Thursday, 30 April 2015

Shopious Belanja Online Yang Membahagiakan

"Sandal siapa itu di teras?" tanya gue pada Esa, anak gue yang nomor 2. Dia tersenyum, lalu tertawa. Gue jadi tambah penasaran, sandal karet siapa yang tergeletak manis itu. Karena ga ada yang memiliki sandal seperti itu di rumah. Akhirnya Esa menjawab,"Sandal teman Ngka, Ma.". Weeh, Ngka meminjam sandal temannya? Kemudian Esa melanjutkan,"Sepatu Ngka rusak waktu dia ke kampus, Ma. Temannya meminjamkan sandal." Esa pun menunjukkan sepatu Ngka yang rusak berat.

Di kepala gue terbayang harus pergi mengantar Ngka membeli sepatu. Haduh, mana sempat? Sebagai single mom yang bekerja, dan terkadang penuh kegiatan (cuit, cuit!), rasanya ga ada waktu deh untuk berkeliling mall cari sepatu yang cocok untuk Ngka. Lalu tuing! Teringatlah pada Shopious, website aggregator toko online instagram. Di sana kita bisa membeli barang-barang terbaik, dan terbaru dari seluruh toko online terpercaya yang ada di Indonesia! Banyak sih toko online saat ini, tapi karena banyak yang cerita kalau toko online ‘x’ barangnya ga sesuai dengan yang ditampilkan, toko online ‘z’ mahal-mahal, dan toko online ‘w’, wah itu tipu-tipu! Wajar dong kalau bikin gue jadi mikir untuk belanja online. Tapi setelah gue lihat, cek sana-sini tentang Shopious, yang ternyata malah sudah pernah diliput salah satu stasiun tv, gue mantap shopping di Shopious! Hari gini masih ribet bin repot untuk shopping? Jalan ke mall sana, ke mall sini, dan belum tentu ada hasil bawa jinjing-jinjing tas isi barang yang diinginkan. Kalau pun ada, kaki nih kaki, capenyaaa..! Belum lagi harga yang alamak mahalnya! Duh, duh, ga deh, lebih baik energi disimpan untuk hal yang lain.

"Ngkaa!" gue memanggil Ngka. Ngka pun menghampiri gue, lalu gue katakan,"Yuk kita beli sepatu untuk kamu!" Ngka melongo. Whaaat?? Emaknya yang paling malas ke mall, bisa-bisanya ngajak beli sepatu! Ga mungkiiin..! Hihihi, lalu gue buka website yang keren itu! Tralala trilili...!! Sibuk-sibuklah gue dan Ngka memilih sepatu yang cocok untuknya. Bingung memilih, karena modelnya keren-keren bingiiits! Esa, dan Pink, dua anakku itu ikut melihat-lihat koleksi barang yang ada di sana. Gue dan Pink, melihat-lihat koleksi fashion wanita, mulai dari sepatu, baju, celana, dress, batik, produk kecantikan, aksesoris, tas. Esa bersama Ngka melihat-lihat koleksi sepatu, gadget, aksesoris, celana, pakaian. Lalu kami bersama-sama asyik melihat ke koleksi rumah dan hadiah. Duh, duh, keren semua!

Hasilnya? Yahuuu, bukan cuma Ngka yang membeli sepatu! Esa, Pink, dan *uhk gue pun membeli barang di Shopious! Siapa juga yang ga mupeng lihat koleksi keren dengan harga terjangkau? Mupenglaaah... Ngka membeli sepatu, Esa membeli tas ransel untuk sekolah, Pink membeli baju, juga aksesoris. Gue? Hihi, inginnya sih membeli semuaaaa...! Hahaha, tapi untuk kali ini cukuplah membeli baju, dan sepatu untuk gue. Belanja yang mudah, murah, dan ga murahan!

Pengalaman itu gue share ke bos gue di kantor. Olala, ternyata bos gue juga jadi berminat shopping setelah melihat koleksi keren, harga oke. Dan seharian itu, bos gue bareng gue sibuk berkomentar tentang barang ini dan itu. Ruangan kita kunci. Off, sedang meeting! Haha, meeting shopping Shopious! Dan karena gue yang memberitahu tentang Shopious, gue pun mendapat hadiah dari bos gue, berupa..,"Mbak mau apa? Pilih aja. Nanti saya yang bayar." Tralala trilili..! Gegara Shopious, bos gue jadi semakin baik hati... Gue jadi semakin berbahagia hari ini.

Salam,
Nitaninit Kasapink, ibu yang berbahagia karena Shopious


Thursday, 23 April 2015

Tidak Ada Hal Yang Sia-Sia

Gue pernah cerita tentang anak tetangga yang sering dapat kekerasan dari ibunya, kan? Dan gue berusaha untuk menarik anak tersebut ke rumah, memberi pendampingan belajar menulis, mewarnai, dan juga gue mendongeng untuknya, dongeng yang berisi ajakan moral menjadi orang yang murah senyum, ceria, dan ga mudah marah. Sang ibu kerap cemberut ke gue, berteriak-teriak ke arah rumah gue, tapi gue sih cuek aja, gue rasa ga perlu membalas dengan perbuatan yang sama. Gue punya keinginan agar anak tetangga gue memiliki rasa kasih sayang, ga meniru ibunya, tapi juga ga marah, apalagi memendam dendam pada sang ibu. Haduh, seram kalau terjadi hal seperti itu! Gue hanya ingin memutus rantai kekerasan yang didapat olehnya. Jangan sampai terjadi karena dia mendapat kekerasan sewaktu kecil, lalu saat dewasa dan memiliki anak, dia pun melakukan hal yang sama seperti sang ibu padanya. Ga cuma gue, 3 anak gue pun ikut serta dalam pendampingan ini.

