Friday, 14 July 2017

Err Dan Bless, Kasih Di Dunia Berbeda

Suara ombak yang pecah di karang menemaniku, dan membuatku makin masuk ke dalam hening yang menenangkan. Helaian rambut beterbangan, diajak menari oleh angin yang mendesir lembut. Sengatan matahari yang sebelumnya berkuasa melegamkan, tak lagi terasa. Tapi kutahu sinarnya menyilaukan mata orang-orang yang berusaha menatap jauh ke depan, lepas menuju batas pandang laut.

Aku, Err, menjalani waktu di sini, tanpa siapa-siapa. Hanya aku. Masa lalu yang penuh warna, dulu pernah dijalani. Ya, aku hidup di dalam jutaan warna yang sebelumnya tidak kukenal. Hidup bersama seorang lelaki terkasih yang penuh amarah dan kebencian.

Memandang garis laut yang ada di seberang, mengundangku untuk hanyut dalam kisah lama yang dikubur dalam-dalam. Kisah yang tak pernah terlupakan, tapi enggan sekali untuk mengingatnya.

"Bodoh! Kamu memang bodoh!"

Seorang wanita diam di hadapan lelaki yang bersungut-sungut.

Itu aku, Err.! Wanita bodoh yang kerap dimaki. Lelaki itu adalah pasangan yang kukasihi bertahun lamanya. Dan hanya melihatku sebagai wanita bodoh.

"Norak, kampungan! Kenapa  sih kamu ga bisa cantik seperti teman-temanku di kantor?"

Ya, itu aku, Err! Wanita kampungan, norak, yang tak pernah bisa cantik menawan, apalagi di matanya, mata lelaki yang kukasihi. Seumur hidupnya tak pernah melihatku cantik.

"Makan?"

"Aku ga suka masakanmu."

Ya, memang itu aku, Err! Wanita yang tak bisa memasak lezat untuk lelaki yang dikasihinya. Dimuntahkannya semua yang pernah masuk dalam tubuhnya.

"Jangan tidur di sini. Kamu cuma membuat tempat tidur ini sempit!"

Err! Aku, Err, wanita yang memenuhi tempat tidur lelaki yang dihormati. Wanita yang tak pernah punya tempat sedikit pun dalam hidup lelaki yang dikasihi.

Gelombang air laut yang memecah di karang makin menenggelamkanku dalam cerita yang karam. Angin membuka kenangan yang dingin. Ya, kenangan yang dipeti eskan selama hidup.

Aku, Err, wanita yang semasa hidup, belajar mengenal warna satu persatu. Pelan-pelan, diam-diam, tanpa suara, tanpa kata-kata, tanpa cerita. Belajar mengerti makna semua warna yang datang.

Terkadang air mata menitik saat warna menikam mati jantungku. Kadang air mata mengalir deras membasahi seluruh hari tanpa bisa ditahan. Warna itu makin lama semakin kumengerti. Warna yang amat menakutkan! Karena menyeretku melebur dalam caci maki yang penuh kobaran permusuhan. Dan aku cuma diam. Hanya saja jiwaku bersijingkat masuk dalam hening yang bening menenangkan. Selalu begitu. Hidup diisi jutaan warna kelam dan warna penuh kebingungan. Semuanya bercampur aduk di waktu yang berjalan lambat. Dari detik ke detik, lalu ke menit, kemudian terus, dan terus, dan terus. Hingga bertahun lamanya. Kisah mengerak dalam peti es. Kisahku mati sebelum hidup berhenti.

Tapi kubukan wanita yang larut dalam sedih. Akhirnya kupilih menikmati hidupku dengan tawa. Biarkan saja warna-warna masuk dalam kehidupan. Bukankah bagus mengenal dan memahami maknanya dari jalan hidup yang dihadapi? Hidup dimulai di hari ini. Selalu hari ini.

Ya, itu aku, Err. Wanita yang berusaha berjalan sendiri. Hingga....

"Err!"

Teriakan yang kukenal!

"Bless!"

Aku tertawa melihatnya berlari tergesa.

Bless, dia lelaki yang selalu bersamaku di sini. Bukan, dia bukan dari masa lalu. Dia lelaki pemilik sebiji mata, yang berbagi pandang denganku. Dia melihat dari sisi kiri biji mata, dan sisi kanan rongga kosongnya. Sedangkan kumemandang dari sisi kanan biji mata, dan melihat dari sisi kiri rongga kosong. Ya, Bless memiliki sebiji mata kiri, dan aku memiliki sebiji mata kanan.

Kami melihat dari dua sisi yang berbeda. Dan saling mengisi rongga kosong di mata yang kami punya. Bless dan aku, dua pemilik sebiji mata. Satu saat nanti aku akan ceritakan padamu bagaimana kami berbagi pandang.

"Kamu sedang apa tadi, Err?"

"Aku? Hihi, sedang mengingatmu!"

Tawanya membahana. Pantai yang sepi menjadi riuh karena gelaknya.

"Pembohong! Sejak kapan kamu memikirkanku?"

