Wednesday, 13 January 2016

Perempuan Itu Ibu

Ibu bekerja dan ibu rumah tangga, menurut gue ya sama aja tetap seorang ibu. Lah gue mesti ngomong apa, kan gue seorang ibu bekerja, tapi tetap menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga. Juga menjadi kepala keluarga. Hey, gue mesti ngomong apa? Apakah  mesti berteriak bahwa gue tuh seorang ibu, walau berada di luar rumah untuk menafkahi keluarga tuh dari pagi sampai sore, dan tiba di rumah malam hari? Mesti berteriak dan berusaha didengar oleh mereka yang mempermasalahkan tentang bekerja dan ga bekerja?

Gue single mom sejak 8 tahun yang lalu, dan otomatis jadi kepala keluarga, penafkah keluarga, sekaligus mengurus anak dan rumah. Melakukan hal maksimal untuk 3 anak-anak, keluarga. Dan hey, gue seorang ibu.

Gue adalah ibu, yang bekerja karena menjadi pencari nafkah, dan seorang ibu yang di rumah, menyelesaikan urusan memasak, mencuci, beberes, memeriksa tugas sekolah anak-anak, mendampingi mereka tidur, mendongeng, mendengarkan cerita mereka tentang hari yang dijalani. Sambil ga lepas mata dari laptop, dan hp, urusan jual beli online.

Gue seorang ibu, yang seiring perjalanan waktu, membagi tugas-tugas di rumah dengan Ngka, Esa, Pink. Ga lagi sesibuk dulu. Tapi tetap seorang ibu.

Gue seorang ibu, yang sejak 8 tahun lalu, 5 hari dalam seminggu, pagi meninggalkan rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terkadang dalm seminggu penuh pergi karena urusan nafkah, urusan perut. Tapi gue tetap seorang ibu.

Gue pengambil keputusan di rumah, setelah didiskusikan dengan Ngka, Esa, Pink. Gue yang mengambil raport. Dulu malah gue yang mengecat rumah. Tapi gue ga berubah di mata anak-anak, tetap seorang ibu.

Bekerja, atau ada di rumah, menjadi istri, atau single mom, gue tetap seorang ibu.

Jadi menurut gue, yang ga bisa disebut seorang ibu tuh ya seorang bapak.

Ah sudahlah, hidup harus diisi, bukan cuma diomong. Gue disebut ibu, atau bukan ibu, ya biar sajalah. Asal patut diingat, sejak dulu jenis kelamin gue tetap perempuan, dan cuma perempuan yang bisa tetap menjadi seorang ibu.


Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink







Monday, 4 January 2016

Preman Pala Bunder

Tiba-tiba Cimut melesat berlari ke dalam rumah, sampai terpeleset! Disusul Cilut yang juga ngebut berlari masuk ke dalam rumah! Telinga mereka ga berdiri tegak, tapi merunduk ke arah belakang, yang artinya siaga. Mata Cimut dan Cilut pun tertuju ke arah luar. Beberapa waktu ga bergerak. Suasana mencekam. Lalu perlahan Cilut berjalan mengendap menuju jendela. Duduk di jendela, sambil tetap dalam kondisi siaga. Sedangkan Cimut ga beranjak dari tempatnya duduk.

Ada apa sih sebenarnya? Ngka, Esa, Pink, dan gue, jelas penasaran! Di benak gue langsung aja bayangan negatif khas emak pelindung kucing,"Eh, ada orang yang ngegangguin ya? Siapa, siapa?" Pink bergegas keluar.

"Eeeeh, bandel ya!"

"Siapa, Pink?" Tanya Esa sambil ikut ke teras rumah.

"Itu tuh!"

"Eh, gede banget!"

"Apaan sih?" Ngka dengan rasa ingin tahunya akhirnya keluar juga.

Tiga anak masuk dengan wajah serius. Gue ikutan serius, dong. Masa cengar-cengir?

"Tahu ga?" Tanya Ngka.

"Ga," jawab gue dengan wajah seserius mungkin.

"Yaelah, jawabannye!"

"Lah apa?"

"Jangan jawab dulu, napah." Ngka serius sambil nyengir.

"Iya, ga njawab."

"Itu tuh, tahu kan si pala bunder?"

Gue diam.

"Mamaa, woi! Jawab, napah!"

"Katanya disuruh diam, ga boleh jawab."

Wajah Ngka, Esa, Pink, terlihat garang di mata gue! Panik, panik, tolong, tolong, emak akan dibully!

