Tuesday, 18 April 2017

Bahagia Itu Sederhana Dan Terimalah Sebagai Kebahagiaan

Melihatnya bercanda, berlari mengejar Ngka, berjalan bersama Esa ke warung, belajar di ruang tamu sambil mendengarkan lagu-lagu, sibuk bermain dengan kucing-kucing peliharaan, membuatku merasa amat bahagia. Ceria yang terpancar dari wajahnya membuatku benar-benar bersyukur memiliki Pink, Ngka, dan Esa.

Siapa Pink? Pink adalah anak bungsuku, anak perempuan satu-satunya. Apa yang istimewa dari Pink? Seorang perempuan kecil usia belasan dengan tubuh kurus, bukan siswa sekolah reguler, karena Pink seorang homeschooler, dia peserta homeschooling. Hebatnya di mana? Anakku bukan anak hebat, tapi istimewa.

Siapa Ngka, dan Esa? Mereka adalah dua kakak lelaki Pink, yang selalu memberi kasih sayang untuk   Pink, menyemangati Pink, dan mendukungnya dalam segala hal.

Pernah mendengar autoimun? Pink mengidap autoimun. Imun yang ada dalam tubuh Pink, salah mengerjakan job des-nya. Seharusnya imun menyerang penyakit yang masuk ke dalam tubuh, imun yang Pink miliki malah menyerang organ tubuhnya. Ga ada obat untuk autoimun. Jadi autoimun dibawa seumur hidup oleh pengidap. Imunnya pernah menyerang banyak organ di tubuhnya. Selama bertahun-tahun, Pink berada di dalam rumah, hampir ga pernah ke luar rumah, kecuali ke profesor tempatnya berobat saat autoimun menyerang.

Lambungnya pernah bengkak hingga seperti ‘polisi tidur’ di bawah tulang rusuk kirinya. Juga pernah terkena serangan jantung, lumpuh tangan, lumpuh kaki, malah pernah lumpuh total, muntah darah, mimisan, buang air besar darah, kesulitan bernapas. Itu dirasakannya bertahun-tahun. Selama bertahun-tahun minum obat saat imun menyerangnya.

Tapi jangan salah, di rumah kami ga ada yang namanya sedih. Dalam keadaan seperti itu pun, kami tetap bersukacita, bergembira, tertawa, bercanda. Pink? Senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. Dia pun selalu larut dalam canda, tawa, dan bersenandung bersama Ngka, Esa, dan aku. Ngka, dan Esa, selalu membantu Pink, dalam banyak hal tanpa kusuruh, tanpa kuminta. Dan mereka pun membantu Pink agar bisa kembali sehat, dengan cara mengingatkan apakah sudah minum obat, menyemangatinya agar tetap bersemangat dalam kondisinya yang lemah. Canda, dan canda selalu saja terdengar meriah di rumah. Dan memang Pink selalu bersemangat, ga pernah menyerah dengan kondisinya yang lemah.

Sewaktu Pink lumpuh kedua tangannya, dia menyambutku yang baru saja pulang dari kantor, dengan ucapan,”Mama, Mama tahu ga, Pink main laptop pakai apa?” Aku menggeleng, lalu diperagakannya mengetik di laptop menggunakan jari-jari kakinya! Aku terkejut, sekaligus kagum, betapa bersemangatnya anakku! 

”Hebatnya anak mama! Besok belajar menulis pakai kaki, ya?” 

Pink menjawab,”Susah, Ma, kalau nulis pakai kaki.” 

Aku tersenyum, kemudian berujar,”Ga ada yang susah, sayang. Tuhan menciptakan manusia hebat. Ada yang dilahirkan tanpa kaki, tanpa tangan. Mereka bisa.” 

Pink tersenyum, tertawa, manjawab,”Ok, Ma.” Great! 

Kuakui semangat yang dimilikinya amat luarbiasa. Yang mengejutkanku setelah itu adalah Ngka menginstall desktop keyboard di laptop, untuk memudahkan Pink menggunakannya. Luar biasa! Esa mengambilkan minum, memegang gelas, menyodorkan sedotan untuk Pink minum. Luar biasa, luarbiasa! Aku berterimakasih pada Tuhan, anak-anakku adalah anak-anak yang luar biasa.

Saat lumpuh kedua kakinya, aku, Ngka, dan Esa, bergantian mengajaknya berkeliling seputar perumahan, mendorongnya di kursi roda, setiap pagi. Ga ada terlihat wajah sedih padaPink. Senyumnya tetap ada, celotehnya tetap saja ramai. Beberapa pandang kasihan kulihat dari orang-orang yang kami temui di jalan, ada pula yang terlihat sinis mengejek, tapi Pink tenang, santai. Aku ga melihat rasa malu tersirat di wajahnya. Sering bertemu dengan teman-temannya di jalan, dan dia dengan wajah riang membalas sapaan temannya. Ngka, dan Esa, ga pernah mengeluh mendorong kursi roda adiknya untuk berkeliling. 


Dan saat di rumah, Ngka, Esa, bergantian menggendong adiknya ke mana pun dia mau. 

“Aku mau nonton tivi.” 

Digendonglah adiknya ke depan tivi. 

“Aku mau ke kamar mandi.” 

Digendonglah adiknya ke kamar mandi.

Pink pernah lumpuh total. Setiap kali aku menggendongnya ke luar kamar, agar ga jenuh terus menerus berada di kamar. Ngka, dan Esa pun bergantian menggendong adiknya.