"Hahaha, sejak angin membasahi laut."

"Sejak kapan angin membasahi laut?"

Aku tertawa, tapi tidak menjawab. Mataku menatap laut dalam-dalam.

Hening.

"Bless," panggilku. Tapi tak berjawab.

Kulihat matanya menatap jauh ke depan, seperti aku tadi. Mungkin dia pun sedang menelanjangi masa lalunya sendiri.

Kusentuh ujung jarinya yang dingin, malah amat dingin.

"Bless."

Tetap tak bergerak sedikit pun. Sebiji matanya nanar. Sedangkan rongga kosong sebelah matanya amatlah gelap.

"Bless. Kamu sedang menyelam dalam kisahmu?"

"Ya, Er? Kamu memanggilku?"

"Ah, Bless, kamu melamun."

"Tidak. Aku hanya sedang berusaha mengingat seluruh kisah yang kupunya di masa lalu."

"Lalu? Kamu sudah mengingatnya?" Tanyaku hati-hati.

"Uuh, tidak. Hilang semua seperti mata kosongku." Jawabnya sambil tertawa.

Aku membelai bahunya perlahan.

"Err, aku rasa lebih baik seperti ini saja. Cukup begini saja."

"Maksudmu, Bless?"

"Ya, lebih baik aku tak mengingat masa laluku. Biar saja kosong, seperti mata kosongku. Bukankah aku sudah memiliki sebii mata darimu? Aku ada di hari ini, untuk hari ini."

Kugenggam tangan esnya yang tak pernah hangat. Yup, tangannya sedingin es, malah lebih dari es! Tapi menghangatkan hari  yang kupunya. Lebih hangat dari sinar matahari yang kurasakan, dulu.

"Bless, kalau mata kosongmu diisi sebiji mata oleh yang lain, bagaimana?"

"Err! Kita berbagi mata, berbagi pandang. Berbagi ruang kosong. Berbagi segala hal yang kita punya. Teganya kamu berkata begitu." Kata Bless kesal.

"Hahaha! Biar nanti wajahmu kuseterika, Bless! Kusut kali wajah kau itu!"

Tawa kami pun lebur jadi satu.

"Bless, bagaimana menurutmu tentang laut yang ada di depan kita?"

"Penuh misteri."

"Seperti masa lalumu?"

"Bukan, tapi seperti sebiji mata yang kuterima darimu."

"Kok misteri sih mata dariku?"

"Ya misteri, karena aku tak tahu kenapa kamu merelakan sebiji mata untukku?"

"Karena aku ingin berbagi pandang denganmu."

"Berarti kamu adalah misteri seperti laut yang ada di depan kita."

"Huh, aneh. Kamu aneh, Bless. Kamu teraneh sedunia kita ini."

Bless tertawa.

"Ya, aku memang aneh di dunia kita, dan lebih aneh lagi di dunia yang bukan milik kita."

Tawa kami mengisi pantai yang sebelumnya hanya diisi oleh suara ombak dan angin. Aku bahagia bersamanya. Tapi aku tak tahu apa yang dirasakan olehnya tentangku.

Malam melarut, air laut pasang. Kami diam satu sama lain, tapi saling menggenggam dingin.

"Tahukah kamu, ketika sebuah kasih ditempatkan di singgasana sebuah kisah, hancurlah segala duka yang pernah singgah." Ujarnya sambil memelukku.

Aku diam dalam pelukan kasihnya yang dingin. Kurasa dia pun merasakan hal yang sama, dingin mengalir di dalam pelukku.

Jangan bertanya padaku, kenapa ada kasih di saat seluruh kisah hidup sudah selesai. Tapi coba tanya pada hatimu, apakah di dalam hidupmu yang masih berjalan, masih tersimpan kasih?

Jangan bertanya pada kami, mengapa kasih tumbuh saat hidup sudah selesai dilewati. Bukankah kisah ini hampir sama dengan kisahmu? Hanya bedanya kami sudah lenyap dari pandangmu, sedangkan kami melihatmu dan terus memandangmu dengan sebiji mata yang masing-masing kami miliki, dan menerobos kisahmu dengan serongga mata kosong yang ada pada kami.

Aku, Err. Dia, Bless. Tanpa raga, tapi punya kasih yang menetap bersama kami. Suatu hari nanti kamu akan tahu bagaimana ini bisa terjadi. Nanti, saat kisah hidupmu habis dan berlanjut di sini, di dunia yang berbeda denganmu.

Selamat menikmati hari ini bersama kasih dari kami, Err dan Bless.


Nitaninit Kasapink








4 comments:

  1. Err yang tak pernah terllihat cantik di mata lelaki masa lalunya....
    Jadi terpikir, "kenapa, ya?"
    Berbagi mata dengan Bless, lelaki kini....
    Apik, Nit...

    ReplyDelete
    Replies

    1. Karena ingin berbagi pandang dengan Bless. Lelah memandang dengan dua mata sendiri.
      Maturnuwun, Penn :)

      Delete