"Iyaaaah!"

"Tahu ga?"

"Yup!"

"Itu dia yang bikin Cimut, Cilut ketakutan sampai kabur gituh! Gih lihat tuh! Tadi dia nongkrong di situ!" Ngka bersuara penuh geregetan.

Gue perlahan menuju teras.

"Aaargh, emak kitaaaa!" Pink berteriak.

Gue cuek aja. Sibuk celingak celinguk cari si tukang ribut!

"Ga ada! Sumpe, ga ada!" Aku berkata pada Ngka, Esa, Pink.

"Ya udah pergi, Ma. Kelamaan sih jadi orang." Ujar Esa.

"Kegendutan..."

"Siapa tuh yang ngomong? Gue dengar dari siniiii" Gue melotot.

Cekikikan terdengar dari dalam ruang tamu. Grrrh, jujur banget anak gue!

Di dalam, Cimut dan Cilut masih aja dalam kondisi siaga. Pink menggendong, mengelus Cimut. Cilut tetap di jendela. Rahasia nih ya, Pink tuh memang pilih kasih! Dia lebih sayang ke Cimut dibanding ke Cilut. Bayangkan kalau Cilut cemburu, gimana coba? Untungnya Cilut ga cemburuan. Dia nyantai tuh melihat Cimut dalam gendongan Pink. Kalau cemburu, wah bisa ribut nih rumah. Pasti ramai suara meang meong protesnya Cilut ke Pink! Dan ini belum pernah terjadi. Cilut, sabar ya cin...

Akhirnya keadaan tenang kembali. Santai pun dilanjut. Ga ada lagi kehebohan karena premanisme kucing.

Esok harinya, saat kami sedang menikmati suasana sore yang damai di ruang tamu depan sawah, terdengar,"Graaauuuu, Graaauuu, Grrrh!" Lalu Cimut dan Cilut terbirit-birit masuk ke dalam rumah! Ga tanggung-tanggung, mereka ke ujung paling belakang rumah, dapur! Mojok di sudut, dengan bulu berdiri semua! Gue yang melihat kondisi parah, lari ke depan!

"Woi, beraninya sama Cimut, Cilut! Sini sama gue, emaknye!"

Cekikikan terdengar dari ruang tamu.

"Yaelaaah, si Emak! Kapan beranak kucing?" Esa tertawa, disusul tawa Ngka, dan Pink.

Gue cuma nyengir, tanpa suara.

"Ga ada siapa-siapa tuh. Takut sama Mama."

"Ya iyalaaah, secara guwedeeee, gituh!" Pink menjawab, yang disambut tawa 2 kroninya!

Clear, suasana kembali tenang.

Malam hari, kembali terdengar lagi suara,"Graaauuu, graaauuu, grrrrh! Graaauuu!" Esa tergesa ke luar. Dilihatnya Cimut sedang mendekam di depan pintu, sambil memandang ke arah pagar yang kosong. Cimut masuk, lalu tidur di pangkuan Pink. Tapi suara grauu, grauu, grrh, masih ada!

"Mamaaa, Ma, sini, Ma! Suara apaan tuh? Ga ada siapa-siapa, tapi suaranya masih ada nih!" Esa berteriak panik.

"Mana, mana?"

"Itu di bawah rak sepatu!"

Gue dorong rak sepatu dengan kekuatan super yang gue punya! Eh, enteng sih, kan rak sepatunya cuma gitu doang.

"Wuaaaa! Ciluut! Sini sama Mama!" Refleks menggendong Cilut. Ugh, memangnya cuma Cimut aja yang pantas digendong? Cilut juga! Eh, kok malah emosi?

"Mama! Tuh dia, Ma!" Esa berteriak.

Melotot memandang ke depan, ga terlihat apa-apa. Malam, gelap, ditambah mata minus, plus, silindris, ya benar-benar cuma gelap. Oh Gusti, saya butuh kacamata! Halah, malah oot!

"Sini sama Mama, Lut! Siapa berani jahatin kamu?"

Ternyata di sana di depan sawah, sudah menunggu seekor preman! Ya, seekor. Lah wong memang bukan manusia, kok. Si pala bunder, kucing liar, badan besar, berkepala bundar. karenanya kami menyebutnya, pala bunder.

"Oh, elo ya, yang bikin Cimut, Cilut, ketakutan? Sinih!"

Eh, gue dicuekkin! Heran juga, masa sih ga takut? Padahal preman terminal aja ngeri lihat gue dari jauh!