Hari demi hari dilalui, bulan demi bulan pun lewatlah sudah (glek!), belum ada perubahan juga. Berbulan-bulan gue mendengar teriakan, jerit tangis sang anak memohon agar ibunya stop memukulinya. Itu benar-benar menyedihkan! Banyak teman menganjurkan agar gue melaporkan ke kantor polisi tentang kekerasan ini. Ya, gue pada awalnya setuju, tapi tentunya dengan bukti akurat. Gue ingin menyelamatkannya dari kekerasan sang ibu. Setiap kali mendengar tangisan, jeritannya, gue sedih banget! Tekad melaporkan pada yang berwenang. Tapi lalu gue pikir, bijaksanakah tindakan gue kalau gue melaporkan hal itu? Gue jadi bimbang. Jika gue laporkan kekerasan, otomatis ibu dan anak akan dipisahkan. Nah kalau dipisah, bagaimana sang ibu bisa mengenal kasih sayang, penerapan kasih pada anak? Iya kalau dia menyesali sikap dan perlakuan kasarnya pada si anak, kalau malah jadi semakin marah? Dan bagaimana si anak jika dipisah dari sang ibu? Argh, bimbang semakin menjadi.

Setelah melalui bimbang dan bimbaaaaaang, gue memutuskan untuk mengajarkan, mengenalkan kasih pada sang anak, agar dia mengenal kasih sayang dengan penerapan sikap serta tindakan yang baik. Gue terus menerus mendampinginya. Nakalkah dia? Ga! Sama seperti anak-anak yang lain, penuh rasa ingin tahu, dan pandai mengopi sikap dan perbuatan yang dia lihat, dan yang dia terima. "Uh, sialan!", itu salah satu kata yang suka diucapnya, dan masih banyak lagi kata umpatan yang sebenarnya ga perlu diucap. "Hloh, hayo, itu namanya kasar. Jangan mau jadi orang kasar. Kamu pintar, dan kamu lembut hati," setiap kali gue mengingatkan. Untuk anak usia 4 tahun, gue rasa dia bisa menerimanya dengan baik, karena lama kelamaan kata-kata umpatan ga terdengar lagi diucap olehnya. Lega banget rasanya saat dia ada di rumah, ga terdengar umpatan-umpatan loncat dari bibir mungilnya. Sedangkan jeritan tangisnya sih tetap terdengar dari rumah gue saat dia ada di rumahnya, karena rumah kami berhimpitan.

Seperti biasanya, dia datang ke rumah sejak pagi-pagi sekali. Sudah mandi, dan sudah sarapan. Kalau dia datang belum mandi, biasanya gue ingatkan untruk mandi dulu, begitu juga kalau dia belum sarapan. Gue ingin dia terbiasa mandi pagi, dan sarapan sebelum pergi. Main, mewarnai, belajar menulis, dan bercanda, penuhi hari bersamanya. Hingga ssiang hari, dia pun tertidur di rumah gue. Ibunya berteriak-teriak, lalu gue jawab bahwa anaknya sedang tidur. Kakaknya lalu datang ke rumah menjemput. Tapi karena memang sedang pulas tidur, gue gendong dia ke rumahnya. Ibunya terlihat kaget. Bincang-bincang pun terjadi. Dia bercerita bagaimana sulitnya anak itu diatur. Gue hanya mendengarkan, dan sedikit bercerita bagaimana anaknya di rumah kami. Gue perlihatkan foto-foto anaknya di hp gue. Sang ibu terlihat makin kaget. "Saya heran, kenapa kok dia malah lebih nurut sama orang lain dibanding sama saya, dan sama bapaknya," ujar sang ibu. Gue tersenyum, dan bercerita bagaimana anaknya bersikap di rumah kami, dan bagaimana kami memperlakukan anaknya. Gue ga mau terlihat menggurui, ga juga mau menjudge bahwa dia ga mencintai anaknya. Gue tahu, dia mencintai anaknya, hanya penyikapan dalam mengasuh saja yang kurang lembut hati. Selebihnya tentang cinta seorang ibu terhadap anaknya, gue percaya itu ada.

Lalu keesokan harinya gue ga mendengar jeritan tangis dan ga ada teriakan kesakitan.Melegakan, membahagiakan! Begitu juga di hari selanjutnya.Ini menyadarkan gue, bahwa ga ada hal yang sia-sia! Selama berkeyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah untuk kebaikan, dan memang dilakukan dengan niat baik, ada hasil yang didapat. Gue hanya ingin berbagi kasih, membagi pengalaman tentang kasih, berusaha agar mereka mengenal dan menyikapi kasih dengan baik. Hasilnya gue serahkan pada GUSTI, karena hanya GUSTI yang sungguh berkuasa atas hidup dalam kehidupan.

Salam,
Nitaninit Kasapink, seorang ibu sekaligus sahabat dari Ngka, Esa, Pink