Monday, 30 May 2016

Mie Ayam Emak

Untuk bulan ini menu yang wajib dimasak adalah mie ayam! Ok, siapa takut?
Di kantor mulai mencatat yang harus dibeli:
- sawi
- daun bawang
- tauge
- mie
- baso
- kecap asin
- kecap manis
- merica halus
- bawang putih
- kulit pangsit
Garam ga perlu beli, masih banyak di dapur.
Esoknya, pergi ke pasar membeli semua itu.
Sepulang dari pasar, mulai deh mengeksekusi.
"Ka, cuciin ayam, sawi, daun bawang."
Asyiknya punya anak yang selalu suka cita saat diminta membantu!
"Ngapain lagi, Ma?" Tanya Ngka.
"Iris daun bawang, potong daun sawi. Mama mau fillet ayam."
Sibuk-sibuklah fillet daging ayam, lalu memotongnya jadi bentuk dadu.
"Segimana gedenya, Ma?"
"Segini."
Dan tararara, selesai!
Sekarang potong jamur merang sebesar potongan ayam.

Sediakan panci, isi air, didihkan, masukkan tulang belulang si ayam untuk jadi kaldu. Selesai!

Ambil bawang putih, keprek. Prek! Panaskan minyak di wajan untuk menumis bawang keprek. Tumis sampai wangi, masukkan ayam, bolak-balik. Masukkan jamur. Tambahkan kecap manis, kecap asin, garam, gula, merica. Tunggu hingga air ayamnya habis. Yes, selesai!

Kulit pangsit goreng. Lagi malas bikin isinya. Hihi.

Siapkan panci lagi, isi air, untuk merebus mie, baso, toge, dan sawi. Selesai!

Yes, mana mangkok? Taruh kecap asin, merica, di mangkok. Masukkan mie yang sudah direbus, aduk rata. Tambahkan sawi, ayam kecap, daun bawang, baso, dan kulit pangsit goreng. Beri kuah kaldu.

Mari makan.
"Ma, sudah boleh makan?"

Salam kenyang,
Nitaninit Kasapink

Friday, 6 May 2016

Kering Tempe Kacang A la Emak

Kemarin asyik mengiris tempe sebesar batang korek api.
"Mama mau masak apa?"
"Kering tempe kacang, Pink."
"Hahaha, tumben ada namanya. Biasanya kalau masak ga ada namanya." Jawab Pink sambil tertawa.
Lalu dimintanya pisau yang gue pegang, mulailah dia mengiris tempe sebesar yang ada.
Gue menyiapkan bumbu-bumbu.
- bawang putih
- bawang merah
- cabai merah/ rawit merah juga boleh
- ketumbar
- asam jawa
- sereh, ambil bagian putihnya aja
- gula merah
- laos
- salam
- garam
Semua takaran bumbu menggunakan hati, insting seorang emak. Pakai perasaan aja.
Setelah itu mulailah mengulek:
- bawang putih, ketumbar, garam. Sampai halus, ya. Kalau malas ngulek, masukan aja ke blender. Ngeeeeng, halus deh!
Lalu mengiris:
- bawang merah. Pisahkan ya dari bumbu lain. Si bawang merah memang sombong! Eh, bukan gituu. Masukan di mangkok, atau di wadah apa ajalah. Nanti diberi sedikit air dan garam. Remas-remas sebelum digoreng jadi bawang goreng. Hasilnya kriuk!
- cabai diiris serong memanjang.
- sereh diiris tipis
- gula merah disisir. Tapi bukan menggunakan sisir, melainkan dengan pisau. Ya, pisau. Kan sedang acara masak-memasak di dapur emak!
Ok, siap semua!
Panaskan wajan dengan minyak banyak. Goreng tempe yang sudah diiris secukupnya minyak di wajan. Lumayan memakan waktu lama menggoreng tempe sampai kering kriuk. Gue aja menyanyi sampai cape gegara menunggu si tempe kering digoreng. Lakukan sampai irisan tempe terakhir. Usahakan jauhkan dari yang lain. Tempe-tempe kering belum berbumbu ini aja jadi korban keganasan 3 anak gue! Mereka memakannya tanpa peduli belum berbumbu. Hihi!
Tempe selesai digoreng semua, tiriskan.
Waktunya menggoreng kacang! Biasalah kacang tanah digoreng. Sreeeng.
Seharusnya sih pakai teri. Tapi berhubung gue ga beli teri, ya cukup tempe dan kacang aja.
Kalau udah semua digoreng, kurangi minyak di wajan. Mulailah menggoreng bawang merah yang sudah diremas pakai air garam. Keemasan, angkat. Lalu goreng cabai hingga kering. Angkat tiriskan. Selesaiii! Beluuum!
Dengan minyak sedikit, tumis bawang putih halus dan ketumbar halus, laos yang sudah dikeprek, atau malah laos halus, juga daun salam. Wangi, beri air segelas, nasukkan asam, 1 mata asam aja, ya. Lalu masukkan gula merah yang sudah disisir, juga irisan sereh. Tunggu sampai kental. Kalau sudah mengental, masukan tempe, kacang, bawang goreng. Aduk sampai merata.
Tralalala trililili, penantian pun berakhir! Makan kering tempe kacang!
"Ini masakan Mama yang Esa bilang berhasil!" Kata Esa.

