari tentang hidup yang berharga. Hidup yang merupakan anugerah terindah dari GUSTI. Bukan sok bijak, tapi memang tiba-tiba jadi seperti disentak karena percakapan tentang bunuh diri dengan Pink. Gue berterimakasih pada Pink, yang menyadarkan gue tentang hidup. 

Dan di luar, masih terdengar anak-anak tetangga bermain petasan...

Salam senyum,
error



Thursday, 1 January 2015

error,"Masa Lalu = Bahagia!"

Semua orang pasti punya masa lalu, ga mungkin ga punya masa lalu. Hari ini akan menjadi masa lalu kita. Ya ga sih? Jadi mana mungkin ga punya masa lalu. Masa lalu punya cerita yang bisa jadi disimpan erat karena keindahannya, atau bisa jadi disimpan karena termasuk pahit, sakit, atau disimpan karena merasa ga pantas diketahui orang lain.

Gue juga punya masa lalu. Masa lalu gue lengkap dengan segala cerita. Lengkap dengan tawa dan airmata juga rasa sakit. Gue cuma berusaha menyikapi dengan senyum, untuk semua kejadian yang ada. Nangis? Sedih? Hedeeeh, penuh dengan airmata sedih kalau cuma mau menghitung kesedihan yang dirasa. Tapi ah, ga, gue ga mau menghitung rasa sakit yang ada di hati, ga mau menyakiti diri sendiri. Ga fair kalo cuma menghitung sedih! Hidup kan ga mungkin cuma berisi sedih, pasti ada celah bahagianya. Eh, malah semua kejadian hidup tuh isinya cuma bahagia!

What? Bahagia? Bukannya barusan aja nulis tentang punya banyak kesedihan? Yup, sedih, kalu dihitung sedihnya aja, pastinya jadi banyak sedih. Tapi kan gue ga mau menghitung kesedihan. Gue mau memandang sisi bahagia dari semua kejadian yang mungkin aja sedih. Gue percaya, dalam semua kejadian, pasti ada sisi baiknya, pasti itu kebahagiaan dari GUSTI untuk kita. Ga akanlah GUSTI memberi hal buruk. GUSTI hanya memberi yang terbaik, hanya yang terbaik. Cuma kadang kita merasa hal terbaik yang GUSTI beri itu salah, karena ga sesuai dengan apa yang diinginkan.

Plis deh ah, siapa yang ga sedih suami sakit, divonis kanker, ga bisa ditolong, meninggal, lalu menjadi single mom dengan 3 orang anak, sedangkan saat itu gue seorang ibu rumah tangga murni. Ya sedih kalau mikir sedih. Siapa pula yang ga sedih mama tercinta tetiba sakit, stroke, padahal baru saja pulang bepergian ke luar kota, lalu lumpuh, dan sampai saat ini berarti sudah hampir 3 tahun mama lumpuh. Siapa yang ga sedih bapak sakit, lalu divonis kanker, operasi hingga 4 kali, kemoterapi, terapi sinar, dan segala terapi dijalani, dan akhirnya meninggal di rumah sakit, sewaktu cuci darah. Siapa yang sedih mengetahui anak tercinta sakit, lalu diketahui autoimun, dan mengalami banyak jenis serangan imun di organ-organ tubuhnya, dan saat ini sudah berlangsung bertahun. Siapa yang ga sedih? Gue ya sedih, tapi gue berusaha melihat dari sisi bahagia GUSTI. 


Ingin punya masa lalu yang bahagia? Hadapi, jalani, nikmati apa yang GUSTI beri. Sikapi dengan senyum, pandang dari sisi bahagia menurut GUSTI. Dengan tetap berusaha selalu tersenyum, dan mengucap,"Terimakasih GUSTI", serta berusaha selalu lapang hati, rasanya masa lalu kita memang hanya diisi dengan kebahagiaan...

Salam senyum,
error

error,"Be Yourself = Egois? Oh No..!"