Awal mula Pink terkena autoimun ketika Pink baru saja menjadi siswi SMP negeri dekat rumah. Kelas pertama dilaluinya hanya dengan beberapa kali bersekolah. Kelas ke-dua dilaluinya tanpa pernah datang ke sekolah, hanya saat ujian kenaikan kelas saja Pink datang ke sekolah, kuantar, didorong di kursi roda. Hingga akhirnya kenaikan kelas pun tiba. Pink naik ke kelas akhir.

Kondisinya semakin sering diserang imun, semakin melemah, kemudian kuputuskan mengeluarkannya dari sekolah reguler, memulai homeschooling. Sebelumnya kutanyakan dulu padanya, apakah dia setuju dengan rencanaku. Ternyata Pink setuju. Mulai saat itu, Pink menjalani homeschooling. Guru privat datang ke rumah untuk membimbingnya belajar. Selain itu, aku, Ngka, dan Esa juga ikutan membimbingnya dalam pelajaran.

Bukan hal yang aneh ketika sedang belajar dengan guru privat, tiba-tiba Pink tergeletak tak berdaya. Ngka, Esa, sigap menggendong adiknya ke kamar. Karena itulah guru privat pun hanya datang sesuai permintaan Pink. Bisa tiba-tiba pukul 9 malam, Pink merasa sehat, dan saat itulah guru privat dipanggil, mulai belajar. Belajar disesuaikan dengan kondisi kesehatannya. Tapi yang jelas, Pink bersemangat, begitu pula Ngka, dan Esa. Mereka saling menyemangati, saling mendukung.
Waktu bergerak terus, kondisi Pink masih tetap lemah, malah semakin melemah. Ngka, Esa, ga pernah lelah mendukung adik mereka. Semangat ga pernah henti bergelora di jiwa Ngka, Esa, dan Pink. Hingga satu saat Pink bisa berjalan! Semakin membaik, dan membaik! Hingga kondisi Pink membaik dibanding sebelumnya. Ini sungguh luar biasa menurutku. Hal yang ga pernah terpikirkan, ga pernah terbayang di benakku. Ini berkat Ngka, Esa, kedua kakak yang ga pernah berhenti mendukung, menyemangati, dan memberi kasih sayang untuk Pink.

Pink melewatkan ikut Ujian Nasional SMP, lalu ikut di tahun berikutnya, karena setelah mempertimbangkan kondisinya yang baru saja membaik, pastilah amat berat untuknya mengejar begitu banyak pelajaran untuk mengikuti ujian kelulusan. 

Kutanyakan padanya, apakah dia ga keberatan jika ikut ujian nasional tahun depan, jawabannya sungguh luarbiasa, Pink berkeras ingin ikut ujian di tahun kemarin. Luar biasa semangat yang dimilikinya! Pelan-pelan kuberitahu dasar pertimbanganku, dia pun kuajak ikut mempertimbangkannya. Ngka, dan Esa, juga kuajak ikut mempertimbangkan. Kemudian kami berempat sepakat tahun depan Pink ikut ujian nasional, yang berarti di tahun ini Pink akan ikut ujian nasional. Dia pun meminta, setelah lulus, dia ingin bersekolah reguler. 

Tawa canda di rumah tetap bergema di rumah. Kami berempat setiap hari berkumpul, saling tukar cerita, saling tukar informasi, bercanda ga henti, tertawa bersama. Kejadian apa pun yang selama ini terjadi dalam kehidupan kami berempat, ga kami jadikan sebagai hal yang menyedihkan sehingga membuat kebahagiaan menghilang. Kami saling menguatkan, saling mendukung, saling berbagi kasih.


Bahagia itu sederhana, ga perlu menjadi orang yang bermewah-mewah harta. Bahagia itu sederhana, berbahagia menghadapi kejadian yang terjadi dengan senyum, menjalaninya dengan senyum, menikmati dengan senyum, dan mensyukurinya dengan tersenyum pada Tuhan. 

Ga ada hal yang buruk, semua adalah hal terindah dari Tuhan, yakin pasti ada kebahagiaan di sana, pasti ada kebahagiaan di setiap kejadian yang terjadi dalam hidup. Tetap semangat, senyum, percaya bahwa di segala kejadian hidup pasti berisi kebahagiaan. Syaratnya cuma satu, terimalah segala hal yang terjadi sebagai kebahagiaan, maka segala hal itu menjadi kebahagiaan dalam hidup.


Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink




6 comments:

  1. mbak Nita, sungguh bahagia melihat keluarga istimewa ini. salam sayang buat Pink dan kakak kakak ya mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam sayang dari kami berempat, Mbak. Manusia memang diciptakan dan dijadikan istimewa, kan Mbak :)

      Delete
  2. cerita yang membuat saya terharu dan langsung kembali ke ingatan masa lalu yang indah dengan keluarga di kala aku masih kecil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indahnya kenangan masa kecil. Bahagia selalu, amin.

      Delete
  3. Ya.
    Satu dua tiga kali saya pernah membaca di beberapa status Nita, Tentang Pink yang istimewa ini.
    Diperlukan kesabarah dan penyerahan total dari Nita sekeluarga untuk merawat si Bungsu. Namun dari sini kita semua belajar bahwa hal-hal kecil pun bisa membuat hati kita bahagia. Untuk selalu bersyukur

    Sehat Ceria terus ya Pink

    Salam saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Terimakasih banyak, Om, atas doa, dukungan, juga blog walkingnya.

      Salam Penuh Kasih dari kami berempat :)

      Delete