Cilut mulai rileks di dalam pelukan emak terkasih. Hihi, terasa banget gue jadi pahlawan tanpa topeng.

Malam itu dilalui dengan mimpi-mimpi menjadi super hero! Eh, ga deng, ga gitu. Ga mau jadi super hero cewek, bajunya seksi banget! Wonder woman, bra nya kelihatan gitu. Cat woman, bajunya pas benar di badan. Lah tubuh seksi ini, hmm, seksi konsumsi maksudnya, bisa jadi incaran paparazzi, dan incaran pil pelangsing. Jadi, malam itu mimpi tentang apa ya? Tiiit! Sensor.

Jam 5 pagi, Cilut meminta dibukakan pintu. Baru saja keluar, dia berlari kencang masuk ke rumah! Firasat emak konek, pasti si preman! Tapi malas banget belagak galak, eh cuma dicuekin kayak kemarin!

"Ka, tuh Cilut digangguin lagi!"

Ngka dengan semangat membara, mengambil alih Cilut dari gendongan, lalu keluar. Dibukanya pintu pagar, lalu dikejarnya si preman pala bunder! Alhasil si pala bunder terbirit-birit dikejar manusia keren tapi bau iler baru karena barusan bangun tidur!

"Biarin aja, biar kapok tuh dia nakut-nakutin Cimut dan Cilut!" Ngka tertawa.

Jangan dipikir si pala bunder kapok mengganggu Cimut dan Cilut. Masih saja dia suka mengganggu Cimut dan Cilut sampai terbirit-birit masuk ke dalam rumah! Tapi jangan dikira Ngka kapok mengejar si pala bunder sambil menggendong Cimut atau Cilut. Masih saja Ngka menggendongnya sambil mengejar!

"Biar kapok! Juga biar Cimut, Cilut, berani!"

Tetaaap aja sih Cimut, Cilut, terbirit-birit!

Pala Bunder, pala bunder, berdamai aja, yuk!


Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink (Error)




Sunday, 3 January 2016

STRAWBERRY? CUKUP SEKALI!

Serasa menjadi seorang yang aneh bin norak banget sewaktu gue berkata ga tahu strawberry. Di rumah, Ngka dan Esa, menertawakan gue sampai kenyang! Grrh, strawberry membuat gue geregetan, dan benar-benar ingin tahu seperti apa sih si strawberry itu.

Strawberry yang gue tahu adalah nama buah berwarna merah dengan totol-totol, dan memiliki rasa asam. Dan strawberry juga jadi lambang cewek manis. Tapi strawberry yang ini? Hmm, gue ga tahu! Sampai pada satu ketika gue memiliki sebuah kesempatan emas untuk mengetahui si strawberry yang setiap sebulan sekali dikunjungi Ngka dan Esa.

"Ma, Esa mau ke strawberry, minta uang, dong."

"Mama ikut! Mama anterin, deh."

"Ya udah, ayok sekarang. Ntar keburu ramai."

Dengan semangat juang level tertinggi, gue ngebut bawa motor. Semua cuma gegara strawberry.

"Sebelah mana sih, Sa?"

"Depan, depan."

"Masih jauh?"

"Belok kanan, naaaah, ooop, oooop, tuh sebelah kiri. Oooop! Parkir deh."

Dalam hati gue, oh ini toh si strawberry itu. Dari kaca terlihat kesibukan beberapa orang di dalam sana. Di sana juga ada tulisan kecil,"STRAWBERRY".

"Ini?"

"Iya, udah turun. Ngapain sih bengong di motor?"

Gue turun, dan mulai menilai si strawberry. Jauh dari perkiraan gue. Ga ada tempelan sticker strawberry, atau hiasan-hiasan manis cewek yang berwujud strawberry. Jadi, penampakan strawberry tuh benar-benar bikin gue gubrak. You know what, strawberry tuh nama tempat cukur rambut cowok!

Esa membuka pintu masuk, dan gue merinding tralala! Maaak, bau bangeeet! Ga bohong, itu gegara bau ketiak cowok yang ngegedor hidung! Ada beberapa orang sedang cukur rambut. Anak remaja seusia Esa. Yang menyukurnya, abang-abang pakai kaos yukensi dengan bulu ketiak melambai manja. Terbayang banget tuh basahnya ketiak. Salut mereka termasuk Esa, bisa tahan., sedangkan gue tahan napas.