Salam Mata Kedip-Kedip,
Nitaninit Kasapink

Thursday, 5 May 2016

Tanggal Merah Untuk Emak

Tanggal di kalender selalu ada yang merah, berarti libur. Tapi seorang emak ga pernah libur. Emak tetaplah emak, yang sibuk di rumah untuk anak-anak.
"Yes, long week end!"
"Sama aja, Mbak. Long week end, yo tetep aja sibuk di rumah." Kata seorang sahabat di kantor.
Gue tercenung mendengar kalimat itu. Ya, sebegitu sibuknya seorang emak! Tanggal di kalender berwarna apa pun, tetap aja sibuk. Selalu ada hal yang harus diselesaikan oleh seorang emak.
Tapi ini long week end! Ga adakah dispensasi untuk seorang emak?
Ada! Yes! Di hari ini gue bersantai. Tugas gue hanya memasak. Beberes, mencuci, berbelanja ke pasar, dan lain-lain, sudah ditangani dengan baik oleh 2 perjaka ganteng. Yes! Dan ini berlaku hingga usai long week end!
Tanggal merah untuk emak, dipersembahkan oleh anak-anak tercinta. Bahagia banget rasanya jadi seorang emak!
Terimakasih Ngka, Esa, Pink.

Salam Bahagia,
Nitaninit Kasapink

Wednesday, 4 May 2016

Error Di Hari Melo-Melo

Pagi ini sesampai di kantor, gue memasang handsfree, mendengarkan lagu. Tiba-tiba melo, melo, melo! Iya, melo gegara mendengarkan lagu. Dahsyat banget ya, sebuah lagu bisa mempengaruhi perasaan.

Dulu gue suka lagu-lagu dari Naff. Sampai sekarang juga masih tetap suka. Tapi dulu gue punya seorang sahabat yang sama-sama suka mendengarkan lagu-lagu Naff. Seorang sahabat yang gue temui di dunia maya. Sebut saja namanya Ngong. Dengannya gue bertukar cerita, juga asyik bicara tentang lagu Naff. Sekarang gue ga mengetahui keberadaannya.

Siang ini gue masih asyik mendengarkan lagu-lagu Naff dari kompi kantor. Dan kenangan persahabatan masa lalu masih saja terbayang. Lagu dan kenangan, benar-benar membuat gue melo semelo-melonya.

Pernah ga merasakan hal yang seperti ini?

Oh ya, untuk Ngong, sahabat kecil gue, semoga lo bahagia selalu, ya.

Salam, Error lagi melo,
Nitaninit Kasapink

Sunday, 1 May 2016

Penampakan

Semalam Esa berlari pulang dari warung.
"Ma, tadi di situ, dekat warung, heboh! Rumah kosong di situ itu, ada penampakan! Esa lihat, orang-orang juga lihat!"
"Di mana?"
"Itu Ma, kan ada tenda pengantin tuh loh!"
"Oh itu."
"Iya, rumah yang dekat rumah oengantin itu, ada penampakan! Bapak-bapak yang sedang duduk lihat semua! Esa kan lewat, lihat juga!"
Gue tenang-tenang aja sih sewaktu Esa bercerita.
Pagi tadi, sepulang dari pasar, Esa menunjukan rumah yang ada penampakan semalam.
"Itu dia, Ma, rumahnya!"
Gue cuma berkomentar,"Oh itu."
Malam ini Esa, Pink, dan gue, sedang asyik menonton tv. Seperti biasa ngobrol ini, itu, inu, wis pokoknya segala macam jadi bahan obrolan. Eh akhirnya topik cerita sampai ke penampakan semalam.
"Esa lihat, loh! Kepala sampai merinding!"
"Ah, udah biasa lihat, ga usah takut," jawab gue.
"Ih, Mama. Takutlah tetep!"
"Sa, cewek apa cowok? Aku juga pernah lihat di situ," kata Pink.
"Cewek."
"Iya, itu memang serem, Sa," jawab Pink.
"Semalam tuh yang punya rumah, Sa," ujar gue.
"Yah Mamaaa, penampakan! Itu rumah kosong! Eh, tadi lampunya nyala, loh!"
"Yang punya rumah yang nyalain, Sa."
"Mamaaa, itu rumah kosong!"
"Itu rumah mau dijual."
"Mamaaa, siapa yang jual?"
"Yang punya."
"Itu rumah udah kosong lama, ya Ma! Udah 10 tahun!"
"Eh, udah lama kosong?"
"Iya, 10 tahun, Mama." Jawab Esa dengan suara geregetan.
"Loh, kalau gitu berarti Mama setiap kali lihat penampakan di rumah itu." Gue menjawab sambil nyengir karena kaget. Ya, gue ga tahu tu rumah kosong selama ini. Setiap kali lewat, selalu ada aktifitas di sana!
"Mamaaaa"
"Iya, Pink." Gue menjawab Pink yang memanggil dengan suara gemetar.
"Hah? Apa? Kenapa?" Pink menjawab.
"Kamu manggil Mama barusan, kenapa?"
"Ga. Ga manggil Mama."
"Sa, dengar ga tadi ada yang manggil Mama?"
Esa bingung, lalu menggelengkan kepala.
"Sa, apa tadi suara tv?" Gue mulai ngeri.
"Ga, tv-nya ga ada suara ngomong mama, gitu."
Gue terdiam. Jadi siapa yang memanggil gue tadi? Seperti suaa Pink, namun bergetar, dan persis di telinga!
Huwaaa, sudahlah!

Salam Minggu Malam,
Nitaninit Kasapink