Sering banget mendengar kata-kata "Be Yourself'. Ini bagus banget, jadi diri sendiri, bukan kata-kata basi, atau kata-kata negatif. Itu positif banget. Memang paling indah ya jadi diri sendiri. Pasti ga enak berpura-pura jadi orang lain! Pasti lama-lama jadi lelah banget gegara ga jadi diri sendiri, gegara jadi si ini atau si itu. Yup, yup, paling indah memang jadi diri sendiri! Permasalahannya adalah, diri sendiri yang bagaimana? Jangan jadi salah mengimplementasikan alih-alih jadi diri sendiri, malah jadi egois. Lah kok gitu? Jadi diri sendiri kok dibilang egois? Suka ga mendengar orang berkata,"Gue tuh ya kayak gini. Ga suka gue kayak gini, ya udah! Gue ya gue, gue jadi diri gue sendiri, gue kan bukan dia atau lo". Iya sih, memang jadi diri sendiri, ga jadi orang lain. Iya sih, gue ya gue, bukan lo atau dia, atau siapa pun. Iya memang benar sih, tapi 'gue' yang gimana?

Bersikap, berucap, bertindak, yang 'ini kan gue', tanpa memperhatikan bagaimana imbasnya pada orang lain, tentu saja menjengkelkan, dan tentu saja membuat orang lain jadi 'gerah'. Pernah ada teman yang pada akhirnya dijauhi, bukan dimusuhi sih, tapi dijauhi, karena seenaknya sendiri dalam menyikapi hal-hal yang berhubungan dengan orang lain. Jadi diri sendiri adalah hal yang indah, tapi sekali lagi, bukan menjadi pribadi yang egois. Contohnya, sewaktu di tempat kerja, dia ga mau bekerjasama dengan yang lain, ga mau membantu sama sekali, padahal saat dia kesulitan, teman yang lain membantunya tanpa diminta menolong. Berbicara seenaknya sendiri, ga perduli orang lain sakit hati atau ga, dengan ucapannya, kalimatnya ga diayak, kalo kata anak gue. teman yang dijauhi oleh teman-teman yang lain, konsultasi ke gue, bersungut-sungut, dan diimbuhi kalimat,"Ya udah, terserah mau seneng atau ga sama gue, ya inilah gue! Ga suka, ya udah. Gue ga butuh mereka suka atau ga. Gue ya gue, ya inilah gue! Menjauhi gue? Ya sana aja, jauhi gue. Gue ga rugi!". Ufh, ini sebuah contoh yang salah dalam menyikapi 'jadi diri sendiri'. Lah yang benar tuh gimana dooong?

Rasanya kita semua udah pada tahu secara jelas bahwa setiap manusia itu memang berbeda, unik. Ga da manusia yang sama. Yang kembar identik pun berbeda kok, ga sama. Eiits, ga harus sama, kok. Ga harus jadi sama dengan yang lain. Wah kalau semua manusia sama, pasti membingungkan! Si ini dan si itu, si ono, si ini, dan siapa pun, sama semua! Ga enak kan? Nah, karena kita tahu bahwa manusia diciptakan ga sama, ada baiknya kita juga mau dan bisa mengerti tentang orang lain. Justru karena kita berbeda, kita harus bisa mengerti tentang perbedaan. Hlaaah, hubungannya apa dengan jadi diri sendiriii? Ya erat hubungannya, agar kita bisa menjadi diri sendiri yang ga egois, menjadi diri sendiri yang juga mau mengerti tentang orang lain, menjadi diri sendiri yang berempati tentang orang lain. Ga perlu menjadi orang lain kok, ga perlu menjadi si ini, si itu, si dia, atau siapa pun! Cukup menjadi diri sendiri yang selalu berusaha memperbaiki diri. Bukan jadi diri sendiri yang selalu bertahan dengan,"Inilah gue! Gue ya begini ini!". Itu bukan menjadi diri sendiri yang positif, bukan itu yang diharap oleh si kata-kata "Be Yourself". Setiap hari belajar dan berusaha memperbaiki diri, menjadi pribadi yang lebih baik setiap detiknya. Itu dia ,"Be Yourself". 


Tetap menjadi diri sendiri, tanpa jadi pribadi egois. Be Youself. Yuuuk!


Salam senyum,
error