Jujur, gue bukan cewek yang hobi nyalon. Paling kalau merasa rambut sudah mulai gondrong alias panjang aja. Itu juga dengan catatan kalau ga malas. Terkadang gue malas ke salon. Malas karena bosan duduk menunggu rambut diobrak-abrik, dan malas mengeluarkan uang untuk bayar. Tapi yang jelas, salon cewek kan minimal ga bau keringat dan ketiak.

Tiba giliran Esa, dan dua kursi cukur kosong. Karena menghindari ketiak di depan hidung, gue angkat kursi yang gue duduki. Eh, bukan untuk gue bawa pulang, loh ya! Emang sih, di rumah gue ga punya kursi, tapi bukan berarti gue berniat mengambil kursi di situ. Maksud hati cuma ingin memindahkan untuk menjauh dari godaan bulu ketiak si abang yang melambai dengn manisnya. Tapi, kok berat banget! Dicoba berulang kali, tetap ga bisa! Dosa apa gue pada mereka ini semua? Berusaha, dan terus berusaha. Ga sengaja melihat ke bawah, olalalala ternyata tuh kursi mereka paku ke lantai! Pantas aja ga bisa diangkat! Pasrah duduk menunggu. Di cermin terlihat Esa cengar-cengir.

Ga lama kemudian rambut Esa selesai digarap.

"Bayar, Ma."

Buru-buru gue keluarkan uang, lalu keluar meninggalkan Esa yang sedang menunggu kembalian.

Di parkiran, gue berkata pada Esa,"Kamu aja yang bawa motor, ya?"

"Kenapa?"

"Mama hampir pingsan. Bulu strawberry melambai ke Mama, tadi."

Esa tertawa ngakak. Puas banget kayaknya dia melihat gue, emaknya hampir tepar!

"Sa, cari es campur, ya?"

"Ga langsung pulang?"

"Mama butuh kesegaran yang menyejukkan."

Esa makin ngakak!

Strawberry, cukuplah satu kali gue ke sana. Cukup, cukuup!


Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink (Error)






Saturday, 2 January 2016

Dua Ribu Enam Belas

Dua ribu enam belas, disambut dengan suara petasan, dan meriahnya kembang api. Di depan rumah juga terlihat nyala kembang api yang pecah di langit, dengan warna-warni yang cerah! Ga hanya itu, beberapa tetangga ga mau sepi menyambut si dua ribu enam belas. Dipasangnya speaker di depan sawah, yang ada di depan tempat tinggal kami. Dari lagu dangdut sampai lagu jedag-jedug disetel. Riuh, hingar-bingar, meriah, heboh, entah apa lagi nama yang tepat untuk mengungkapkan bagaimana suasana malam itu. Rumah kecil kami terasa penuh dengan suara-suara akhir tahun.

Cimut dan Cilut, berlari masuk ke dalam rumah, panik! Suara petasan membuat mereka terkaget-kaget! Setiap bunyi DOR!, mereka terlihat kaget. Lalu perlahan mengintip takut-takut, tapi penuh rasa ingin tahu dari jendela. DOR! Kaget lagi. Cimut dan Cilut ga tahu bahwa manusia sedang asyik menyambut sang dua ribu enam belas. Ternyata memang benar ya, kucing ga merayakan hari apa pun. Lempeng aja jalani hari yang ada. Beda banget sama manusia yang heboh.

Tahun-tahun sebelumnya sih gue dan anak-anak nyantai aja mau tahun baru juga. Tapi kemarin tuh pulang kerja, gue dan Ngka mampir ke pasar di Kranji. Maksudnya sih mau bikin cemilan untuk kita berempat. Sambil nonton tv, ngemil-ngemil kan asyik! Lupakan diet yang ga pernah berhasil!

"Mau bikin apa, Ma?" Tanya Ngka.

"Pangsit aja, simpel."

Dan akhirnya beli keribetan untuk pangsit yang asyik! Tenteng sana, sini, lumayan cape juga, apalagi sambil bawa ransel kerja.

"Macet banget, Ma."

Iya, ampun deh macetnya!

"Lapar, Ma."

Eh iya, udah malam, dan belum makan.

"Cari tukang jualan apa gitu, Ka. Makan deh, yuk."

"Kayaknya ga rela tuh ngeluarin duit untuk jajan."

Gue nyengir, tapi Ngka ga tahu. Kan dia yang bawa motor, di depan, sedangkan gue duduk manis imut di belakang sambil memangku para pembela kebenaran, eh, bahan-bahan pangsit.

"Padang, Ma?"

"Jawa."

"Mamaaaa, maksud Ngka, mau makan di rumah makan Padang? Bukan nanya Mama tuh Padang atau bukaaaan!"

"Eh, ga ah. Bosan."

"Kapan kita makan di rumah makan Padang? Kayaknya terakhir tahun lalu pas pindah rumah, deh."

"Semalam."

"Kapan? Kok Ngka ga tahu?"

"Semalam Mama mimpi makan di rumah makan Padang!" Gue berteriak menyetarakan jenjang bising jalanan yang macet.

"Ga tahu ah! Sebodo amat." Ngka mulai ngomel pendek. Iyalah, ga berani dia ngomel panjang, bisa lapar sepanjang jalan, kan emaknya yang pegang uang.

"Ka, tukang soto, minggir."

Akhirnya makanlah kami di situ. Soto ceker Pak Kumis. Ingat ya, soto ceker pak Kumis, bukan soto cekernya pak Kumis!

"Dua, pakai ceker."

Ga terbayang kalau ceker pak Kumis nyemplung di mangkuk soto! Bubar, bubar!

"Bungkus, ya."

Biasa, oleh-oleh untuk Esa dan Pink, yang ada di rumah. Masa emaknya jajan, anaknya ga? Curang kan tuh! Makanya gue selalu mikir dulu kalau mau jajan, karena tetap aja harus berpikir untuk 4 porsi. Eh, kalau Ngka terkadang bisa nambah. Namanya emak-emak yang kadar hitung menghitungnya kadang njelimet, ya gini ini.

"Ma, siapa yang masak pangsit?" Tana Ngka sewaktu perjalanan pulang.

"Ya, kamu."

"Haaaah?"

"Ga usah kaget, ini biasa terjadi." Kalem banget gue menjawab.

Sampai di rumah, sibuk deh menyiapkan alat-alat untuk memasak. Pisau, parut, clurit, pedang, samurai, cangkul, linggis. Eh, ini mau masak atau mau perang antar preman?

Tiba-tiba Ngka berkata,"Ma, Resen ngajak malam tahun baruan. Patungan bakar-bakaran. Bakar apa, gitu, biar ramai."

"Itu ada sandal jepit, bakar ajah."

Ngka mingkem dengan mulut aneh.

"Ngka jawab, lagi masak, gituh."

Gue ga menjawab, sibuk menyincang bawang bombay.

"Katanya, ikutan, Ma." Ngka berkata lagi.

"Ya udah, nih, Mama ikutan nih." Sambil mencabut uang dari dompet.

Nah, jadilah bakar-bakar di depan rumah. Bakar jagung, sambil makan pangsit goreng.




Semua itu di tengah riuh ramainya suara penyambutan si dua ribu enam belas, di antara kekagetan Cimut dan Cilut, dan di dalam ramai canda tawa di rumah.

Semakin ramai suara DOR DOR DOR! Hey, sang lakon datang! Dua ribu enam belas datang! Kembang api makin ramai di luar! Rumah kecil depan sawah tempat kami tinggal, jadi makin heboh! Cimut dan Cilut yang sudah mulai tidur, kaget, berlari ke belakang. 



Selamat Dua Ribu Enam Belas! Menjadi dewasa dalam hadapi dan jalani hidup, bahagia selalu, amin.

Ciuman gue mendarat manis di kening anak-anak tercinta. Cimut dan Cilut, ga gue cium, karena masih panik.

Lalu gue mulai menulis untuk Ngka, Esa, Pink, tiga anak yang mengisi hidup bersama gue. Tiga cinta, tiga kekasih, tiga penyemangat hidup, tiga motivator.

Surat cinta untuk kekasih
Kembang api sudah padam, petasan sudah bisu, bara pemanggang jagung sudah masuk dikemas, piring pun kosong. Apa yang tinggal? Aku, kamu, dia, kita! Selamat menjadi dewasa di tahun yang baru, Ngka, Esa, Pink. Tetap tersenyum, dan tenang menghadapi, menjalani, dan menikmati segala kejadian hidup dengan syukur. Senyum pada GUSTI, DIA Pemilik kita yang sebenar. Bahagia selalu, mama mencintaimu... :*
-Mama- 010116

Yup. pesta sudah usai, Cimut dan Cilut sudah ga panik lagi.

Selamat datang dua ribu enam belas! Selamat datang dalam hidup kami!


Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink (Error)